Video: Lupus Banyak Diderita Wanita, Begini Pencegahannya

Diungkapkannya, insiden penyakit lupus telah meningkat sekitar 3 kali lipat pada 40 tahun terakhir, karena meningkatnya kualitas diagnosis.

SUNGAILIAT, BANGKA POS -- Lupus Eritematosus Sistemik (LES) atau yang lebih dikenal dengan lupus merupakan penyakit autoimun yang kompleks.

"Etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti namun diduga akibat adanya interaksi yang kompleks dan multifaktorial antara variasi genetik dimana faktor ini berperan penting dalam predisposisi penyakit lupus dan faktor lingkungan," kata dr Daniel Zaputra, dokter umum Rumah Sakit Medika Stannia (RSMS), Kamis (07/02/2019).

Diungkapkannya, insiden penyakit lupus telah meningkat sekitar 3 kali lipat pada 40 tahun terakhir, karena meningkatnya kualitas diagnosis.

"Data prevalensi lupus di Indonesia sampai saat ini belum ada, jumlah penderita lupus di Indonesia menurut Yayasan Lupus Indonesia (YLI) sampai dengan tahun 2005 diperkirakan mencapai 5.000 orang," ungkapnya.

Dilanjutkannya, lupus dapat ditemukan pada seluruh usia, namun paling banyak ditemukan pada usia 16-55 tahun. Umumnya penyakit lupus lebih banyak menyerang wanita dibandingkan laki-laki dengan rasio wanita banding pria adalah 9:1.

"Salah satu faktor lingkungan yang menyebabkan lupus adalah kekurangan vitamin D. Mengingat bahwa kekurangan vitamin D gejala terkait seperti kelelahan sering diamati pada mereka dengan lupus," ujarnya.

Ditambahkannya, lupus mungkin berisiko lebih tinggi terhadap status vitamin D yang rendah sebagai akibat dari fotosensitivitas dan penghindaran sinar matahari yang dihasilkan bersama dengan penggunaan kronis obat yang diresepkan dalam pengelolaan lupus yang mengganggu metabolisme vitamin D.

Namun, penelitian belum menetapkan apakah vitamin D rendah merupakan faktor yang berkontribusi terhadap pengembangan lupus atau merupakan konsekuensi dari penyakit hubungan antara status vitamin D dan hubungan antara vitamin D dan status aktivitas penyakit telah diperiksa meskipun dengan hasil yang bertentangan. Kerusakan dan aktivitas penyakit pada lupus dinilai menggunakan berbagai metode penilaian yang divalidasi.

"The Systemic Lupus International Collaborating Clinician atau American College for Rheumatology adalah metode untuk menilai kerusakan pada pLupus asien lupus dan the systemic lupus erythematosus disease activity index (SLEDAI), systemic lupus activity measure (SLAM), ECLAM dan the British Isles Lupus Assessment Group digunakan untuk menilai aktivitas penyakit," jelasnya.

Mayoritas penelitian yang dilakukan hingga saat ini telah menggunakan SLEDAI dalam penilaian aktivitas penyakit mereka. Hubungan vitamin D dan aktivitas penyakit pada lupus dari literatur disebutkan bahwa sembilan dari lima belas studi mengenai konsentrasi vitamin D yang lebih tinggi dikaitkan dengan indeks aktivitas penyakit yang lebih rendah.

"Beberapa penyakit lain erat kaitannya dengan status Vitamin D pada tubuh manusia, yaitu: osteoporosis, kanker, penyakit kardiovaskular, infeksi, penyakit autoimun termasuk Lupus Eritematosus Sistemik, dan rasa sering lelah," ungkapnya.

Semakin banyak penelitian menunjukkan bahwa vitamin D memainkan peran dalam pencegahan dan pengobatan diabetes , hipertensi, intoleransi glukosa , multiple sclerosis,osteoporosis dan kondisi medis lainnya.

"Manusia mendapatkan vitamin D melalui asupan makanan dan paparan sinar matahari, dan suplemen yang berisi Vitamin D. Sangat sedikit makanan yang secara alami mengandung vitamin D," katanya.

Ditambahkannya, beberapa contoh bahan makanan yang mengandung vitamin D adalah ikan seperti salmon, makarel, dan sarden dan kuning telur, sejumlah kecil makanan diperkaya dengan vitamin D seperti susu, jus jeruk dan beberapa roti dan sereal.

"Radiasi ultraviolet (UV) B dengan panjang gelombang 290-320 nanometer yang banyak didapatkan pada pagi jam 10 sampai dengan jam 3 sore yang terpapar pada kulit akan berpengaruh terhadap status vitamin D pada tubuh manusia," ujarnya.
Dianjurkannya, mulai dari sekarang untuk tetap hidup sehat dan terhindar dari kekurangan Vitamin D dengan tetap berusaha agar tetap terpapar sinar matahari, makan makanan yang bergizi dan mengandung vitamin D. 

Penulis: dedypurwadi
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved