Hanya di Pulau Bangka, Idul Adha Sama dengan Lebaran Idul Fitri, Silaturahmi dan Kue di Meja

BANGKAPOS.COM - Syarief terkejut manakala mendengar suasana hari raya Idul Adha di Bangka sama meriahnya saat Idul Fitri.

Dia semakin kaget saat tahu usai shalat Ied, warga saling bersilaturahmi ke rumah keluarga, kerabat dan tetangga persis Idul Fitri.

Tak hanya itu, Syarief terperanjat ketika para karyawan di perusahaan yang dipimpinnya satu hari sebelum Idul Adha sibuk di dapur.

"Ternyata ada kue-kue dan makanan khas lebaran yang dihidangkan. Kalau di tempat lain, usai shalat Ied, tidak ada lagi acara kecuali sembelih hewan kurban," ungkap Syarief warga Pekanbaru, Riau ini.

Dia biasanya rutin pulang ke Pekanbaru satu bulan sekali. 

Ini kali pertama dia merasakan lebaran Idul Adha di daerah lain, tepatnya di Kota Pangkalpinang.

Suasana lebaran Idul Adha di Kota Pangkalpinang (Istimewa)

Baca: Suami Rela Istrinya Tidur dengan Pria Lain, Alasannya Masuk Akal Tapi Bikin Ngelus Dada

----------------

Usai shalat Ied, Tina warga Opas Kota Pangkalpinang bergegas ke rumah orangtuanya, Jumat (1/9/2017).

Ibu 5 orang cucu ini tak melupakan tradisi silaturahmi yang berlangsung turun temurun di Pulau Bangka.

"Jadi anak cucu ngumpul di rumah nek usang (sebutan pada perempuan yang sudah bercicit)," katanya.

Tampak susunan kue di meja ruang tamu dilengkapi minuman teh kotak dan panganan lainnya.

Di rumah Nek Senainah warga Opas itu, tersedia beragam makanan mulai dari ketupat, opor, serundeng, dan tidak ketinggalan opor bebek.

Dia termasuk sepuh, yang memiliki 12 anak dan puluhan serta cicit.

Tak lupa usai shalat Ied, dia mengantar makanan di dulang ke masjid. Nganggung adalah tradisi makan bersama di langgar atau masjid.

"Alhamdulillah makanan habis dimakan semya," ujar Nek Senainah sambil membuka tutup dulang.

Suasana lebaran Idul Adha di rumah warga Kota Pangkalpinang. (Bangkapos/alza)

Baca: Memilukan, Dokter Tak Tahu Nama Penyakit Gadis Ini, Kisah Hidupnya Tragis

Sementara di Alun-alun Taman Merdeka Pangkalpinang, ribuan umat muslim melaksanakan shalat Ied.

Lafaz takbir, takmid, tahlil dan tasbih bersahut-sahutan, sebagai ungkapan keagungan Ilahi.

Wajah-wajah bahagia terpancar sebagai wujud kegembiraan merayakan Idul Adha.

Hari raya Idul Adha disebut juga Idul Qurban, sebagai hari pengorbanan Nabi Ibrahim yang diperintahkan Allah menyembelih putranya, Ismail.

Atas ketaqwaan Ibrahim, Allah mengganti Ismail dengan domba.

Sejak saat itulah, umat Islam melakukan penyembelihan hewan kurban.

Bagi umat Islam yang tidak melakukan ibadah Haji, termasuk Muslim di Indonesia, mereka disyariatkan untuk melakukan salat Idul Adha.

Baca: Dulu Gadis Ini Terlahir Tanpa Wajah, Dokter Sampai Nggak Percaya Lihat Kondisinya Sekarang

Agar hari raya berlimpah pahala, maka ada beberapa adab yang harus diikuti:

1. Mandi besar

Dari Nafi’, beliau mengatakan bahwa Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma mandi pada hari Idul Fitri sebelum berangkat ke lapangan. (HR. Malik dan asy-Syafi’i dan sanadnya shahih)

Dibolehkan untuk memulai mandi hari raya sebelum atau sesudah subuh.

Ini adalah pendapat yang kuat dalam Madzhab Syafi’i dan pendapat yang dinukil dari imam Ahmad.

2. Memakain wangi-wangian bagi pria

Dari Ibnu Abbas, bahwa pada suatu saat di hari Jumat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda "Sesungguhnya hari ini adalah hari raya yang Allah jadikan untuk kaum muslimin. Barangsiapa yang hadir jumatan, hendaknya dia mandi. Jika dia punya wewangian, hendaknya dia gunakan, dan kalian harus gosok gigi.” (HR. Ibn Majah dan dihasankan al-Albani)

3. Mengenakan pakaian yang paling bagus

Dari Ibnu Umar, beliau mengatakan: Umar bin Khathab pernah mengambil jubah dari sutra yang dibeli di pasar.

Baca: Pria Kaya Bermobil Mewah Ini Dibuat Melongo Oleh Kakek Bersepeda Butut di Kandang Kambing

Kemudian dia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Ya Rasulullah, saya membeli ini, sehingga engkau bisa berhias dengannya ketika hari raya dan ketika menyambut tamu. Namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya karena baju itu terbuat dari sutra. (HR. Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i)

4. Tidak Makan Sampai Pulang dari Shalat Idul Adha

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berangkat menuju shalat Idul Fitri sampai beliau makan terlebih dahulu, dan ketika Idul Adha, beliau tidak makan sampai shalat dahulu. (HR. At Turmudzi, Ibn Majah, dan dishahihkan al-Albani)

5. Berjalan kaki ke lapangan dengan penuh ketenangan

Dari sa’d radliallahu ‘anhu, bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju lapangan dengan berjalan kaki dan beliau pulang juga dengan berjalan. (HR. Ibn majah dan dishahihkan al-Albani)

6. Mengambil jalan yang berbeda ketika pulang

Anjuran ini didasarkan pada kebiasaan yang dilakukan oleh Rasulullah Muhamad SAW.

7. Tidak ada shalat sunnah sebelum ataupun sesudah salat Ied

Dari Ibn abbas,Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju lapangan ketika Idul Fitri, kemudian shalat dua rakaat. Tidak shalat sunah sebelum maupun sesudahnya. Dan beliau bersama Bilal. (HR. Bukhari dan al-baihaqi)

8. Mendengarkan khutbah setelah salat Id

Mendengarkan khutbah setelah salat Id adalah sunah, ini didasarkan pada hadits shahih, bahwasanya Rasulullah bersabda:

”Sesungguhnya kami berkhutbah, barang siapa yang mendengarkannyamaka duduklah dan barang siapa yang ingin pergi maka pergilah.”[H.R. Abu Dawud, An Nasai Dan Ibnu Majah]

9. Wanita haid tetap menuju ke lapangan

Dari Ummu ‘Athiyah radliallahu ‘anha mengatakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk mengajak keluar gadis yang baru baligh, gadis-gadis pingitan, dan orang-orang haid untuk menghadiri shalat Idul Fitri dan Idul Adha…. Saya bertanya: Ya Rasulullah, ada yang tidak memiliki jilbab? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hendaknya saudarinya meminjamkan jilbabnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Saat wanita hendak menuju lapangan, diwajibkan mengenakan jilbab.