Ahmadi Sopyan Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Hutan

Calon Anggota DPR RI Dapil Bangka Belitung (Babel) Nomor Urut 3, Ahmadi Sopyan mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan.

Ahmadi Sopyan Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Hutan
BangkaPos
Ahmadi Sopyan Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Hutan 

BANGKAPOS.COM - Calon Anggota DPR RI Dapil Bangka Belitung (Babel) Nomor Urut 3, Ahmadi Sopyan mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kelestarian hutan. Hutan Indonesia merupakan salah satu paru-paru dunia yang mesti dilestarikan kelangsungannya.

Ahmadi menyampaikan, banyaknya kondisi hutan akibat maraknya penebangan hutan liar, pembukaan lahan hutan untuk perkebunan, hingga pemanfaatan lahan hutan sebagai area pertambangan.

Penebangan liar area hutan dan berbagai eksplorasi sumber daya hutan tersebut mengakibatkan beberapa area hutan gundul dan menyebabkan perbuhahan cuaca serta iklim.

"Banyak sekali wilayah yang tak boleh diganggu gugut malah rusak akibat maraknya pertambangan, penebangan hutan, serta perkebunan-perkebunan baik milik perusahaan dan milik pribadi.Kita sangat menyayangkan dulu Babel ini sangat adem tidak panas seperti sekarang," kata Ahmadi Sopyan di Pangkalpinang.

Politisi Gerindra ini menuturkan bahwa kerusakan hutan mesti segera ditanggulangi sedari sekarang. Dia bersama Yayasan Gunung Mangkol Lestari juga bergerak rutin dalam gerakan menanam pohon pada lahan area pasca tambang timah di bukit Mangkol, Bangka Tengah.

Salah satu upaya ini juga untuk menyelamatkan habitat hewan di hutan serta generasi masa depan yang pastinya sangat butuh terjaganya hutan guna keseimbangan ekosistem alam.

"Ini perlu waktu 50 hingga 100 tahun untuk mengembalikan kejayaan hutan seperti masa lampau. Generasi masa depan bisa saja tidak akan mengenal habitat satwa seperti tupai, babi hutan, dan biawak habitatnya terancam," ungkapnya.

Ahmadi Sopyan meminta agar seluruh elemen masyarakat optimis serta bisa berkontribusi untuk melakukan penghijauan hutan. Dia menilai, kerusakan yang terjadi tidak akan bisa ditanggulangi jika pemerintah serta masyarakat tidak bisa bekerjasama menjaga hutan serta menghentikan penebangan secara sewenang-wenang.

"Babel termasuk kondisi alamnya telah hancur tetapi bukan berarti kita pesimis tidak bisa memulai memperbaiki. Tinggal bagaimana kreativitas kita dan pemerintah mau atau tidak mengembalikan hutan yang sudah rusak itu," pungkasnya. (nurhayati/bangkapos)

Penulis: nurhayati
Editor: ibnu Taufik juwariyanto
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved