Pengisian Wabup Bateng Lamban, Ibrahim Sebut Bupati Sedang Galau

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pengamat Politik Bangka Belitung Dr Ibrahim menilai saat ini Bupati Bangka Tengah Ibnu Saleh sedang galau dalam memilih Wakil Bupati sebagai pendampingnya mengelola amanah masyarakat Bangka Tengah.

Kata Ibrahim, lambannya proses pengisian Wakil Bupati Bangka Tengah menunjukkan sedang galaunya Ibnu Saleh sebagai bupati.

Meski proses pengisian ini melibatkan partai pengusung, namun bola sebenarnya sedang ada di tangan Bupati.

"Proses pengisian ini berdasarkan usulan Bupati dengan mempertimbangan usulan dari partai pengusung. Artinya, proses ini melibatkan aktor kecil, yakni bupati dan pimpinan partai pengusung. Saya sulit memahami seberapa galau sebenarnya Bupati untuk mengambil keputusan mengingat tentu proses pengisian ini tidak serta-merta," ujar Ibrahim.

Proses elektoral, kata Dosen Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung ini, sudah berjalan lama dan Ibnu Saleh sebagai wakil bupati sebelumnya sudah sangat menyadari konsekuensi yang sedang terjadi.

Artinya, sudah cukup lama waktu yang dimiliki oleh Ibnu Saleh untuk memikirkan siapa figur yang paling tepat untuk mendampinginya.

"Saya menduga ada proses negosiasional yang alot dan sulit. Saya khawatir jika Bupati terjepit di antara beberapa kekuatan politik yang lebih besar. Bisa saja ada kekuatan kapital atau poros kekuatan baru yang membuat Ibnu Saleh tidak leluasa untuk menentukan pendampingnya.

Saya membayangkan, Ibnu Saleh punya idealisasi figur, namun peta politik di sekelilingnya, baik dari partai pengusung maupun kekuatan politik diatasnya membuat ia tidak leluasa," tukas Ibrahim.

Doktor politik ini menilai, kondisi ini tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut, karena kekuatan politik yang tidak ideal hanya akan mendorong lahirnya kondisi negosiasional ketimbang idealisme.

Masyarakat akan dirugikan jika Bupati lamban mengambil keputusan. Kelambanan ini menguatkan kecurigaan bahwa ada problem besar yang menjebak Bupati Bateng Ibnu Saleh.

"Kita tidak menginginkan jika bupati dibayang-bayangi oleh tekanan dan membuat ia tidak nyaman selama paruh masa jabatannya. Pengisian bupati yang lahir dari tawar-menawar hanya akan melahirkan figur yang berorientasi jabatan, bukan kebutuhan bupati atau kebutuhan daerah. Lebih problematik lagi jika figur yang akhirnya diambil lahir dari nego kekuatan antardaerah, bukan riil kebutuhan masyarakat Bangka Tengah atau sekurang-kurangnya familiar dengan kebutuhan masyarakat di daerah ini," papar Ibrahim.

Lambannya pengisian ini sekurang-kurangnya berimplikasi pada roda pemerintahan yang berjalan kurang maksimal. Roda pemerintahan pincang, apalagi posisi wakil bupati harusnya fokus pada urusan pembenahan internal pemerintahan.

Lebih luas tentu menyangkut soal keterbatasan bupati untuk menghadapi banyaknya persoalan-persoalan daerah.

"Lambannya pengisian ini juga mengisyaratkan bahwa bupati sedang galau. Jika berlanjut, bisa saja bupati akan disebut sebagai bupati galau. Wibawa beliau akan mengalami degradasi jika semakin lamban," tukas Ibrahim. (*/doi)