Berita Eksklusif

Menguak Prostitusi Online di Hotel Berbintang Pangkalpinang, Mengapa Sulit Diawasi

Menguak Prostitusi Online di Hotel Berbintang Pangkalpinang, Mengapa Sulit Diawasi

Menguak Prostitusi Online di Hotel Berbintang Pangkalpinang, Mengapa Sulit Diawasi
Surya
Ilustrasi Prostitusi Online 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Praktik prostitusi online di Hotel Berbintang di Pangkalpinang ternyata tumbuh subur. Mengapa praktik perdagangan manusia ini sulit diawasi?

Sejumlah fakta terungkap melalui penelusuran bangkapos.com terkait perkembangan prostitusi di Bangka Belitung.

ARTIKEL TERKAIT

Menguak Prostitusi Online di Hotel Berbintang di Pangkalpinang Bertarif Rp 800 Ribu per Short Time

KEPALA Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sudarman mengatakan sejumlah aplikasi chatting memang diduga sarat transaksi seksual.

Namun sejauh ini pihaknya belum menerima laporan dari masyarakat, baik secara tertulis maupun online, terhadap satu aplikasi chatting.

"Pengawasan aplikasi yang berpotensi menimbulkan konflik, kewenangannya ada di kementerian. Kalaupun ada laporan dari masyarakat, itu diteruskan ke kominfo pusat. Kalau memang fakta ada di aplikasi membuat sesuatu yang tidak baik dan ini bisa dilaporkan berdasarkan fakta. Tapi memang aplikasi kencang berpotensi terjadinya transaksi seksual," katanya, Senin (25/3).

Sudaraman menjelaskan, pihaknya tidak dapat menyisir aplikasi-aplikasi kencan yang beredar. Pihaknya juga tidak bisa melaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk peninjauan aplikasi lantaran tidak ada laporan dari masyarakat dan belum memiliki bukti.

Ia menyebutkan, jika masyarakat diresahkan dengan adanya aplikasi kencan ini bisa langsung melaporkan ke pihaknya. "Kami akan teruskan ke kominfo untuk ditelaah, kalau memang ini tidak hanya di Babel dan seluruh Indonesia yang membuat orang menjadi tidak baik nanti aplikasi ini bisa diblokir," sebutnya.

Secara spesifik memang pihaknya belum melakukan pemantauan terhadap aplikasi kencan, namun hal ini dianggap normal. Sehingga belum ada yang melaporkan.

"Ada beberapa yang kita dengar ada aplikasi pencarian jodoh, aplikasi mencari teman dekat yang ada juga indikasi transaksi seksual tapi ini belum bisa dikatakan betul karena belum diselidiki secara serius, laporan masyarakat pun belum ada ke kami baik secara tertulis maupun online," sebutnya.

Ia membeberkan, memang sudah ada masyarakat yang dikenakan hukuman pidana karena melakukan transaksi seksual melalui aplikasi WhatsApp.

"Kalau yang menawarkan diri melalui whatsapp itu sudah ada yang terjaring, tapi kalau aplikasi ini belum ada. Untuk menyisir kita harus masuk ke aplikasi itu. Biasanya aplikasi diblokir yang mengandung SARA, Seks, terorisme," katanya.

Ia mengakui ada kesulitan untuk mengawasi berbagai aplikasi, selain sifatnya personal, jumlah penggunannya semakin banyak, dan juga belum semua akun menggunakan nama asli.

"Ada kesulitan mengawasi yang menggunakan ini banyak dan ini sifatnya personal, terkadang mereka menggunakan akun palsu. Untuk babel sekitar 800 ribu yang menggunakan ponsel, satu orang bisa menggunakan dua ponsel, kemungkinan ponsel yang beredar sekitar 1,6 juta," katanya.

"Ketika 1,6 juta itu HP (handphone) Android semua, otomatis mereka juga menjadi pengguna internet. Pengguna internet kita mulai dari anak-anak sampai lansia, tapi yang paling dominan memang usia milenial," katanya. (o2)

Penulis: krisyanidayati
Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved