Tes Keperawanan di Atas Kain Putih, Jika Tak Perawan Wanita Ini Akan Dibeginikan

BANGKAPOS.COM - Malam pertama merupakan rahasia yang harus dijaga oleh pasangan suami-istri.

Tak pantas jika membicarakan tentang malam pertama kepada orang lain.

Apalagi jika ada kekurangan dalam hubungan suami-istri tersebut.

Ada sebuah tradisi di Kabupaten  Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan (Sumsel) soal malam pertrama.

Seorang wanita yang tak disebutkan namanya mengatakan, keluarganya masih memegang teguh "tradisi cengkung".

Dalam tradisi tersebut, pasangan pengantin yang baru menikah diwajibkan melakukan "malam pertama" di atas sehelai kain putih.

Di saat bersamaan, beberapa orang sesepuh dari pihak keluarga pengantin laki-laki menunggu di dekat pintu (luar kamar).

Setelah sepasang pengantin selesai melakukan tugasnya, para sesepuh itu akan masuk ke kamar dan memastikan kain putih tersebut ada bekas "darah perawan" atau tidak.

"Saya tahu darah yang keluar saat bercampur tidak bisa menjadi patokan perempuan masih perawan atau tidak. Tapi keluarga saya tetap keukeh melaksanakan adat itu. Saya bingung ustaz," ujar perempuan itu saat berkonsultasi dengan ustaz.

Sang ustaz menyimpulkan bahwa tradisi itu bertentangan dengan syariat Islam.

"Agama kita tidak mengajarkan seperti itu. Kamu harus memberi penjelasan dengan cara yang baik kepada pihak keluargamu. Bahwa kita harus menjaga pergaulan, betul. Tapi tidak begitu caranya," ujar sang ustaz.

Seseorang bekas penghulu di salah satu desa dalam wilayah kecamatan Penukal, PALI, tempat tradisi itu pernah ada. H Wancik (65), orangnya.

Dikutip dari Sriwijaya Post, ia menceritakan, sebelum tahun 90-an, jejaka yang ingin bertemu gadis pujaannya harus bernyali dan berjuang keras.

Pada masa itu, bertemu dan berduaan harus sembunyi-sembunyi jika tak ingin babak belur dan dikenakan denda.

"Kalau mau ketemu gadis, harus sembunyi-sembunyi. Kalau ketahuan bisa dipukul atau dibawa ke rumah kepala desa dan dikenakan denda," kata Wancik,

Menurut Wancik, ketatnya aturan pergaulan antara pria dan wanita tersebut bukan tanpa sebab.

Hal ini dilakukan karena keluarga sang gadis berusaha menjaga kehormatan dan kesucian anak gadisnya.

Juga agar tidak malu, saat sang gadis menikah pada saatnya.

Bagi pria, keperawanan adalah kehormatan seorang gadis pada masa itu.

"Mempelai pria bisa saja mengembalikan perempuan yang baru saja dinikahinya kalau terbukti tak perawan lagi. Makanya ada adat seperti itu," katanya.

Wancik menjelaskan, pada malam pertama, keluarga mempelai pria akan membentangkan sehelai kain putih di atas tempat tidur pengantin.

Kemudian, keluarga pria yang terdiri dari sesepuh akan menunggu di depan pintu kamar pengantin, selama proses malam pertama bercampur.

Ilustrasi ()
Setelah kedua mempelai selesai "becampur", maka para orang tua atau sesepuh keluarga akan memeriksa kamar pengantin yang telah selesai digunakan.

Kain putih yang menjadi alas akan diperiksa.

Mereka akan membuktikan apakah di kain itu ada bercak darah yang dianggap sebagai bukti bahwa pengantin wanita masih perawan atau tidak.

Bila didapati ada bercak darah, maka para tetua mempelai pria akan memukul cengkung (sejenis gong kecil) untuk diperdengarkan pada masyarakat banyak.

Suara cengkung mengandung informasi bahwa pengantin perempuan masih perawan.

Sebaliknya, jika tidak ditemukan bekas atau noda darah di kain itu, maka tidak ada bunyi cengkung.

"Jika itu terjadi, maka pengantin periah berhak memilih apakah tetap mau melanjutkan pernikahan atau mengembalikan pengantin perempuan kepada keluarganya. Tentunya sangat memalukan dan itu yang dikhawatirkan pihak keluarga perempuan," kata Wancik.

c ()
Tiga Bulan Nikah Sudah Lahiran

Cukup lama tradisi ini berjalan di tengah masyarakat Penukal, dan itu dianggap positif karena mampu mencegah pergaulan bebas antara laki-laki dan perempuan saat itu.

Sampai akhirnya muncul sebuah tindakan yang dianggap telah menghianati tradisi ini, sekaligus membuat masyarakat setempat tak mau lagi melaksanakannya.

"Waktu saya jadi ketib (penghulu), sekitar tahun 1990-an ada pihak pengantin pria memukul cengkung, tanda pengantin perempuan masih perawan. Tapi tak sampai tiga bulan menikah, istrinya melahirkan. Saya marah karena mereka sudah membohongi adat. Untuk apalagi ada cengkung kalau pengantin wanitanya tidak perawan lagi. Sejak kejadian itu, orang mulai meninggalkan tradisi ini, karena dianggap tidak ada gunanya lagi," ujar Mat Nur, mantan penghulu era 90-an.

Hal senada dikatakan Zulkopli, Kepala Desa Purun, Kecamatan Penukal. Lunturnya tradisi itu juga dipicu kemajuan teknologi dan informasi.

Menurut dia, generasi muda dengan mudah bisa mengadopsi gaya hidup bebas.

Bahkan duduk berduaan antara laki-laki dan perempuan bukan muhrim juga tak lagi dianggap tabu.

"Kalau dulu, membuat janji nikah saja cuma ngobrol tanpa bertatap muka. Rumah di sini kan panggung, jadi gadis di dalam rumah, sementara pemuda di bawah rumah," katanya.

Saat menikah di tahun 1991, Zulkopli memang tak lagi menggunakan adat tersebut. Namun pembatasan pergaulan antar bujang dan gadis masih tetap terpelihara. "Kalau sekarang, saya tak tahu lagi mau bilang apa," ujarnya.