Berita Pangkalpinang

Diduga Tampung Pasir Timah 5 Ton Tanpa Izin, Dirut Smelter Ini Dituntut 5 Bulan Penjara

Ahmad Febrian alias Febri oleh jaksa penuntut umum (JPU) dituntut 5 bulan sanksi pidana hukuman penjara

Diduga Tampung Pasir Timah 5 Ton Tanpa Izin, Dirut Smelter Ini Dituntut 5 Bulan Penjara
Bangka Pos/Ryan A Prakasa
Terdakwa Ahmad Febrian (baju hitam berdiri) saat menghadiri persidangan di gedung Pengadilan Negeri Pangkalpinang Kelas IB. 

BANGKAPOS.COM  - Ahmad Febrian alias Febri oleh jaksa penuntut umum (JPU) dituntut 5 bulan sanksi pidana hukuman penjara dan terdakwa pun wajib membayar denda sebesar Rp 10 juta serta subsider kurungan penjara selama 2 bulan.

Tuntutan sanksi hukuman tersebut dibacakan langsung oleh JPU asal Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel) di hadapan majelia hakim yang menyidang perkara kasus dugaan penampungan pasir timah sebanyak 5 ton lebih oleh perusahaan smelter (PT DS Jaya Abadi) hingga kini menyeret direktur utama (dirut) PT DS Jaya Abadi, Ahmad Febrian kini berstatus sebagai terdakwa.

"Menjatuhkan kepada terdakwa (Ahmad Febrian -- red) tuntutan 5 bulan kurungan penjara dengan wajib membayar denda sebesar Rp 10 juta dan jika terdakwa tidak membayar denda tersebut maka dikenakan sanksi tambahan kurungan penjara," kata JPU saat sidang berlangsung dipimpin oleh I Wayan Wiguna bersama dua orang anggota majelis hakim lainnya, Iwan Gunawan & Hotma EP Sipahutar, Kamis (19/4/2019) di gedung Pengadilan Negeri Pangkalpinang Kelas IB.

Sesuai berkas tuntutan yang dibacakan oleh penuntut umum tersebut, terdakwa (Ahmad Febrian) dianggap telah melanggar hukum atau Undang-Undang Nomor : 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba & Batubara lantaran terdakwa (Ahmad Febrian) diketahui selaku pimpinan perusahaan tersebut diduga sengaja menampung sejumlah pasir timah 5 ton lebih bukan selaku pemilik IUP, OP dan IUPK.

Usai mendengar tuntutan penuntut umum (JPU), ketua majelis hakim (I Wayan Wiguna) seketika itu pula memberikan kesempatan kepada terdakwa (Ahmad Febrian) untuk memberikan tanggapan terkait tuntutan tersebut.

"Bagaimana saudara terdakwa (Ahmad Febrian -- red) apakah ada tanggapan terhadap tuntutan yang dibacakan oleh penuntut umum?," tanya I Wayan Wiguna kepada terdakwa.

Dalam kesempatan itu pula, seorang penasihat hukum terdakwa, Fauzan mengatakan terkait tuntutan JPU itu justru pihaknya akan melakukan pembelaan (pledoi) pada sidang selanjutnya.

"Kita akan pledoi pada sidang selanjutnya," jawab penasihat hukum terdakwa di hadapan majelis hakim.

Selanjutnya ketua majelis hakim pun menutup persidangan saat itu.

(Bangka Pos/Ryan A Prakasa)

Penulis: ryan augusta
Editor: Ardhina Trisila Sakti
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved