Advertorial

Herrmann Law Group Ajukan Tuntutan ke Administrasi Penerbangan Federal AS

Herrmann Law Group akan mengajukan tuntutan kepada Administrasi Penerbangaan Federal Amerika Serikat.

Herrmann Law Group Ajukan Tuntutan ke Administrasi Penerbangan Federal AS
Dok. Herrmann Law Group
Pengacara Charles Herrmann, kantor Pengacara Herrmann Law Group yang mewakili 21 keluarga korban dari 188 korban kecelakaan Lion Air JT 610 akan mengajukan tuntutan kepada Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA). 

BANGKAPOS.COM - Pengacara Charles Herrmann, kantor Pengacara Herrmann Law Group yang mewakili 21 keluarga korban dari 188 korban kecelakaan Lion Air JT 610 akan mengajukan tuntutan kepada Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA).

Charles Herrmann sebelumnya pernah mengajukan gugatan kepada Boeing, melalui Pengadilan Negeri Seattle, AS.

"Kami juga ada potensi akan mengajukan tuntutan kepada pihak ketiga yaitu FAA. Dimana sebelumnya saya menekankan hanya menuntut Boeing dan Lion Air, " ujar Charles Herrmann, Minggu (17/3).

Lebih lanjut Charles menjelaskan kesalahan FAA cukup fatal, karena dalam menjalankan tugasnya FAA sebagai regulator penerbangan sipil di Amerika Serikat telah memberi sertifikasi terbang untuk produk pesawat terbang yang tidak memberikan informasi detil mengenai kondisi mesin pesawat.

“Atas nama keluarga korban, kami akan mengajukan permohonan gugatan hukum yang sebelumnya telah diajukan kepada Boeing. Akan tetapi membutuhkan waktu 6 bulan agar gugatan tersebut bisa diajukan ke pengadilan," jelas Charles Herrmann.

Charles Herrmann menambahkan untuk pengajuan gugatan baru bisa disetujui setelah melalui proses komplain yang ditujukan kepada pihak pengadilan terlebih dahulu.

Ditegaskan Charles Herrmann, pihaknya baru dapat mengajukan gugatan setelah melalui proses komplain kepada pengadilan sehingga pihak FAA bisa mengumpulkan bukti-bukti di mana posisi mereka saat ini.

“Tuntutan diajukan kepada Pengadilan Seattle negara bagian Washington, Amerika Serikat tempat di mana Boeing memproduksi, merakit, dan memasarkan pesawat jenis 737 MAX 8," jelasnya.

Lebih lanjut Charles Herrmann menegaskan bahwa hasil investigasi serta bukti-bukti yang sedang dikumpulkan akan membuktikan bahwa Boeing memiliki andil yang cukup besar dalam kecelakaan tersebut.

Adapun bukti-bukti dari hasil investigasi di antaranya sensor pesawat yang tidak bekerja sebagaimana mestinya, tidak adanya informasi kepada pilot soal sistem komputer pesawat yang berbeda dengan tipe sebelumnya, juga adanya dugaan Boeing telah melanggar aturan soal kelayakan produk.

Menurut Charles Herrmann, bahwa pilot tidak tahu ada sistem komputer baru MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) yang diinstal di pesawat baru Boeing 737 MAX.

"Pastinya pilot tidak diberi informasi oleh Boeing tentang apa yang harus dilakukan ketika sistem komputer tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya," jelas Charles Herrmann.

Charles Herrmann menambahkan pihaknya melihat musibah jatuhnya pesawat Ethiopian Airlines ET 302, 10 Maret 2019 memiliki pola-pola yang serupa dengan Lion Air JT 610.

Bahkan Charles Herrmann menyakini, dua musibah yaitu Ethiopian Airlines ET 302, 10 Maret 2019 dan Lion Air JT 610, pada 29 Oktober 2018, sama-sama pesawat baru dengan usia yang baru beberapa bulan.

"Musibah jatuh pesawat tersebut di tengah cuaca cerah, dan kedua pilot dari masing-masing pesawat meminta izin untuk memutar balik pesawat untuk kembali ke bandara asal. Kami bisa melihat ada kemiripan dan penyebab kecelakaannya kemungkinan sama," tegas Charles Herrman. (adv/rya)

Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved