Mengintip Pesona Magis Taman-Taman Pelesiran Ningrat di Nusantara

Pesona taman telah menghias berbagai kerajaan di Asia, dari Persia, India, hingga timur jauh seperti Cina dan Jepang.

Mengintip Pesona Magis Taman-Taman Pelesiran Ningrat di Nusantara
Wilsen dalam
Taman Sunyaragi di Kesultanan Cirebon, Jawa Barat. 

TAMANSARI masih berada dalam tembok Keraton Yogyakarta. Tepatnya di sisi barat laut Keraton. “Tamansari” bisa juga diartikan sebagai “Taman Mewangi”. Sementara, para pencatat asal Belanda menyebutnya “Waterkasteel”—puri di tengah kolam.

Sebuah bangunan bernama Pulo Kenanga, menyeruak di tengah kolam Segaran. Bangunan ini dan sebuah masjid dihubungkan dengan jalan bawah air menuju ke sebuah kawasan di kolam pemandian para putri-putri bangsawan. Tamansari dibangun pada 1758 ketika Sultan Hamengkubuwana I bertakhta.

Pada abad ke-19 dibangun pula Balekambang Ambarukmo. Sehamparan taman lengkap dengan pendapa, kolam, dan rumah peristirahatan. Berlokasi di antara Jalan raya Yogyakarta-Surakarta.

SRIWEDARI dibangun pada awal abad ke-20 oleh Pakubuwana X dari Kasunanan Surakarta. Taman ini disjuluki warga sebagai “Kebon Raja” yang bermakna taman sang raja. Dahulu, menurut Lombard, taman ini penuh dengan pesona bebungaan nan mewangi dan sejumlah satwa peliharaan sang raja.

Mereka yang datang biasanya bertujuan untuk meditasi, namun kini pengunjung datang untuk menyaksikan suasana pasar malam. Denyut kesenian Sriwedari telah melambungkan kesenian wayang orang, hingga hari ini.

 
Taman Sriwedari di Surakarta pada awal 1900.
Tropenmuseum I Taman Sriwedari di Surakarta pada awal 1900.
  UJUNG  terletak di kawasan pesisir Kerajaan Karangasem, Bali. Inilah taman plesiran pertama di Bali. Kini, dikenal juga sebagai Taman Sukasada. Meskipun terpaut lautan, taman ini juga dipengaruhi oleh taman-taman di Jawa. Taman pertama di Bali ini dibangun pada awal abad ke-20.

Berhias kolam persegi dengan semacam pulau di tengahnya, dan dua bangunan beratap genting. Pulau tersebut dihubungkan dengan jembatan panjang dengan hiasan berukir semacam gapura. Meletusnya Gunung Agung pada 1963 pernah membuat porak poranda kawasan Karangasem, termasuk Taman Ujung. Kini, petilasan itu bersolek kembali.

NARMADA, sekitar sepuluh kilometer dari Kota Mataram. Pada 1930-an taman ini menjadi tempat yang tersohor karena keindahannya. Dua taman lainnya di Mataram, Cakranegara dan Lingsar, telah binasa saat penyerbuan serdadu KNIL pada 1894.Tampaknya Narmada merupakan taman yang pernah dikunjung Alfred Russel Wallace pada 1856.

“Kami melewati Mataram [...] Sepanjang jalan kecil sekitar tiga mil, tibalah kami di suatu tempat. Kami memasuki gapura batu bata yang gagah, dihias dengan dewa-arca dewa-dewa Hindu,” demikian catat Wallace dalam bukunya Malay Archipelago.

Kemudian dia melanjutkan, “Di dalamnya terhampar dua kolam ikan dan pepohonan elok. Sebelah kanan terdapat rumah dari batu bata dengan gaya Hindu yang terletak di sebuah teras tinggi. Sebelah kirinya sebuah kolam ikan besar dari sungai kecil yang keluar dari mulut buaya raksasa, namun itu sekedar arca.”

 
Taman Ujung atau Sukasada di Karangasem.
Tropenmuseum I Taman Ujung atau Sukasada di Karangasem.
Taman Ujung atau Sukasada di Karangasem. Waterpaleis van Oedjoeng 1930-1940 (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

 Berkunjung ke taman-taman pelesir sang raja, seolah membawa kita menyusuri peradaban masa lalu. Di masa klasik, taman dibangun untuk memenuhi kebutuhan rekreasi dan meditasi untuk ketenangan batin keluarga sang raja.

Halaman
123
Editor: Iwan Satriawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved