Noim Baasyir Bebas Murni, Kalapas Ungkap Kebiasaannya Selama di Dalam Lapas

Noim Baasyir merupakan satu dari tiga narapidana kasus terorisme yang mendekam 5 tahun 9 bulan, di Lapas Klas IIB Tulungagung.

Noim Baasyir Bebas Murni, Kalapas Ungkap Kebiasaannya Selama di Dalam Lapas
TRIBUNMADURA/DAVID YOHANES
Salah satu narapidana terorisme alias Napiter di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir bebas murni, Selasa (19/2/2019) sekitar pukul 08.30 WIB. 

BANGKAPOS.COM--Salah satu narapidana terorisme alias Napiter di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir bebas murni, Selasa (19/2/2019) sekitar pukul 08.30 WIB.

Noim Baasyir merupakan satu dari tiga narapidana kasus terorisme yang mendekam 5 tahun 9 bulan, di Lapas Klas IIB Tulungagung.

Selama mendekam di Lapas Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir adik Ustaz Abu Bakar Baasyir ini ternyata sering menolak hormat ke bendera merah putih.

//

Hal itu pun terjadi ketika pihak Lapas melaksanakan upacara peringatan kemerdekaan ke-72 RI di lingkungan Lapas Klas IIB Tulungagung.

 

Dilansir Antara, tiga narapidana kasus terorisme yang mendekam di sel tahanan Lapas Klas IIB Tulungagung diketahui menolak mengikuti upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI.

//

Mereka termasuk Noim Baasyir juga menolak memberikan hormat kepada bendera merah putih.

Kepala Lapas Klas IIB Tulungagung Erry Taruna, mengaku sudah membuka semua pintu kamar tahanan mereka.

Kedua Menantu SBY Setia Menemani Ibu Ani Jalani Pengobatan di Singapura

Bahkan, mengajak ketiga napi ikut seremoni upacara bendera untuk memperingati Kemerdekaan ke-72 RI.

Namun, mereka hanya ingin berada di sel.

 

"Kami belum bisa tarik secara menyeluruh untuk mengikuti kegiatan ini, apalagi salah satunya baru pindahan warga binaan pindahan dari Tuban,"  kata Erry Taruna.

"Jadi belum bisa wajib ikut. Mau ikut silakan, tidak ikut tidak apa-apa, terserah mereka," jelasnya kembali.

Erry mengatakan, tim sipir telah berupaya mendekati mereka dengan baik-baik.

Termasuk dengan membuka pintu sel tahanan menjelang upacara peringatan Kemerdekaan ke-72 RI pada Kamis pagi sekitar pukul 07.00 WIB lalu.

Namun ketiga napi bersikeras bertahan di dalam sel.

"Mereka mengakunya ya belum siap," ujarnya.

Jangankan mengikuti upacara dan menghormat bendera merah putih bersama warga binaan lain.

Antasari Azhar Pertanyakan Sedikitnya Peserta yang Hadir Saat Pelantikan Kader Garda Jokowi

Ketiga narapidana kasus terorisme itu bahkan tak bersedia mengikuti program deradikalisasi yang ditawarkan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

Ketiga napi tersebut bernama edi Fahrizal, Ridwan Sungkar, dan Noim Baasyir.

Informasi yang beredar, ketiganya tidak mau ikut program deradikalisasi karena menghawatirkan keselamatan anggota keluarga mereka.

"Adaptasi dengan warga binaan lain tidak masalah, komunikasi mereka juga baik. Mereka justru mudah diajak bicara asal di tempat terbuka, kalau tertutup malah tidak mau karena tidak ingin ada kecurigaan dari napi lain ataupun petugas LP," kata Erry.

Upacara bendera di LP ini secara umum berjalan lancar dan hanya ketiga napi terorisme itu yang tidak ikut, dari total 290 narapidana di LP ini.

Salah satu narapidana terorisme alias Napiter di Lapas Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir bebas murni, Selasa (19/2/2019) sekitar pukul 08.30 WIB.

Dilansir TribunMadura, Noim Baasyir langsung dijemput keluarganya dari Solo, Jawa Tengah.

Dengan penampilan rambut gondrong dan jenggot panjang dicat merah, sosok Noeim sempat mengundang perhatian pengunjung Lapas Klas IIB Tulungagung.

Mengenakan kaus abu-abu dan peci hitam, Noim Baasyir sempat menunjukkan surat pembebasannya.

Namun tidak banyak kata keluar dari adik Abu Bakar Baasyir ini.

"Saya warga Indonesia," ucapnya pendek.

Saat ditanya rencananya membuat pondok pesantren setelah bebas, Noim Baasyir hanya menjawab, "Insyaallah."

Kepala Lapas Kelas IIB Tulungagung, Erry Taruna mengatakan, Noim Baasyir divonis penjara 6 tahun penjara.

Yang bersangkutan tak pernah mendapatkan remisi, dikarenakan tidak pernah menjalani deradikalisasi.

Namun, Noim Baasyir mendapat remisi dasawarsa selama tiga bulan.

"Jadi total dia menjalani 5 tahun 9 bulan," terang Erry.

Sempat Tak Mau Salat Jumat dan Dibina

Lanjut Erry, selama di Lapas Tulungagung Noim Baasyir bersikap baik.

Padahal di Lapas sebelumnya, Noim Baasyir terlibat keributan.

Sosialisasi dengan napi lain juga bagus, dan tidak menutup diri.

Namun Noim Baasyir tetap menolak program pembinaan maupun deradikalisasi.

"Misalnya dia tidak mau kegiatan pembinaan rohani yang kami adakan. Dia juga tidak mau salat Jumat," sambung Erry.

Salah satu narapidana terorisme alias Napiter di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir bebas murni, Selasa (19/2/2019) sekitar pukul 08.30 WIB.
Salah satu narapidana terorisme alias Napiter di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIB Tulungagung, Noim Baasyir bebas murni, Selasa (19/2/2019) sekitar pukul 08.30 WIB. (TRIBUNMADURA/DAVID YOHANES)

Selama ini proses deredikalisasi tidak berjalan efektif.

Sebab Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) hanya datang dua kali dalam satu tahun.

Sebelumnya seorang napi terorisme lainnya, Dedi Fakrizal dipindah ke Nusakambangan.

Sehingga saat ini masih ada satu napi terorisme di Tulungagung, yaitu Ridwan Sungkar.

Ridwan rencananya bebas sekitar 23 Maret 2019 mendatang.

Editor: khamelia
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved