Berita Pangkalpinang

Ini Analisa Dinas PUPR Babel Soal Banjir di Pangkalpinang

Beberapa titik banjir diantaranya di kampung Bintang, Air Itam, Kolong Kepuh, kawasan kolong bravo dan Parit enam, dan kawasan SPBU Kampung Dul.

Ini Analisa Dinas PUPR Babel Soal Banjir di Pangkalpinang
Dokumen Bangka Pos
Banjir yang melanda Kelurahan Kampung Bintang Pangkalpinang. (28/02/2019) 

BANGKAPOS.COM - Sejumlah kawasan di Pangkalpinang mengalami genangan hingga banjir pasca curah hujan yang tinggi kemarin. Beberapa titik yang banjir diantaranya ialah di kampung Bintang, Air Itam, Kolong Kepuh dan sekitarnya, kawasan kolong bravo dan Parit enam, dan kawasan dekat SPBU Kampung Dul.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Noviar Ishak menjelaskan banjir yang terjadi di kawasan SPBU Kampung Dul lantaran ada aktivitas penambangan di atasnya di kawasan kolong beguruh ditambah lagi dengan cek dam yang rusak.

Tak hanya itu, tertutupnya saluran air akibat pembangunan SPBU juga turut memperparah lalu lintas air.

"Tolong juga perhatian SPBU Kampung Dul mereka tutup jalannya, kita pernah minta mereka enggak mau, tapi kalau mereka enggak mau juga kita akan paksa untuk dilebarkan di depan dia, tapi tanggungan pintu. Beban dari SPBU belakang SPBU sehingga air langsung ke jalan, kemudian dari atas dari arah jabrik lama saluran buntu dan trotoarnya rusak," jelas Noviar, Jum'at (1/3/2019).

Tahun ini, pihaknya akan memperbaik trotoar dan mengimbau SPBU untuk memberikan ruang. Tak hanya itu, di kawasan itu banyak bangunan yang dibangun diata saluran yang mengganggu aliran air

"Di Pangkalpinang ini banyak yang membangun bangunan diatas saluran, enggak ada ceritanya bangunan dibangunan diatas saluran, ini sangat menganggu aliran. Usaha kita perbaiki saluran di dekat SPBU," jelasnya.

Banjir yang terjadi di kampung dul berdampak juga ke kawasan kolong bravo yang terus ke arah kolong kepoh. Dari kolong kepoh terbagi menjadi dua aliran satu ke arah parit 6 dan satu ke arah bandara.

"Dikolong bravo masih banyak yang nambang, dari bravo ke arah bandara karena kiri kanan kolong, jalan itu memotong kolong. BLUD yang didekat bandara itu kan banyak orang nambang. Sebenarnya saluran di bandara cukup besar tapi hilirnya sempit," katanya.

Dari bandara air kembali meluap ke kawasan jalan pulau bangka yang terus mengalir hingga ke air itam.

"Banyak dimensi saluran yang berubah karena terganggu dengan pembanguna masyarakat baik pemukiman maupun bangunan lain. Saluran berkurang, daerah tangkapan berkurang, penampang basah saluran juga berkurang," katanya.

Penampang saluran basah berkurang karena sedimentasi, pembangunan diatas saluran, ada kotoran. Daerah resapan dibangun dan saluran air jadi tertimbun tanpa ada bak kontrol.

"Banyak saluran berubah fungsi karena sebagian orang enggak bijak terhadap lingkungan dan membangun juga enggak bijak, akibatnya banyak orang yang rugi. Ini yang perlu pengawasan teman-teman kabupaten/kota, pengawasannya," sebutnya.

Menurutnya, idealnya setiap saluran ada jalan inspeksi, sehingga ini mempermudah untuk pengawasan saluran air, tapi tak dipungkirinya berkembangnya penduduk merambah kawasan-kawasan resapan air.

"Kita sudah paparkan, kota silahkan bikin DED, untuk pembangunan provinsi bantu ini, kita bisa minta bantu ke pusat. Kami tidak bisa langsung menghilangkan banjir, yang bisa kami lakukan mengurangi banjir, menunda terjadi banjir dan mempercepat penurunan air, karena ini perlu peran semua pihak," katanya.

"Kita bisa melakukan perbaikan saluran, normalisasi, meninggikan badan jalan, drainase, tapi ini saja tidak cukup. Butuh kerjasama semua pihak," katanya. (BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

Penulis: krisyanidayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved