Berita Pangkalpinang

Kata DLH Babel soal Paparan Radiokatif Monasite, Di Luar Gudang Penyimpanan Resmi Lebih Beresiko

Dikatakan Eko persoalannya di Babel adalah paparan radioaktif di luar gudang penyimpanan resmi, seperti di kawasan tambang ilegal.

Kata DLH Babel soal Paparan Radiokatif Monasite, Di Luar Gudang Penyimpanan Resmi Lebih Beresiko
Dokumen Bangka Pos
Kepala DLH Babel Eko Kurniawan 

BANGKAPOS.COM - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kepulauan Bangka Belitung Eko Kurniawan mengakui ada potensi bahaya paparan radioaktif di wilayah Babel. Ini ia sampaikan mengenai banyaknya sebaran mineral ikutan timah, monasite satu di antaranya, yang disebut banyak tersebar di Babel.

Menurut dia, Babel sebagai daerah banyak tambang timah, memiliki paparan radioaktif alami.

Selama dikelola dengan baik, paparan radioaktif dari mineral ikutan seperti monasite ini diyakini tidak berbahaya bagi lingkungan sekitar.

"Di beberapa pertemuan, sempat dengar juga, paparan radiaoktif ini memang banyak di monasite. Sifatnya alami sebetulnya, cuma ketika dikelola, paparannya akan sedikit," kata Eko, Senin (15/4/2019).

Menurut Eko, kewenangan terkait paparan radioaktif adalah kewenangan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bappeten). Karena itu, penyimpanan monasite di gudang-gudang perusahaan memerlukan izin dari Bappeten.

"Kami tidak mengawas radioaktif ini. Kami juga sempat koordinasi ke KLHK terkait ini? pengawasannya ada di Bappeten," ucap dia.

Kewenangan DLH terkait ini hanya sebatas memastikan tiga hal di lingkungan sekitar penyimpanan monasiye, yakni kualitas air, udara, dan pengelolaan lmbah B3. Eko menyebut standar lingkungan ini sudah sangat jelas dan terkait langsung dengan aspek Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

Perusahaan-perusahaan tambang biasanya memiliki standar pengelolaan tertentu karena untuk keperluan program pemeringkatan (proper) pengelolaan lingkungan mereka.

"Orang-orang yang bekerja di lingkungan seperti ini harus gunakan peralatan pelindung diri, peralatan keselamatan kerja yang lengkap," katanya.

Dikatakan Eko persoalannya di Babel adalah paparan radioaktif di luar gudang penyimpanan resmi, seperti di kawasan tambang ilegal. Paparan radioaktif inilah yang harus dikhawatirkan.

"Kalau disimpan di gudang, itu bisa dimanage, dikelola, dan tidak masalah. Kalau tersebar-sebar misalnya di tailing-tailimg di tambang inkonvensional itu, potensinya ada meskipun tidak besar," ucap Eko.

Menurut Eko, belum ada ukuran pasti mengenai dampak paparan radioaktif bagi kesehatan tubuh masyarakat di Babel. Ratusan tahun pertambangan di Babel, menurut dia, belum ada kejadian paparan radioaktif hingga sampai berdampak pada mutasi gen ataupun kematian.

"Tetapi yang jelas, selama ini dikelola dengan baik, tidak masalah. Yang perlu dikhawatirkan itu justru yang sebarannya bebas dan tidan terkelola, kalau ada yang menyimpan seperti ini, itu yang bahaya," katanya.

(Bangka Pos/ Dedy Qurniawan)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved