Seminggu Tiga Warga Diterkam Buaya, Inilah Mitos dan Kepercayaan Soal Buaya di Pulau Bangka

 BANGKAPOS.COM--Masyarakat Pulau Bangka Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diawal tahun 2017 ini dikejutkan peristiwa serangan buaya yang menelan korban jiwa manusia.

Tak tanggung-tanggung, dalam tempo hanya sepekan diawal tahun 2017 ini sudah tiga orang warga dilaporkan diterkam buaya.

Baca: Berharap Penghidupan Lebih Baik di Pulau Bangka, Maman dan Anak-anaknya Malah Berakhir di Dinsos

Satu korban selamat dengan cara mencolok mata buaya, sementara dua korban lainnya tewas akibat serangan buaya.

Entah apa yang menjadi penyebabnya sehingga reptil raksasa yang memang sejak dulu banyak hidup di wilayah Pulau Bangka tersebut mengganas.

Baca: Ekspor Lada Babel Alami Penurunan, Harga Lada 2017 Diprediksi Capai 150 Ribu/kilo

Korban tewas serangan buaya yang pertama bernama Masda (20) pemuda yang berprofesi sebagi penambang timah.

Pemuda malang ini tewas diterkam buaya di sungai Aek Sengok, Desa Telak, Kecamatan Parittiga, Kabupaten Bangka Barat, Senin (2/1/2/2017) malam.

Nyawa Masda tak terselamatkan setelah reptil buas tersebut menyeretnya hingga ke dasar sungai Aek Sengok.

Saat ditemukan, bujangan 20 tahun itu telah merenggang nyawa di dasar sungai.

Sementara pada Kamis (5/1/2017) Ardiansyah, warga Kampung Padang, Kecamatan Toboali digigit buaya laut di perairan Kelurahan Tanjung Ketapang saat sedang menjaring udang.

Selang sehari kemudian pada hari Jumat (6/1/2017) Ngalimun (60), warga Dusun Mempunai, Desa Serdang Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan tewas akibat terkaman buaya di perairan dusun Mempunai, Jumat (6/1/2017) sekitar pukul 06.00 WIB

Ngalimun saat itu sedang mencari udang di bibir pantai dusun Mempunai, ia diseret buaya yang memiliki ukuran, kurang lebih tiga meter.

Berbicara mengenai keberadaan buaya di Sungai-sungai besar yang ada di Pulau Bangka bukanlah suatu hal yang asing lagi.

Setiap tahun selalu saja ada warga yang dilaporkan diterkam buaya di sungai-sungai yang ada di pulau timah ini.

Ada mitos unik mengenai keberadaan mahluk ganas ini, misalnya di Sungai Mendo Kecamatan Petaling ada mitos mengenai Bujang Antan mahluk gaib berbentuk buaya yang menguasai sungai itu.

Di aliran Sungai Baturusa ada kepercayaan masyarakat sejak dulu sungai itu dikuasai buaya gaib bernama Raden Kuning dan Raden Hitam.

Terlepas dari rusaknya alam dan semakin berkurangnya mangsa buaya sehingga memilih memangsa manusia, sebagian masyarakat Bangka percaya buaya tidak akan mengganggu manusia kecuali sang manusia itu melanggar pantangan yang ada, salah satunya disebut kepunan.

Untuk kepunan ini secara umum adalah orang yang ditawari sesuatu makanan atau minuman tetapi menolak mencicipinya.

Ada kepercayaan di kampung-kampung setiap ditawari makanan minuman terutama minuman kopi sangat pantang untuk menolaknya kalau tak mau mengalami hal yang tidak diiinginkan.

Apalagi orang yang bersangkutan akan berangkat ke hutan atau ke sungai.

Untuk penawar pantangan ini setidaknya orang yang ditawari mencolek dengan ujung jari makanan yang ditawarkan atau dalam bahasa Bangka disebut Malet.

Berikut makanan dan minuman sangat pantang ditolak dalam mitos kepunan dan malet masyarakat Bangka:

1. Kopi , terutama kopi hitam
2. Nasi , bisa meliputi nasi bubur, nasi goreng dan semacamnya.

3. Makanan yang terbuat dari beras ketan dan berbagai hasil pertanian yang dihasilkan sendiri.(*)