Berita Pangkalpinang

Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang: Ekspor Komoditi Perkebunan Babel Rp 771 Miliar

Komoditas pertanian Babel yang telah dieskpor diantaranya ialah lada, karet, dan sawit dengan nilai ekonomis Rp 771,8 miliar.

Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang: Ekspor Komoditi Perkebunan Babel Rp 771 Miliar
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, Saifuddin Zuhri. 

BANGKAPOS.COM - Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang sepanjang 2018 telah menerbitkan 325 sertifikat kesehatan atau Phytosanitary Certificate komoditas unggulan pertanian di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Komoditas pertanian Babel yang telah dieskpor diantaranya ialah lada, karet, dan sawit dengan nilai ekonomis Rp 771,8 miliar.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas II Pangkalpinang, Saifuddin Zuhri memaparkan untuk ekspor sawit dan turunannya dari bungkil sawit (palm expeller), minyak cair (palm olein) dan minyak beku sawit (palm stearin) volume ekspor 67.032 ton dengan nilai ekonomis Rp 268,1 miliar dengan tujuan China dan Vietnam.

"Ekspor sawit tahun 2018 mengalami penurunan 28 persen dibandingkan tahun 2016-2017, hal ini karena diberlakukan tarif bea masuk impor oleh negara yang tergabung dalam Uni Eropa," katanya, saat pelepasan 780 ton ekspor Karet dan Lada di PT fajar Berseri, Jum'at (15/3/2019).

Sedangkan untuk ekspor karet mencapai 19.316 ton dengan frekuensi 97 kali, dengan nilai ekonomis berkisar antara 347,7 miliar. China dan Pakistan menjadi negara tujuan ekspor karet. Jika dibandingkan dengan tahun 2017, ekspor karet 2018 meningkat 19 persen dikarenakan tingginya permintaan bahan baku oleh negara produsen China.

Ekspor Komoditi lada tahun 2018 sebanyak 2.601 ton dengah frekunsi 193 kali dengan nilai ekonomis berkisar Rp 156 miliar. Negara tujuan ekspor lada diantaranya ialah Singapura, Jerman, Belanda, Perancis, India, Vietnam, Taiwan, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, Pakistan, Amerika Serikat, Arab Saudi dan Oman.

"Data eskpor lada mengalami fluktuatif dari tiga tahun terakhir, ini karena adanya persaingan negara penghasil lada seperti Vietnam dan Thailand," katanya. (BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)
 

Penulis: krisyanidayati
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved