Charles Herrmann Terbukti Membantu Keluarga Indonesia, Kini Bela Keluarga Korban Lion Air

Charles Herrmann Telah Terbukti Membantu Keluarga Indonesia, Kini Siap membela Keluarga Korban Lion Air

Charles Herrmann Terbukti Membantu Keluarga Indonesia, Kini Bela Keluarga Korban Lion Air
Herrmann Law Group
Tim pengacara Herrmann Law Group 

BANGKAPOS.COM - Pengacara penerbangan internasional terkenal Charles Herrmann pada akhir November 2018 datang ke Jakarta untuk menye­lesaikan klaim atas nama Privando Eduardus Putradanto, atas suatu kejadian kecelakaan Ride the Ducks di Seattle, 24 September 2015.

Charles Herrmann telah berhasil mewakili lebih banyak korban kasus kecelakaan udara di Amerika Serikat daripada pengacara lain. Dimulai mewakili 89 korban penembakan Korea Airlines KAL 07 oleh MIG Soviet pada tahun 1983, kemudian ARROW Airlines pada tahun 1985 mewakili 1 (satu) korban, pada tahun 1997 dalam kecelakaan Korea Airlines KE 801di Guam mewakill 57 korban.

Selanjutnya korban ledakan China Autmes Cl 611 tahun 2002 membantu sebanyak 60 keluarga kor­ban, China Air CA 129 pada tahun 2002 sebanyak 92 orang memilih Charles Herrmann mewakili keluarga korban, Asiana Air OZ 214 pada tahun 2013 membantu sebanyak 13 korban pada kecelakaan di San Francisco.

Logo kantor pengacara Herrmann Law Group
Logo kantor pengacara Herrmann Law Group (Herrmann Law Group)

Dana santunan untuk para korban dari Maskapai Penerbangan yang dibantu oleh Charles Herrmann mencakup angka jutaan dollar US$ dan banyak lagi jumlah korban yang dibantu pada berbagai kecelakaan penerbangan dapat dilihat pada website https://hlg.lawyer atau www.hlg.lawyer.

B. Pangestutomi G,S.H,M.Kn (Tomi) dan Kantor Pengacara Danto dan Tomi & Rekan sebagai firma hukum yang ditunjuk sebagai perwakilan resmi Charles Herrmann mengatakan bahwa sebaiknya seluruh keluarga korban mengajukan klaim kepada Boeing pada kasus kecelakaan Lion Air JT610.

Hal ini dilakukan sebagai upaya agar tidak terulang lagi kecerobohan yang dilakukan oleh Boeing yang memakan korban lain seperti orang-orang yang kita sayangi ini.

Pasal 23 Permenhub Nomor 77 Tahun 2011 memberi ruang kepada para keluarga korban untuk mengajukan tuntutan yang lebih besar.

Sedangkan pada Pasal 172 ayat 1 UU Nomor 1 Tahun 2009 menyatakan bahwa besaran ganti rugi harus ditinjau ulang setiap tahun melalui Peraturan Menteri.

Sedangkan klaim pada Boeing diajukan melalui Perundang-undangan di Amerika Serikat sehingga para ahli waris korban Lion Air JT610 tidak perlu mempertimbangkan aspek hukum yang mungkin berlaku di Indonesia karena klaim kepada Boeing tidak berkaitan dengan perundang-undangan di Indonesia.

Hal mendasar yang harus dipertimbangkan oleh para ahli waris adalah memilih dengan cerdas dan bijaksana Pengacara Amerika mana yang layak diberikan kuasa untuk mengajukan klaim kepada Boeing.

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved