Capaian Pemberian ASI Eksklusif di Babel Kurang dari 50 Persen

Di Babel pencapaian ibu-ibu yang melaksanakan ASI eksklusif masih kurang dari 50 persen, ada banyak penyebabnya

Capaian Pemberian ASI Eksklusif di Babel Kurang dari 50 Persen
Bangka Pos/Krisyanidayati
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Babel , Susanti. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kurang dari 50 persen ibu-ibu yang melahirkan di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tidak memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif bagi anak-anak yang dilahirkan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Kependudukan Pencatatan Sipil dan Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana (DP3ACSKB) Babel , Susanti menyebutkan kesadaran orang tua untuk memberikan ASI eksklusif masih minim.

Padahal pemberian ASI eksklusif dapat memberikan banyak manfaat untuk tumbuh kembang anak.

"Di Babel pencapaian ibu-ibu yang melaksanakan ASI eksklusif masih kurang dari 50 persen, ada banyak penyebabnya. Makanya hari ini kita sosialisasikan pentingnya ASI eksklusif," kata Susanti sosialisasi ASI Eksklusif, Gizi Seimbang, dan Pembatasan Gula, Garam, dan Lemak (GGL) bagi keluarga sebagai pelopor dan pelapor, di Hotel Novotel, Kamis (21/2/2019).

ASI eksklusif diberikan kepada bayi hingga berusia 6 bulan tanpa menggunakan Susu Formula.

Susanti menjelaskan, ASI memberikan manfaat yang sangat banyak, menguatkan imunitas tubuh anak, meningkatkan hubungan emosional orang tua dan anak, dari sisi ekonomi lebih hemat asalkan asupan gizi ibu menyusui terpenuhi.

"Keenggan memberikan ASI eksklusif ini banyak pada ibu-ibu muda dan wanita bekerja, ada banyak penyebabnya misalnya ada yang karena enggak tau, males dan enggak mau ribet, gangguan kesehatan, dan ada juga karena ingin merawat tubuh," katanya.

Dikatakannya, saat ini banyak ibu-ibu yang memberikan ASI hingga tiga bulan, setelah itu memutuskan untuk memberikan nutrisi anak dengan susu formula.

"Kadang ada juga ibu yang enggak mau memberikan ASI karena enggak didukung lingkungan. Misalnya, di tempat kerja itu enggak ruang laktasi untuk mereka memerah ASI. Padahal ini harus tersedia," kata Susanti.

Ia tak memungkiri, saat ini belum semua fasilitas umum memiliki ruang menyusui yang aman dan nyaman. Oleh karena itu, pihkanya berupaya untuk mendorong adanya regulasi ini.

"Di beberapa perkantoran dan perusahaan sudah ada. Tapi tempat umum, seperti terminal, pelabuhan, pasar tradisional ini belum ini. Ini yang harus didukung dengan adanya regulasi," katanya.

Pihaknya, sedang berupaya agar mendapatkan bantuan sarana dan prasarana untuk ruangan menyusui dan memerah ASI agar tersedia di fasilitas publik.

"Kita harus perkuat ini dengan regulasi, jadi mau tidak mau perusahaan atau layanan fasilitas publik memiliki ruangan ini. Sekarang kita berupaya mendapatkan sarana dan prasarana dari kementerian agar nanti di Terminal, pasar tradisional dan pelabuhan ada ruangan ini minimal ada freezer untuk menyimpan ASI, kursi sofa, ruang yang berventilasi atau ASI," katanya.

Pemberian ASI eksklusif juga dapat mengurangi potensi stunting dan kekurangan gizi.

"Kita mengajak ibu-ibu untuk memberikan ASI, kalaupun bekerja sekarang ini kan sudah canggih banyak alatnya ada pompa ASI, ASI bisa dibekukan. Berikan kekebalan tubuh alami melalui ASI bagi anak-anak kita," ajaknya. (BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

 

Penulis: krisyanidayati
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved