BangkaPosiana

Gadis Desa Cambai Ini Rescuer Termuda di Kantor SAR Pangkalpinang

Setamat dari pendidikan menengah kejuruan (SMK), dirinya coba-coba untuk ikut tes penerimaan honorer sebagai petugas penyelamat

Gadis Desa Cambai Ini Rescuer Termuda di Kantor SAR Pangkalpinang
Bangkapos/irakurniati
Detri Julianti, rescue termuda di kantor SAR Pangkalpinang 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Detri Julianti, gadis berparas cantik ini menjadi rescue termuda di kantor SAR Pangkalpinang. Diusianya yang saat ini 20 tahun, Detri telah bergabung sebagai petugas penyelamat hampir dua tahun.

Perempuan berhijab ini menuturkan, setamat dari pendidikan menengah kejuruan (SMK), dirinya coba-coba untuk ikut tes penerimaan honorer sebagai petugas penyelamat.

Memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda dengan bidang kerja di SAR, Detri harus bersaing dengan ribuan orang pada saat itu.

Berbekal kemampuan fisik maupun materi yang sudah dilatihnya sebelum tes, akhirnya Detri mampu diterima menjadi satu di antara rescuer.

Berselang beberapa waktu, dibukanya pengumuman resmi terkait penerimaan CPNS Basarnas, ia pun mencoba peruntungan untuk mengikuti serangkaian tes tersebut.

Bersaing dengan 500 kandidat lainnya, ternyata nasib baik tetap berpihak kepada perempuan asal Desa Cambai, Kabupaten Bangka tengah ini.

"Kesulitan nya pas saat tes itu, dibidang tes jasmani. Sempat pesimis lantaran yang ikut kebanyakan atlet, tentunya mereka sudah terlatih. Namun saya coba lagi untuk bangkit semangat dan yakin berserah diri dengan usaha yang dijalani ini," tutur Detri, usai acara HUT ke 47 Basarnas di Kantor SAR Pangkalpinang, Kamis (28/2/2019).

Diawal karirnya sebagai petugas penyelamat, Detri sempat mengeluh lantaran pekerjaan nya dibidang pertolongan dan penyelamatan bencana maupun kecelakaan begitu rumit dan banyak tantangan. Mulai dari sering ditelpon pada waktu malam hari bila ada laporan bencana, hingga penemuan-penemuan mayat dengan kondisi sudah tidak lagi utuh.

"Awalnya iya (ngeluh). Apalagi saya perempuan kadang jam piket malam 24 jam itu. Tapi setelah dijalani sudah terbiasa. Sudah enjoy dengan pekerjaan ini. Yang susahnya itu ketika siklus bulanan perempuan saja, sering sakit perut. Jadi kalau ada tugas-tugas suka repot," pungkasnya.

Mengenai dukungan orangtua, dia mengaku, mendapat dorongan yang kuat dari keluarga. Meski berkecimpung di lapangan dengan tugas sebagai penyelamat, orangtuanya selalu memberikan dorongan dan dukungan setiap langkah yang dia kerjakan.

Meski sempat kaget diawal pekerjaan Detri yang kerap pulang malam-pagi, bahkan ditelpon secara mendadak bila ada laporan bencana. Namun kini kedua orangtuanya paham mengenai risiko dan tanggungjawab yang diemban putrinya.

"Dulu mereka kaget karena tidak terbiasa lihat saya jarang di rumah, kerjanya di lapangan. Tapi sekarang mungkin sudah tau memang ini pekerjaan nya, pekerjaan yang mulia untuk membantu keselamatan manusia." katanya.

Pada perayaan HUT Ke 47 Basarnas, dia berharap institusinya itu dapat semakin responsif terhadap laporan masyarakat dan dikenal di berbagai penjuru. Detri pun berharap, agar dirinya selalu kuat di setiap tantangan lapangan yang menantinya di depan nanti.

"Semoga dan harus selalu kuat di lapangan," harapnya.

(Bangkapos/Ira Kurniati)

Penulis: Ira Kurniati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved