Berita Pangkalpinang

PLA Babel Tak Miliki Psikolog Klinis Hingga Kekurangan Terapis

Pusat Layanan Autis (PLA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga saat ini masih belum memiliki psikolog klinis dan kekurangan terapis.

PLA Babel Tak Miliki Psikolog Klinis Hingga Kekurangan Terapis
Bangkapos.com
Gedung Pusat Layanan Autis (PLA) di komplek perkantoran gubernur, Air Itam Pangkalpinang. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pusat Layanan Autis (PLA) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga saat ini masih belum memiliki psikolog klinis dan kekurangan terapis.

Saat ini PLA yang dikelola Dinas Pendidikan Babel melalui bidang Pendidikan Khusus hanya memiliki tiga terapis dan tujuh orang tenaga pendidik yang melayani 40 orang anak autis.

Idealnya dengan jumlah 40 anak minimal harus ada 7 terapis. Terbatasnya sumber daya manusia dibidang terapis dan psikolog klinis ditambah tidak ada rekrutmen pegawai menyebabkan PLA Babel belum bisa menerima lagi peserta didik.

"Paling dibutuhkan dan vital itu psikolog klinis karena ini untuk assessment anak-anak apakah mereka autis atau tidak, tapi kita enggak punya. Dulu ada itupun bukan psikolog klinis tapi psikolog pendidikan sekarang sudah berhenti, jadi kita bingung kalau mau terima anak baru karena harus di assesment dulu," kata Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Babel, Rita Aryani, Selasa (26/3/2019).

Rita menjelaskan, fungsi dan peran psikolog klinis ini untuk membantu orang tua untuk berkonsultasi dan memberikan pendampingan khusus.

"Sekarang ini waiting list yang mau masuk sudah sekitar 50 anak, tapi kita belum bisa membuka karena terbatas SDM untuk menangani selain itu psikolog klinisinya," katanya.

Ia menyebutkan, untuk terapis saat ini baru ada dua orang fisioterapis, satu terapis wicara. Untuk tenaga pendidik, tiga orang terapi perilaku dan empat orang kelas transisi.

"Kedepannya, PLA ini akan menjadi Pusat Layanan Disabilitas, kalau SDM kita kurang ini agak kebingungan juga. Anak Berkebutuhan khusus ini penanganannya berbeda dan ada khusus," katanya.

Dikatakan Rita, beberapa daerah lain bahkan PLA nya sudah memiliki SDM Tumbuh Kembang Anak.

"Kita sudah mengajukan ke pimpinan untuk rekrutmen pegawai, tapi mungkin masih berproses," tambahnya.

Selain kekurangan SDM, sarana dan prasarana PLA untuk mendukung kegiatan terapi dan belajar mengajar juga masih kurang.

"Sarpras dan gedung kita kurang. Ruangan yang kurang misalnya untuk terapi anak, kita juga butuh pagar karena anak-anak aktif, kita juga belum punya taman sensori," katanya.

Idealnya memang PLA harus memiliki asrama untuk menampung anak-anak dan orang tua yang datang dari luar kota, namun PLA Babel belum memiliki ini.

"Idealnya kita punya asrama karena banyak yang dari Jauh ada yang dari Lepar Pongok, Mentok, Belinyu, Koba, mereka terapi satu minggu dua kali, kalau disediakan asrama bisa menekan biaya mereka. Kadang orangtua sudah aware anak mereka autis dan harus diterapi tapi ada kendala biaya transportasi, kendala keterbatasan kita yang belum bisa menampung banyak," sebutnya.

(BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

Penulis: krisyanidayati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved