Berita Sungailiat

Sembilan Remaja Punk Diciduk Satpol PP Kabupaten Bangka saat Mengamen

Sembilan remaja usia 14 hingga 17 tahun yang terdiri dari delapan laki-laki dan satu perempuan

Sembilan Remaja Punk Diciduk Satpol PP Kabupaten Bangka saat Mengamen
ist/satpol pp
Tim Satpol PP Kabupaten Bangka saat mengamankan sembilan anak punk saat mengamen, Sabtu (9/3/2019) di Simpang Perahu Sungailiat. 

BANGKAPOS.COM --Sembilan remaja punk kembali diciduk Tim Satpol PP Kabupaten Bangka saat mengamen di Simpang Perahu Sungailiat, Sabtu (9/3/2019) siang kemarin.

Razia ini dipimpin Kepala Regu Satpol PP Kabupaten Bangka, Sigit dan proses penyitaan gitar remaja punk tersebut di lakukan oleh PPNS Hery Hermanto.

Sembilan remaja usia 14 hingga 17 tahun yang terdiri dari delapan laki-laki dan satu perempuan ini juga mengamen dan mengelandang di Taman Sari Sungailiat. Mereka berasal dari Pangkalpinang dan Kabupaten Bangka Tengah dimana baru dua hari berada di Sungailiat.

"Mereka ini dari luar Kabupaten Bangka. Kayaknya baru dua malam ini ngamen dan menggelandang di Taman Sari," ungkap Kasatpol PP Kabupaten Bangka M Dalyan Amrie diwakili Kabid Penegakan Perundang-Undangan Satpol PP Kabupaten Bangka Achmad Suherman, Minggu (20/3/2019) kepada bangkapos.com.

Berdasarkan Perda No 6 Tahun 2005 tentang ketertiban umum, Kabupaten Bangka merupakan daerah bebas pengemis, gelandangan dan pengamen sehingga pihaknya dari Satpol PP langsung mengamankan jika ada pengemis, gelandangan dan pengamen yang beroperasi di Kabupaten Bangka.

Mereka ini dinilai melanggar peraturan daerah tersebut dan bisa teramcam pidana penjara tiga bulan atau denda sebesar Rp 1,5 juta.

Sembilan remaja punk tersebut diamankan di Kantor Pol PP Kabupaten Bangka dan di buat perjanjian tidak mengulangi lagi perbuatan mereka mengamen di wilayah Kabupaten Bangka.

"Saat ini kami amankan gitar," kata Suherman.

Tim Satpol PP Kabupaten Bangka saat mengamankan sembilan anak punk saar pengamen, Sabtu (9/3/2019) di Simpang Perahu Sungailiat.
Tim Satpol PP Kabupaten Bangka saat mengamankan sembilan anak punk saar pengamen, Sabtu (9/3/2019) di Simpang Perahu Sungailiat. (st/satpol pp)

Dia menilai para remaja tersebut terpengaruh dengan budaya-budaya luar anak-anak punk yang ingin kebebasan. Dia berharap budaya-budaya luar yang tidak sesuai dengan kultur budaya dan agama di Bangka jangan sampai merusak anak-anak.

"Mereka ini menggelandang. Tidur dan makan sebasing. Kadang mengais sampah dan mengamen, minta-minta. Jelas ini dilarang secara agama dan peraturan," sesal Suherman prihatin.

Apalagi mereka ini usia produktif sehingga sangat disayangkan jika putus sekolah. "Kalau tidak bisa sekolah formal. Silahkan sekolah non formal seperti paket A, B dan C," saran Mantan Kepala Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Sungailiat ini.

Menurut Suherman, remaja seumur mereka tersebut rentan terkena pengaruh anak punk yang ingin bebas.
Terlebih sangat disayang apalagi ada anak perempuan yang juga ikut anak-anak punk ini.

"Jadi kita sebagai orang tua harus super aktif mengawasi pergaulan anak-anak kita .

Namun sayangnya Pemkab Bangka tidak ada tempat untuk penampungan anak-anak tersebut.

"Mereka ini kadang bukan anak kurang mampu, tetapi pergaulan membuat mereka ikut arus budaya luar. Padahal lalau sekolah SD dan SMP gratis. Ya lebih ke pergaulan bebas. Bayangkan ada cewek 1 lainnya cowok. Kami ini tidak tahu permasalahan mereka mengapa orang tuanya tidak mencari anak-anak mereka ini.
Hal ini menjadi tanggung jawab kita bersamalah, orang tua, pemerintah serta masyarakat harus peduli," harap Suherman. (BANGKAPOS.COM/NURHAYATI)

Penulis: nurhayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved