Horizon

Antara Pesta dan Demokrasi

PONSEL pintar saya tiba-tiba bergetar, Minggu (14/4) petang selepas maghrib.

Antara Pesta dan Demokrasi
Logo Bangka Pos 

BANGKAPOS.COM-- PONSEL pintar saya tiba-tiba bergetar, Minggu (14/4) petang selepas maghrib. Sejak siang, mode senyap sengaja saya pilih karena hari minggu sehingga lebih banyak waktu untuk keluarga.

Kami masih berkumpul bersama keluarga selepas menjalankan ibadah salat maghrib berjamaah, saya raih ponsel yang ada di atas meja komputer. Banyak pesan yang belum terbaca dan satu persatu saya buka.

Sejumlah pesan “tidak penting” saya lewatkan dan beberapa di antaranya saya balas seadanya. Namun ada satu pesan yang sebenarnya sangat tidak penting, namun mencuri perhatian saya.

Pesan di aplikasi Whatsapp itu datang dari tetangga rumah yang sebenanrnya jarang sekali berkomunikasi dengan saya. “Selamat sore bosss,” begitu dia menyapa di pesan pertama.

“Izin bosss, jika berkenan saya ingin mendata seluruh keluarga yang sudah memiliki hak pilih,” tulisnya di pesan kedua. Dari sini saya berpikir bahwa kawan sekaligus tetangga yang sejauh ini tak memiliki pekerjaan tetap ini sudah memiliki pekerjaan mapan.

Saya berpikir dia menjadi salah satu petugas dalam gawe besar pemilu yang pada 17 April 2019 besok memasuki tahap pungut dan hitung.

Masih menggenggam ponsel, saya melihat ada tiga pesan yang sudah dihapus sebelum sempat saya baca. Yang tersisa adalah pesan terakhir yang intinya kawan saya ini ingin datang langsung menemui saya di rumah.

“Saya bawa paket 3 caleg sekaligus, mulai dari tingkat 2, tingkat provinsi dan pusat. Untuk yang DPD saya bawa tiga paket yang bisa dipilih. Tapi sebaiknya saya ke rumah saja,” demikian pesan terakhir yang ia tulis dan tercatat terkirim pada 16.40 dan baru saya buka sekira pukul 18.55.

Membaca pesan penutup ini, kesan awal terhadap dia sebagai petugas rersmi penyelenggara pemilu, hilang. Saya langsung yakin bahwa kawan lama saya ini tak lebih dari seorang makelar suara yang membawa daftar caleg untuk dipilih.

Ini senada dengan perbincangan di sejumlah warung kopi yang menghangat belakangan ini, dimana banyak yang membicarakan tentang nominal yang bisa diterima jika memilih caleg tertetu. Sebelumnya, saya juga mendengar bahwa untuk satu kartu suara, nilainya mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu, tergantung calegnya.

Halaman
123
Editor: nurhayati
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved