Begini Rasanya Meresapi Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta

Hampir setiap minggu, kami melewati Istana Presiden yang terletak di km 0 Yogyakarta atau Jalan A. Yani, seruas Jalan Malioboro,

Begini Rasanya Meresapi Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta
nationalgeographic
Meresapi Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta 

Di sini pula, Jenderal Sudirman dilantik oleh Soekarno sebagai Panglima Besar dan Pucuk Pim­pinan TNI, dan kemudian menjalankan Perang Gerilya yang membanggakan dan mengharukan itu. 

Di Ruang Sudirman dan Ruang Diponegoro dipajang lukisan, serta patung torso Jenderal Sudirman dan Diponegoro. 

Di ruang jamuan makan berbentuk aula, Presiden dan Wakil Presiden RI biasa menikmati hidangan atau menjamu tamu negara. Ruang Kesenian, joglo dirombak sedemikian rupa sehingga layak sebagai tempat menjamu tamu negara dengan pementasaan ane­ka sendratari, musik dan busana khas Indonesia.

Atap joglo masih diper­ta­han­kan kemegahannya, ukiran khas Yog­­yakarta dengan sen­tuhan cat warna kayu broken white, merah maroon, dan keemasan.

Dari Gedung Induk, perjalanan kami bergeser ke bangunan tempat Museum Benda Seni yang terdiri dari dua lantai. Dipenuhi karya seni bernilai tinggi, berupa lukisan dan patung karya seniman modern Indonesia seperti Raden Saleh, S. Soedjojono, Basuki Abdullah, Dullah, Affandi, Harijadi, Soerono, Gambir Anom, Fajar Sidik, Bagong Kussudiardjo, hingga Nyoman Gunarsa.

Ada pula karya seniman mancanegara yang berperan penting di sejarah seni rupa Indonesia, antara lain Rudolf Bonnet dan Walter Spies. Arca-arca temuan lepasan zaman Hindu-Buddha, cendera mata dari tamu kenegaraan juga menghiasi beberapa sudut ruang museum.

Kunjungan berakhir di Ruang Serbaguna yang dahulunya bernama Gedung Senisono.  Bangunan ini didirikan pada Juni 1822, berawal dari tempat hiburan kalangan sipil dan militer masyarakat Belanda.

Di masa pascarevolusi, Gedung Senisono aktif dimanfaatkan bidang kesenian. Sempat berfungsi sebagai gedung bioskop (1952-1965), Art Gallery Senisono untuk berbagai aktivitas kesenian dari berbagai cabang dan jenis seni (sejak 1967).

Museum Benda Seni: Dipenuhi karya seni bernilai tinggi, arca-arca temuan lepasan zaman Hindu-buddha. (Dwi Oblo/National Geographic Traveler)

Terdapat pula gedung yang khusus difungsikan sebagai penginapan bagi tamu Presiden, baik tamu asing maupun tamu dari jajar­an pemerintahan, yaitu Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma Saptaphratala.

Tak terasa sudah sekitar dua jam kami berkeliling kompleks istana. Peng­alaman pertama ini membuat kami ingin kembali lagi ke sana, untuk secara lebih serius menikmati koleksi benda seni Istana Yogyakarta yang tak bernilai harga dan sejarahnya.

Istana Yogyakarta memang hanya sebentar saja menjalankan peran pentingnya sebagai jantung Ibukota Republik Indonesia, namun tidak mengecilkan arti pentingnya dalam perjalanan awal negeri ini. (*)

https://nationalgeographic.grid.id/read/13306333/meresapi-keanggunan-sejarah-istana-yogyakarta

Editor: Iwan Satriawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved