Baca Pledoi, Terdakwa Korupsi Ini Menangis di Depan Majelis Hakim

Namun tak lama kemudian terdengar suara Bily seolah-olah seperti terisak, tak dinyana ternyata terdakwa yang

Baca Pledoi, Terdakwa Korupsi Ini Menangis di Depan Majelis Hakim
Bangkapos/Ryan Agusta
Para tersangka korupsi proyek pengadaan laptop di intansi DPPKAD Kabupaten Belitung Timur digiring petugas usai menjalani persidangan di gedung Pengadilan Negeri Kelas IB Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM,BANGKA - Dengan suara nada datar Bily Kondoli terlihat berhati-hati membaca secara perlahan berkas pledoi (pembelaan) di tangannya ketika dirinya duduk di kursi pesakitan atau di hadapan majelis hakim yang menyidangnya, Kamis (21/2/2019).

Namun tak lama kemudian terdengar suara Bily seolah-olah seperti terisak, tak dinyana ternyata terdakwa yang terjerat dalam perkara tindak pidana korupsi (tipikor) proyek pengadaan komputer jenis laptop sebanyak 200 unit tahun anggaran 2015 lalu di intansi Dinas Pendapatan, Pengelolaan, Keuangan & Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Belitung Timur (Beltim) senilai Rp 2 miliar ini menangis di hadapan majelis hakim.

"Berkas dakwaan yang dibacakan oleh jaksa penuntut umum (JPU -- red) itu tidaklah benar," kata Bily dengan suara terisak di sela-sela ia membacakan berkas pembelaan (pledoi) terhadap dirinya sebelumnya didakwa sebagai terdakwa dalam perkara tipikor pengadaan laptop di intansi DPPKAD Beltim.

Meski Bily seolah-olah mencoba menyakini para majelis hakim yang menyidang perkaranya itu namun ketua Pengadilan Negeri Kelas 1B Pangkalpinang, I Nyoman Wiguna SH MH selaku pimpinan sidang beserta dua orang anggota majelis hakim lainnya serta seorang jaksa penuntut umum (JPU) asal Kejari Beltim, Ahmad Muzayin SH
tetap mendengarkan pembacaan pledoi tersangka (Bily Kondoli) saat itu.

Begitu pula pengakuan dua tersangka lainnya yakni Yudi Budi Artomo & Soni Prayugo di hadapan majelis hakim yang menyidang mereka saat itu.

Kedua tersangka ini pun membantah jika kegiatan yang mereka lakukan sesungguhnya sudah sesuai prosedural.

Sekedar diketahui terkait perkara tipikor ini berawal dari pengungkapan yang dilakukan oleh pihak Pidsus Kejaksaan Negeri (Kejari) Beltim.

Dari hasil pengusutan yang dilakukan pihak Kejari Beltim diduga kegiatan proyek pengadaan laptop sebanyak 200 unit tahun anggaran 2015 telah terjadi penyimpangan keuangan negara atau diduga pengadaan barang berupa ratusan unit laptop tersebut tidak sesuai spesifikasi, akibatnya negara dirugikan sebesar Rp 359.323.000 atau senilai Rp 359 juta lebih.

(BANGKA POS/Ryan Augusta Prakasa)

Penulis: ryan augusta
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved