Melongok Kisah Mistis Bahu Laweyan, Wanita 'Pemangsa' Pasangan Hidupnya Sendiri

BANGKAPOS.COM--Pernah dengar seorang wanita yang setiap kali menikah selalu ditinggal mati pasangannya? Benarkah ia ditakdirkan sial terus?

Dalam kultur Jawa, manusia panas itu disebut bahu laweyan.

Nah, bagaimana duduk persoalan misteri ini beberapa “pakar” mencoba mengungkapkannya.

---

Wingit dan seram. Kesan ini muncul setiap kali seseorang membayangkan suasana perkuburan. Konon tempat itu adalah markas hantu, pocong, gendruwo, dan berbagai bentuk ujud makhluk menakutkan lainnya. Orang pun enggan mendatangi tempat-tempat tersebut bila tidak disertai maksud-maksud tertentu.

Masa nyadran, beberapa hari menjelang puasa, bagi masyarakat Jawa merupakan kesempatan baik untuk nyekar. Tak heran bila banyak orang memenuhi tempat-tempat perkuburan untuk “mengunjungi” mereka yang telah lebih dulu menghadap Yang Mahakuasa.

Suasana serupa terpotret di sebuah kompleks makam Kota Semarang, Jawa Tengah. Bukan kerumunan orang yang nampak memancing perhatian, namun justru kesendirian seorang wanita paruh baya yang dengan kekhusyukan tersendiri membedakannya dengan pengunjung lain.

Rona raut wajah, tarikan napas yang dalam, serta getar bibirnya yang berucap lirih menyiratkan kalau ia menyimpan kepedihan yang mendalam.

Hal ini yang mencolok, wanita rupawan ini tak cukup nyekar pada satu kubur, meski sesungguhnya ia pun bukanlah satu-satunya pengunjung makam yang berpindah dari satu makan ke makam lain.

Cukup lama waktu yang dihabiskan untuk tafakur pada tiap-tiap makam. Saat banyak pengunjung mulai meninggalkan penkuburan, ia masih betah berlama-lama merenung di sisi makam yang entah keberapa.

“Kasihan, Bu Tinah itu orangnya baik tapi kok ya nasibnya buruk. Selain mkam bapak-ibunya, ketiga makan itu adalah kubur para suaminya,” cetus Pak Dipo, juru kunci kuburan, saat melihat wanita tersebut berjalan keluar kompleks kuburan.

Tangan kurus Pak Dipo yang penuh otot menunjuk ke makam-makam suami Bu Tinah yang letaknya di ketinggian dan saling berdekatan, “Di sana, nisan putih itu makam suami pertamanya, lalu yang kedua bernisan abu-abu, sedang yang ketiga masih berupa patok kayu.”

Pak Dipo yang sudah bertugas sebagai penjaga kubur sejak seperempat abad silam itu mengaku, kenal betul sekaligus kagum terhadap ketegaran Bu Tinah. “Bayangkan, dalam waktu kurang dari sepuluh tahun tiga kali ia ditinggal mati suaminya. Itu juga, kata keluarganya, tanpa didahului pertanda, firasat, apalagi kok sakit,” Pak Dipo menjelaskan.

“Tapi, dengar-dengar lo, kabarnya Bu Tinah akan menikah lagi dengan teman kantornya beberapa bulan mendatang. Syukurlah. Semoga bisa langgeng tidak seperti yang sebelumnya, dan bisa memperoleh keturunan. Kalau saya ya, mungkin sudah takut dan kapok untuk berumah tangga lagi,” ujarnya lagi setengah prihatin.

Tragis. Itulah kesan setiap orang bila mendengar nasib malang BU Tinah. Namun sebenarnya, Bu Tinah bukanlah satu-satunya insan yang terus-menerus dirundung malang kehilangan suaminya. Paranormal dari Kotagede, Yogyakarta, Supriyadi membenarkan keberadaan fenomena tersebut dengan kondisi yang persis diutarakan oleh Pak Dipo, “Dalam masyarakat Jawa, orang yang berulang kali ditinggal mati pasangannya secara mendadak tanpa sempat menurunkan anak sering disebut bahu laweyan.”

Supriyadi yang sering dimintai tolong menyembuhkan penyakit non-medis mengkategorikan bahu laweyan sebagai manusia "cacat" sejak lahir atau manusia "panas" yang mendatangkan malapetaka bagi pasangan hidupnya.

Meski lebih sering perempuan, bahu laweyan bisa terwujud baik pada diri lelaki atau perempuan. "Saya sendiri tidak tahu mengapa, mungkin sudah kodrat," ujar tokoh spiritual yang enggan disebut sebagai dukun. Atau paranormal itu.

Dalam menentukan pasangan hidup, keluarga Jawa pasti akan melihat semua segi latar belakang calonnya. Terutama orang tua yang masih lekat dan mempertimbangkan segala sesuatu dengan nilai-nilai budaya Jawa, tentu mengerti benar bahwa manusia "panas" pantang dinikahi.

Lebih lanjut menurut. Pak Supri, pria atau wanita bahu laweyan sebenarnya seperti manusia biasa lainnya. "Malah ia sendiri pun tidak tahu kalau memiliki kekuatan "membunuh" istri/suami. Dia baru sadar setelah tiga empat kali mengarungi biduk perkawinan selalu ditinggal mati suami atau istri.

"Saat kematian pasangan pertama, orang belum curiga dan menganggapnya kematian biasa. Keluarga dekatnya baru akan berpikir bila hal yang sama menimpa pasangan kedua. Apabila manusia bahu laweyan ini menikah yang ketiga kalinya, dan kembali pasangannya menghadapi kematian, barulah sanak saudara dan masyarakat sadar ada yang tidak beres dalam tubuh manusia tersebut.

"Biasanya setelah perkawinan yang ketiga, betapapun cantik atau gantengnya, dia akan kesulitan mencari pasangan. Memangnya siapa yang berani menanggung risiko kematian?" ujar Pak Supri. Tapi menurutnya, bila sampai tiga kali menjalani perkawinan dengan selalu mengorbankan pasangannya, umumnya janda atau duda dari masyarakat Jawa akan tahu diri. dan takut kawin lagi.

Sedangkan budayawan Jawa H. Karkono Kamajaya PK (81) mengaku, meski.tidak tahu ciri-ciri fisik orang bahu laweyan, tapi percaya orang semacam itu memang ada. Ketua Javanologi Panunggal Yogyakarta ini sedari kecil telah mengetahui istilah manusia bahu laweyan, bahkan pernah kenal akrab salah seorang di antaranya.

"Yang saya tahu, bahu laweyan hanya untuk perempuan. Suami wanita ini tidak selalu meninggal, tapi ada saja malapetaka atau kesialan menimpa hidupnya. Entah itu kecelakaan, sakit-sakitan, atau yang lainnya. Pokoknya, sial terus," ujarnya merinci garis nasib para bahu laweyan.

Kemalanggn yang menyertai manusia bahu laweyan, menurut Dra. Astuti Hendrato, mantan dosen sastra Jawa UI, lebih disebabkan oleh nasib atau bawaan. "Kalau menurut orang Jawa, ndilalah atau kebetulan saja orang tersebut ditimpa nasib buruk. Bukan karena keturunan."

Pendapat tersebut senada dengan yang diungkapkan oleh Karkono bahwa bahu laweyan itu merupakan bawaan sejak lahir. Sementara penjelasan yang melandasinya, "Sulit kalau harus" dinalarkan, karena ini memang menyangkut kepercayaan orang Jawa," tuturnya.

Meskipun berpandangan sama bahwa bahu laweyan merupakan bawaan bukan keturunan, pemahaman yang diajukan Pak Supri lebih mudah dimengerti.

Menurutnya, "Tubuh manusia bahu laweyan dipinjam sebagai wadah oleh makhluk halus jahat yang ingin menguasainya. Karenanya, kalau ada yang mengawininya, makhluk halus ini tak rela dan membunuhnya."

Konon perbuatan keji makhluk itu akan berhenti setelah memangsa tujuh kali nyawa pasangan hidup manusia bahu laweyan. Meski kurang terlalu yakin, Supri menduga 7 korban atau nyawa itu berkaitan dengan tali pengikat mayat manusia yang berjumlah tujuh. Jadi pada perkawinan yang kedelapan kalinya, pasangan hidup itu sebenarnya akan selamat.

"Tapi jarang, bahkan bisa dibilang tidak ada orang yang berani mencoba menikahinya. Biasanya kalau ada janda yang sudah tiga kali ditinggal mati pasangan hidupnya, orang lain pun tidak berani mencoba mengawininya lagi," ujar bapak beranak tiga itu tertawa.

Seperti layaknya makhluk halus, penghuni wadah itu pada tengah malam saat pasangan bahu laweyan tertidur lelap akan keluar dari tubuh pemiliknya dalam ujud asap kecil.

"Asap kecil yang tak lain si makhluk halus itu kemudian akan memangsa tubuh korban dengan cara mengisap darahnya," Supri menjelaskan cara kerja makhluk halus jahat. Itu pula sebabnya, kematian mendadak pasangan bahu laweyan itu sering terjadi pada tengah malam.

Meski begitu, orang awam tidak akan melihat tanda-tanda bahwa korban mati karena diisap darahnya. Mayat korban bahu laweyan serupa dengan mayat biasa lainnya. Untuk membuktikannya, Pak Supri menuturkan, perlu dilakukan cara-cara khusus yang tak bisa dilakukan sembarang orang. Seperti yang dialaminya belasan tahun silam ketika bersama gurunya membuktikan korban kematian yang diduga akibat perkawinan dengan wanita bahu laweyan.(*)