Pengacara Terdakwa Korupsi Pipa Merawang Sebut Keterangan Saksi Mendukung Kliennya

Saksi ahli dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), bernama Enuar dihadirkan dalam sidang tersebut.

Pengacara Terdakwa Korupsi Pipa Merawang Sebut Keterangan Saksi Mendukung Kliennya
(Ryan Augusta Prakasa)
H Ghandi Arius SH MH 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Penasihat hukum terdakwa Abdul Roni & Mulyanto, H Ghandi Arius SH MH menganggap keterangan saksi ahli mendukung kliennya pada sidang lanjutan kasus dugaan korupsi proyek rehabilitasi pipa transmisi PDAM Merawang digelar di Pengadilan Negeri Tipikor Kelas IB Pangkalpinang, Rabu (20/2/2019).

Saksi ahli dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), bernama Enuar dihadirkan dalam sidang tersebut.

Ghandi meyakini jika segala keterangan oleh saksi ahli dari LKPP (Enuar) saat persidangan lanjutan kasus korupsi yang dipimpin oleh ketua majelis hakim, Sri Endang Amperawati Ningsih SH MH beserta dua anggota majelis hakim lainnya, Corry Oktarina SH MH & Erizal SH MH sesungguhnya repleksi atas tindakan yang dilakukan para kliennya tersebut.

"Jadi keterangan saksi ahli itu sangat-sangat mendukung klien kita. Jadi kalau pun terjadi kesalahan tapi tidak terlalu fatal namun sifatnya kesalahan administrasi saja," yakinnya.

Sidang lanjutan perkara kasus dugaan korupsi proyek rehab pipa transmisi PDAM Merawang kali ini tak saja menghadirkan saksi ahli dari LKPP namun juga menghadirkan seorang saksi ahli lainnya yakni Ine dari intansi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.

Sidang sebelumnya digelar sejak pukul 09.00 WIB hingga berakhir sekitar pukul 15.00 WIB.

Sekedar diketahui, dalam perkara tipikor ini pihak Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel) menetapkan sedikitnya 4 orang tersangka, masing-masing Abdul Roni, Mulyanto (keduanya merupakan ASN), M Rifani alias Pepen dan Judas Swara.

Terkait proyek ini berdasarkan hasil audit pihak BPK diduga telah terjadi penyimpangan keuangan negara hingga mencapai senilai Rp 2,9 miliar meski sebelumnya para terdakwa sempat mengembalikan uang dugaan kerugian negara tersebut ke pihak Kejati Babel senilai Rp 1,9 miliar, namun perkara korupsi ini tetap berlanjut ke persidangan.

(BANGKA POS/Ryan A Prakasa)

Penulis: ryan augusta
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved