Berita Pangkalpinang

Peserta Lelang Ini Sebut Harga Lelang Kendaraan yang Ditawarkan Tinggi

Tak hanya Candra, Tamsil bahkan tak membawa satupun mobil yang telah diikuti lelang lantaran harga yang tinggi

Peserta Lelang Ini Sebut Harga Lelang Kendaraan yang Ditawarkan Tinggi
Bangka Pos/Krisyanidayati.
Proses lelang kendaraan operasional pemerintah provinsi kepulauan Bangka Belitung di Halaman Kantor Bakuda Babel, Kamis (25/4/2019). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Salah satu peserta lelang kendaraan operasional pemerintah provinsi kepulauan Bangka Belitung, Candra harus rela berbesar hati pasalnya dari 31 unit kendaraan lelang yang diikutinya hanya dua kendaraan yang bisa dibawanya pulang.

Peserta lelang asal Palembang, menilai nilai lelang dan antusiasme masyarakat ikut lelang cukup tinggi. Dirinya, yang mengikuti lelang ulang dijual kembali ini merasa tidak mampu mengikuti harga yang terus tinggi saat proses lelang.

"Saya kemarin ikut sekitar 31 lot semuanya mobil, uang jaminan yang disetor sekitar Rp 400 juta lebih lah. Tapi cuma dua yang harganya masih masuk akal, kalau yang lainnya tinggi semua. Kayaknya banyak yang pakai pribadi bukan buat jual lagi seperti saya, tapi tadi banyak yang gengsi juga harganya jadi tinggi sekali," katanya ditemui usai mengikuti proses lelang, Kamis (25/4/2019).

Tak hanya Candra, Tamsil bahkan tak membawa satupun mobil yang telah diikuti lelang lantaran harga yang tinggi. Tamsil mengikuti lelang 20 kendaraan roda empat dan empat kendaraan roda dua, namun dirinya hanya bisa membawa pulang empat kendaraan roda dua.

"Saya ikut 20 mobil, 4 motor. Mobil enggak dapat motor dapat semua. Tinggi-tinggi harga mobilnya. Ini banyak yang buat pribadi kayaknya bukan buat jual," katanya.

Lelaki asal Palembang ini menyebutkan, dirinya telah berkeliling kota untuk mengikuti lelang, bahkan baru-baru ini dirinya mengikuti lelang di kabupaten Bangka untuk kendaraan dan alat berat.

Dikatakannya, mengikuti lelang seperti ini tergantung rezeki, terkadang tidak jarang rugi. Pasalnya, kendaraan yang dibeli ini harus dibawa ke Palembang untuk diperbaiki  dan harus dimutasi.

"Kalau dia hidup itu ongkos bawa ke Palembang saja Rp 1,5 juta, ya kadang untung kadang rugi tergantung spekulasi. Setiap mobil itu saya lihat kondisinya dan tahunnya, dan saya targetkan nilai maksimal dari nilai limit yang ditawarkan. Kalau sudah melebihi target saya, saya enggak ambil. Karena kan saya harus perbaiki, mutasi, ongkosnya," sebutnya.

Dikatakannya, jika kendaraan yang terlalu tinggi mereka akan sulit menjual kembali.

"Estimasinya gini, kalau saya beli Rp 30 juta, biaya perbaikan, biaya ongkos paling tidak saya harus jual Rp 50 juta. Dilihat lagi dari harga pasaran mobil," katanya.

Ditanyai kenapa dirinya lebih memilih untuk membeli kendaraan dari lelang pemerintah, pasalnya memiliki kekuatan hukum.

"Kalau beli lelang pemerintah ada kekuatan hukum. Tapi kadang ada oknum juga yang curang karena kan kita tidak bisa lihat barang dalamnya. Pas kita lihat tau-tau jok nya enggak ada, nanti kita dihubungi ditawari mau beli jok enggak. Jadi kayak dicopotin mereka, nanti bisa juga barangnya dicopot biar harga murah karena ada orang dalam yang mau ikut lelang, tapi ini hanya oknum ya," katanya.

(BANGKAPOS.COM/Krisyanidayati)

Penulis: krisyanidayati
Editor: khamelia
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved