Hanya Ada Di Pulau Bangka, Ketika Tradisi Ruwah bak Lebaran Dengan Ketupat Lepat dan Silahturahmi

BANGKAPOS.COM,BANGKA--"Besok jangan lupa datang ke Penagan, kami sedekah Ruwah," ajak Hasyim mengingatkan digelarnya tradisi tahunan Ruwah di desa Penagan Kecamatan Mendobarat Kabupaten Bangka, yang jatuh pada hari Kamis (11/5/2017).

Desa Penagan sendiri merupakan salah satu desa di Pulau Bangka yang hingga saat ini masih mempertahankan tradisi Ruwah menjelang tibanya bulan Ramadhan.

Tradisi Nisfu Sya'ban yang juga dikenal dengan sebutan ruwah atau ruwah kubur di sejumlah wilayah di Pulau Bangka, umumnya diperingati pada hari yang berbeda.

Baca: Paranormal Ki Gendeng Pamungkas Ditangkap Polisi, Inilah Penyebabnya

Ada yang memperingatinya sebelum jatuhnya tanggal 15 Sya'ban, ada yang bertepatan dengan malam dan hari ke 15 Sya'ban, ada pula pasca tanggal 15 Sya'ban.

ketupat dan lepat Bangka (bangkapos.com)

Selain dirayakan berbeda hari, puncak pelaksanaan bulan ruwah ini, masing-masing wilayah juga memiliki bentuk perayaan yang khas pula.

Di Desa Keretak Kecamatan Sungaiselan Kabupaten Bangka Tengah, tradisi Ruwah tahun ini digelar Selasa (9/5/2017) dan berlangsung meriah bak perayaan lebaran Idul Fitri atau Idul Adha.

Ribuan warga dari pelosok Pulau Bangka maupun kota-kota lainnya berdatangan ke desa ini untuk bersilahturahmi dan pintu-pintu rumah warga terbuka lebar menyambut tamu yang datang.

Berbagai makanan, penganan dan lauk pauk khas lebaran seperti ketupat lepat menjadi sajian khas menyambut tamu yang datang.

Baca: Vonis Ahok 2 Tahun, Hakim Dwiarso Didoakan Begini Oleh Netizen

Tradisi Ruwah Kubur yang rutin yang dilaksanakan menjelang datangnya bulan bulan suci Ramadhan menjadi agenda rutin yang dilaksanakan tiap tahun pada tanggal 12 bulan Sya’ban setiap tahunnya oleh masyarakat Desa Keretak Kecamatan Sungai Selan.

Acara Ruwah Kubur tersebut berlangsung sangat meriah itu dapat ditandai dengan dengan jumlahnya mencapai ribuan orang.

Acara Ruwah kubur berlangsung sejak pagi hari tersebut selain mengandung makna tradisi yang tinggi juga mengedepankan nilai agama yang kuat.

Hal ini dapat dilihat dengan pembacaan Surat Yasin sebagai awal dibukanya acara yang diikuti oleh ribuan jamaah.

Pembacaan Surat Yasin dilangsungkan dilapangan yang berdekatan dengan pekuburan desa dan dilajutkan dengan mendoakan arwah leluhur. Ruwahan Keretak atau sering disebut Ruwah Kubur adalah merupakan Pembacaan Yasin bersama di kuburan doa bagi ketengan jiwa orang yang telah berpulang ke Rahmatullah.

Baca: Salurkan Hobi Berburu, Pemburu Tupai Malah Meregang Nyawa di Pondok Kebun Warga

Ruwah kubur ini dilakukan oleh keluarga, kerabat dan bahkan dilakukan beramai-ramai.

Desa Keretak bersifat unik dan istimewa untuk menyambut Ruwah Kubur, karena dikemas dalam rangkaian acara ruwahan seperti antara lain :

1. Pembacaan Yasin, Tahlil dan doa untuk para arwah yang telah meninggal dunia.

2. Nganggung bersama bersama bersifat gotong royong dimana masing-masing kepala keluarga membawa dulang yang berisikan makanan secara sukarela.

3. Tabliq akbar yang mengundang penceramah tersohor di Indonesia.

" Seperti tahun-tahun sebelumnya tradisi lebaran Ruwah Keretak diawali Yasinan bersama di Pekuburan Keretak, lalu ada nganggung dan ceramah agama dan terakhir acara silahturahmi. Untuk ruwah Keretak, ketupat dan lepat menjadi keharusan dan Ruwah inilah bagi warga lebaran yang paling meriah," ungkap tokoh masyarakat Desa Keretak Adet Mastur.

Ia menjelaskan, pihaknya merencanakan tradisi lebaran Ruwan tahun depan akan digelar lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.

Selain diisi dengan tradisi yang sudah rutin dilaksanakan, rencananya Ruwah tahun depan akan diisi dengan ritual Taber Kampung, lomba penulisan asal usul desa Dan objek wisata desa.

"Kita punya objek wisata air pansa, hutan adat Desa dan tradisi ruwah, kedepan desa kami akan dikembangkan jadi desa wisata," ungkap ketua Komisi I DPRD Babel ini.

Sambut Datangnya Bulan Suci

Perang Ketupat (BANGKA POS/Iwan Satriawan)

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pangkalpinang dan Sejarahwan Bangka Ahmad Elvian kepada Bangkapos beberapa waktu lalu menjelaskan ruwahan atau sedekah ruwah merupakan upacara penyambutan kedatangan bulan suci Ramadan.

Ruwahan dilakukan pada pertengahan bulan Sya'ban sehingga sering disebut dengan Nisfu Sya'ban.

Pada bulan ini masyarakat biasanya melakukan acara bersih kubur dan ziarah ke kuburan keluarga masing-masing.

Sementara pada pekan-pekan pertengahan bulan Sya'ban masyarakat melaksanakan acara sedekah ruah dengan menyiapkan makanan, biasanya tidak ketinggalan seperti gulai ayam atau daging sapi untuk disantap bersama, baik oleh keluarga maupun oleh tetangga sekitarnya.

"Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan terhadap arwah orang yang sudah meninggal dan merupakan warisan dari Hinduisme. Ruwah  berarti arwah leluhur atau nenek moyang jadi ruwahan berarti bulan mengenang arwah leluhur atau nenek moyang. Tradisi ini merupakan warisan Majapahit dengan tradisi agama Hindu ketika Majapahit berkuasa di pulau Bangka sekitar abad 13 Masehi," jelas Elvian, kepada bangkapos.com.

Paling tidak, ada tiga wilayah di Pulau Bangka yang hingga saat ini merayakan tradisi ruah dengan lebih semarak dibanding wilayah lainnya.

Pertama Tempilang, perayaan ruwah di wilayah ini kemudian dikenal dengan kekhasan tradisi Perang Ketupat.

Kedua Desa Keretak, yang perayaan ruwahnya disemarakkan dengan tradisi Selawang Segantang  dan 'namu' ke rumah-rumah.

Ketiga, Kecamatan Mendobarat yang memfokuskan peringatan ruwah dengan tradisi namu, Sepintu Sedulang dan ziarah kubur.(*)