Harga Tiket Pesawat Melambung Tinggi, Pemkab Bangka Resah Pariwisata Daerah Lesu

Mahalnya harga tiket penerbangan sejak akhir tahun 2018 lalu membuat Pemerintah Kabupaten Bangka resah terutama berdampak pada kunjungan wisatawan

Harga Tiket Pesawat Melambung Tinggi, Pemkab Bangka Resah Pariwisata Daerah Lesu
bangkapos/nurhayati
Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Asep Setiawan, saat menghadiri pelantikan dan pengukuhan Dewan Pengurus Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Bangka, Selasa (22/1/2019) di Ruang Meeting Hotel Manunggal Sungailiat. 

BANGKAPOS.COM -- Mahalnya harga tiket penerbangan sejak akhir tahun 2018 lalu membuat Pemerintah Kabupaten Bangka resah terutama berdampak pada kunjungan wisatawan ke Kabupaten Bangka yang semakin menurun.

Diakui Kepala Dinas Pariwisata Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Bangka Asep Setiawan, kondisi ini membuat pariwisata daerah semakin lesu.

Berdasarkan hasil rapat koordinasi Gubernur Babel di Kabupaten Belitung beberapa hari lalu juga mengungkapkan dampak harga tiket pesawat yang melambung tinggi ini sangat terasa berdampak terhadap kunjungan wisatawan di kabupaten/kota di Babel.

Namun untuk penurunan kunjungan wisatawan akibat kenaikan harga tiket pesawat di Kabupaten Bangka belum terukur karena harga tiket melambung baru akhir tahun lalu .

Tingginya tarif tiket pesawat ini juga menurut Asep sangat dirasakan oleh para travel agent wisata. Saat ini para travel agent sudah tidak mendapatkan lagi komisi dari penjualan tiket pesawat alias nol komisi.

"Itu berlaku diseluruh Indonesia tidak ada lagi memberi uang komisi kepada travel dari maskapai penerbangan. Kami juga terasa ketika pesan tiket yang untuk travelnya dibayar di luar itu," ungkap Asep saat dikonfirmasi bangkapos.com, Selasa (22/1/2019) usai pelantikan dan pengukuhan Dewan Pengurus Cabang Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kabupaten Bangka di Ruang Pertemuan Hotel Manunggal Sungailiat.

Dikatakannya, dari pemerintah pusat sudah melakukan upaya untuk menurunkan harga tiket pesawat tetapi hanya berlaku untuk tujuan Yogjakarta dan Denpasar Bali.

Sedangkan untuk tujuan Bangka Belitung tidak mendapat penurunan harga tiket maskapai penerbangan.

"Tidak semua daerah, ada apa sebenarnya? Ini harus direspon oleh Pak Tajudin dari Dinas Perhubungan Provinsi. Bagaimana upayanya menanyakan ke pihak maskapai penerbangan. Ini kan sedang dipertanyakan terus bahkan ada penelitian mengapa harga tiket langsung dinaikan begitu tinggi. Apakah persaingan bisnis," tanya Asep.

Disatu sisi Maskapai Penerbangan Garuda dan Sriwijaya yang sudah merger menaikan tarif tiket pesawat, disisi lain Lion dan Citylink meniadakan bagasi dengan bagasi berbayar.

"Kondisi kami yang berkepentingan terhadap pariwisata sangat berpengaruh karena tidak ada tawaran maskapai lain. Ada pilihan, Lion tidak diberikan bagasi 20 kilogram bahkan dihitung," keluh Asep.

Saat bepergian ke luar daerah terpaksa penumpang pesawat, harus membayar bagasi hingga Rp 500.000 sampai Rp 700.000 yang membuat harga tiket semakin mahal.

"Ini menjadi persoalan. Bagi kami pelaku pariwisata sangat miris dan prihatin. Jujur saja daerah yang baru menata, mau membangkit kembali pariwisata tapi daerah Bangka Belitung khususnya tidak termasuk yang diturunkan tarif pesawatnya," sesal Asep.

Untuk itu ia berharap adanya kebijakan dari pemerintah pusat melalui Kementerian Perhubungan Indonesia untuk menstabilkan harga tiket pesawat terbang. (BANGKAPOS/NURHAYATI)

Penulis: nurhayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved