Menguak Kisah Bus Legendaris nan Sarat Kenangan Pownis dan Sabang Jaya

BANGKAPOS.COM --Generasi 80an Pulau Bangka tentu masih ingat bus kayu legendaris yang melayani angkutan penumpang antar kota Pownis dan PO Sabang Jaya.

Bus tanpa AC yang menyimpan berjuta kenangan ini, kini memang tidak lagi beroperasi .

Tapi kenangan akan bus tersebut tak akan hilang dari benak masyarakat Pulau Bangka.

Berikut sekelumit kisah dari dua bus legendaris Pownis dan PO Sabang Jaya.

Baca: Inilah Daftar Siswa dan Sekolah Peraih Nilai UN Tertinggi di Babel

============

Dua Mobil Pownis yang akan mengantar pengunjung museum timah keliling kota pangkalpinang. (Bangkapos/Riski Yuliandri)

Lie Po Sang merupakan pewaris usaha bus PO Sabang Jaya yang sangat fenomenal kurun waktu tahun 1954-2000.

Ayahnya, Lie Sung Fuk yang pertama kali merintis bus jurusan Toboali-Pangkalpinang pada masa itu.

Di belahan Pulau Bangka lain, ada keluarga keturunan Tionghoa yang berjasa untuk angkutan jurusan Sungailiat-Pangkalponang pada masa lalu.

Baca: Kisah Si Polos Karin Novilda Menjadi Awkarin Si Kontroversial yang Begitu Heboh di Media Sosial

Jurnalis bangkapos.com, pernah merekam cerita kejayaan bis kayu yang diberi nama PO Perusahaan Oto-oto Warga Negara Indonesia (Pownis), pada 20 Desember 2012 lalu.

Pownis boleh dibilang melegenda di Pulau Bangka. Bagi generasi tahun 80-an, Pownis menjadi kendaraan andalan yang sangat menyenangkan dan bahkan kini bikin kangen.

Adalah Lioe Sin Djoeng (56), yang pernah menjajal bis kayu Pownis tersebut.

Pownis bagai "istri" keduanya.

Pownis buatan tahun 1985 bermesin diesel dengan nomor polisi (Nopol) BN 3191 BU ini telah menemaninya hingga setidaknya pada akhir 2012 lalu.

"Baru sekali bongkar mesin tahun 2000 lalu dan ganti ring sekali. Ngurusnya enak, sayang sekali sama pownis ini," ungkap Djoeng atau akrab disapa Afuk kepada bangkapos.com, Kamis (20/12/2012).

Di garasi rumahnya, Jalan Kenanga Permai Lingkungan Kenanga Permai Nomor 23, Kabupaten Bangka masih tersimpan Pownis Nomor 15 tersebut.

Dari 53 unit pownis pada tahun 1970-an, inilah pownis yang tersisa dan masih layak jalan.

"Ada satu lagi, pownis nomor 10 tapi kondisinya kurang bagus," ujar suami Seyuen (58) ini.

Saking langkanya, pownis Afuk pernah disewa untuk syuting acara televisi swasta beberapa waktu lalu.

Tak jarang juga, pownis miliknya disewa khusus pelancong dari Jakarta. Mereka ingin merasakan sensasi menumpang pownis seperti tahun 80-an.

"Banyak juga yang menawar pownis ini, saya tidak mau jual. Ini kenang-kenangan dari bos saya. Banyak juga yang mengubahnya jadi truk, saya tidak mau. Dari pownis inilah saya menafkahi keluarga," ucap pria tiga orang anak dan empat cucu ini.

Di tempat lain, Sudiono alias Yono (52) hanya dapat menunjukkan foto bis kayu, yang pernah menjadi andalannya mencari nafkah, Rabu (19/12/2012).

Ditemui di rumahnya kawasan Kampung Cenderawasih Kelurahan Srimenanti, Sungailiat, Kabupaten Bangka, Yono mengungkapkan kenangan masa lalu bis kayu yang akrab disebut Pownis (Persatuan Oto-oto Warga Negara Indonesia).

"Tahun 82 saya mulai jadi sopir Pownis. Sebenarnya, Pownis milik warga keturunan China. Karena zaman itu, sekitar tahun 60-an tidak boleh ada embel-embel asing maka dibuatlah namanya Pownis," terang Yono Pownis sapaan khas Sudiono saat masih aktif menjadi sopir kepada Bangkapos.com.

Bis pownis merupakan kendaraan biasa berbahan bakar bensin atau solar, keluaran Daihatsu, GMC dan sebagainya.

Sampai tahun 2000, pownis masih banyak berkeliaran melayani jurusan Sungailiat-Pangkalpinang.

"Saya bawa pownis nomor 9," ucapnya.

Pada masa-masa jayanya, jumlah pownis berjumlah 53 unit. Penumpangnya membludak, sehingga harus dibuat antrean berdasarkan nomor lambung mobil.

"Kami dulu berebutan nunggu Pownis 9 Bang Yono kalau mau ke Baturusa dari Sungailiat. Memang dia kesayangan anak-anak sekolah, Pownis-nya bersih dan ramah. Kini entah hilang kemana," ungkap Alham (30), warga Sungailiat mengenang cerita Pownis tahun 90-an.

Kini, Pownis kayu yang tersisa hanya dua unit, Pownis 10 dan Pownis 15. Itupun tidak aktif lagi beroperasi. Pownis lainnya hilang tak berbekas.

Pewaris usaha

DIINCAR KOLEKTOR -- Bus PO Sabang Jaya adalah bus angkutan umum yang melayani rute Toboali - Pangkalpinang kurun waktu 1954-2000. Bus ini diincar kolektor mobil tua, dan dihargai Rp 50 juta per unitnya oleh pemiliknya. (Bangkapos/Riki Pratama)

Lie Po Sang berusaha mengenang kembali masa kejayaan bus PO Sabang Jaya yang sangat fenomenal kurun waktu tahun 1954-2000 itu.

Ia adalah pewaris usaha yang dirintis ayahnya Lie Sung Fuk.

Lie Po Sang yang bernama asli Rusli Hasan ini menceritakan, pertama kali ayahnya memiliki mobil dengan merek Dotge pada tahun 1946 dengan plat polisi B 942, yang merupakan mobil truk, pabrikan USA yang sering digunakan mengantarkan kayu ke Kota Pangkalpinang.

Selain memiliki mobil truk, ayah Lie Po Sang juga memiliki bus kayu Cevrolet produksi tahun 1947, yang merupakan bus pertama kali melayani trayek Pangkalpinang-Toboali sejak tahun 1954 hingga 2000.

"Bus itulah pertama mengantarkan warga Toboali ke Pangkalpinang, mobil milik ayah saya merek Chevrolet, saat itu kami hanya melayani satu sip. Artinya apabila sudah mengantar penumpang ke Pangkalpinang kembali ke Toboali baru besok harinya, kami menginap di sana, di gang Singapur, di situ ada hotel di situlah kami tidurnya," katanya belum lama ini.

Ketika menarik Bus, Lie Po Sang mengatakan tidak memiliki jadwal tetap untuk berangkat, pasalnya ketika dilihat penumpang sudah penuh, ia langsung berangkat kapanpun. Muatan bus ini bisa menampung penumpang hingga 35-40 orang dialamnya.

"Aku tamat sekolah tahun 1958 saat itu aku sudah membantu ayah saya bekerja," ujarnya.

Namun sejalan dengan aturan pemerintah pada saat itu, bahwa bus yang menyediakan jasa angkutan harus berbentuk kelompok tidak boleh perorangan, sehingga itulah ia tergabung dalam PO Bintang Selatan yang berakhir hingga tahun 1970.

Setelah dari PO Bintang Selatan, barulah Hasan membuat kelompok sendiri yaitu PO Sabang Jaya yang hanya melayani Pangkalping ke Toboali PP.

"Dulunya per orangan tidak diperbolehkan lagi, jadi harus buat kelompok oleh pemerintah, harus memenuhi lima kendaraan, awalnya di PO Bintang Selatan, yang di ketuai oleh almarhum Jubir warga Desa Air Bara, sekitar tahun 1956, pada saat itu melayani trayek Pangkalpinang-Mentok, Pangkalpinang-Toboali, pusatnya di Pangkalpinang. Lalu saya keluar dari PO Bintang Selatan menjadi PO Sabang Jaya mulainya tahun 70-an," ucapnya, sambil menunjukkan satu persatu foto kenangan busnya yang banyak dipajang di dinding rumahnya.

Kemudian pada saat ayahnya meninggal pada tahun 1984, Lie Po Sang mulai meneruskan usaha jasa layanan angkutan bus yang saat itu masih perorangan.

Seiring berjalannya waktu, bus milik Lie Po Sang terus bertambah, hingga ia memiliki 12 izin trayek untuk mobilnya.(*)