Fakta Tentang Siswi di Bangka Barat Kedapatan Hamil, Awalnya Dua yang Dicurigai

BANGKAPOS.COM, MONTOK -- Sebuah SMA di Kabupaten Bangka Barat, mendadak menggelar tes kehamilan ke para siswi di sekolahnya, Kamis (28/9) lalu. Pihak guru di sekolah tersebut secara mendadak memanggil setiap siswi, untuk masuk ke toilet untuk diambil sampel urinenya.

Sampel urine kemudian di tes menggunakan alat tes kehamilan. Hasilnya mengejutkan.

Satu dari ratusan anak perempuan yang menjalani tes dinyatakan positif hamil.

Kepala Sekolah (yang menggelar tes kehamilan) membenarkan, bahwa pihak sekolah telah melakukan pemeriksaan urine para siswi di sekolahnya, Kamis (28/9) lalu.

"Pelaksanaan tes kehamilan terhadap setiap siswi dilakukan, menyusul terjadinya kasus seorang siswi di salah satu sekolah setingkat SMA di Kecamatan Belinyu, yang melahirkan anak di sekolahnya. Begitu kami mendengar kabar kejadian di Belinyu itu, kami langsung melakukan pemeriksaan ke semua siswi, kami kerjasama dengan tenaga medis puskesmas di daerah kami," ungkap Kepsek tersebut, dikonfirmasi Bangka Pos Group Senin (2/10).

Kepala Sekolah juga mengungkapkan soal hasil pelaksanaan tes kehamilan.

"Awalnya ada dua siswi yang dicurigai positif, tapi setelah diperiksa secara cermat, hanya satu siswi positif (hamil). Satunya negatif," ungkapnya.

Pihak sekolah langsung mengambil tindakan secara tegas, terhadap siswinya yang dinyatakan positif hamil. Tindakan tegasnya yakni mengeluarkannya dari sekolah.

"Ya tindakan kami tetap tegas, siswa kami yang dinyatakan positif hamil, kami keluarkan dari sekolah," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Pemkab Bangka Barat Ismantho, mengatakan tidak ada informasi masuk ke Dinas Dikpora, soal pelaksanaan tes kehamilan di sebuah SMA di Kabupaten Bangka Barat tersebut.

"Kan sekarang untuk SMA sudah kewenangan provinsi, jadi kalau ada apa-apa, pihak SMA laporannya langsung ke Dinas Pendidikan Provinsi. Laporan ke kami sudah jarang, karena SMA kan ranah provinsi. Kalau kabar yang di Belinyu saya tahu dari koran," ujar Ismantho.

Pelaksanaan tes kehamilan yang dilakukan secara mendadak di sekolah tersebut, juga diungkapkan oleh sejumlah siswi sekolah setempat.

"Aok (iya) Mas, kami kemarin ikut di tes juga. Semua cewek (siswi) dites. Disuruh kencing dan diambil sampel air kemihnya, pas kami ambil sampel urine, guru kami berjaga tepat di pintu toilet depan. Ade budak (ada siswi) yang positif (hamil)," ujar Zk salah satu siswi di sekolah tersebut.

Siswi lainnya Pi dari sekolah yang sama juga menyebutkan, soal pelaksanaan tes kehamilan yang dilakukan secara mendadak di sekolahnya.

Tes kehamilan yang dilakukan secara mendadak di salah satu SMA tersebut juga mendapatkan tanggapan dari sejumlah orang tua siswa siswi dan warga di daerah setempat.

Menurut Kanda (ortu siswi), apa yang dilakukan pihak sekolah, yakni tes urine untuk mengetahui apakah ada kehamilan para siswinya yang hamil atau tidak, langkah itu satu terobosan yang tepat dan jenius.

"Kami tahu yang sekolah mana yang melakukan tes kehamilan ke semua siswinya itu. Anak saya juga cerita kok, bahwa di sekolahnya melakukaan tes kehamilan, apa yang dilakukan pihak guru di SMA, itu terobosan tepat, itu sekolah yang cerdas dan tanggap, saya pikir semua sekolah harus meniru langkah SMA tadi," ujar Kanda.

Ortu siswi lainnya, Syarif mengatakan, belajar dari apa (tes kehamilan ke semua siswi) yang dilakukan oleh pihak SMA tersebut, maka para orang tua juga harus memperkuat kontrol dan pengawasan ke anak-anaknya. (yik)
-
Tak Boleh Samaratakan
KEPALA Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Soleh menyayangkan adanya pemeriksaan kehamilan di salah satu sekolah di Babel.

Menurutnya, pemeriksaan kehamilan sangat tidak elok dilakukan di lembaga pendidikan. Terkecuali hal ini sudah mendesak dan sudah ditemukan adanya indikasi kehamilan.

Dijelaskan Soleh, sekolah tidak boleh menyamaratakan seluruh siswa hanya lantaran ada satu siswa yang terindikasi hamil.

"Lembaga sekolah ini mendidik anak-anak yang berpendidikan, berkarakter, kalau pemeriksaan kehamilan di sekolah ini kurang tepat, kecuali sangat mendesak dan itupun bukan berarti diratakan seluruh anak diperiksa, hanya anak-anak yang terindikasi dan memang sangat-sangat dibutuhkan," kata Soleh, Senin (2/10).

Dirinya tak menampik, paska kejadian siswa yang melahirkan di toilet soleh benar-benar mencoreng dunia pendidikan. "Sangat malu kita, tidak hanya mencoreng pendidikan di Babel, tapi juga secara nasional, jangan sampai ini terulang lagi," katanya.

Menurutnya, sekolah sah-sah saja memberikan sanksi bagi siswi yang diketahui hamil. Menurutnya, siswi yang hamil memang tidak melanjutkan pendidikannya di sekolah formal lantaran bertentangan dengan aturan.

"Sekolah memberikan sanksi itu wajar, karena kan sekolah punya tata tertib yang telah disetujui sekolah, siswa, dan orangtua. Panggil orangtuanya, pendidikannya jangan putus tapi dialihkan ke paket kesetaraan, karena memang yang berkeluarga tidak boleh di sekolah formal, makanya disiapkan tempat untuk pendidikan kesetaraan," katanya.

Ia juga mengingatkan agar pihak sekolah memberikan pendidikan seks bagi para pelajar, terutama pelajaran yang berkaitan langsung hal ini sebagai bentuk antisipasi terjadinya pergaulan bebas.

"Pendidikan seks itu sudah enggak tabu lagi di era ini, enggak ada salahnya guru mengedukasi siswa misalnya pelajaran IPA itu dijelaskan dampak dari pergaulan bebas, dampak secara sosial, hukum, dan agama sehingga membuat siswa mengerti dan tidak melakukan ini," katanya.

Menurutnya, pendidikan merupakan tanggungjawab bersama, dirinya juga mengingatkan peran orang tua untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan, keimanan, dan karakter.

"Pembentukan karakter ini diawali di rumah, orangtua jangan lepas tanggungjawab, perhatikan dan peduli pada anak, apalagi kegiatan-kegiatannya jangan sampai sudah jadi korban baru menyesal," pesannya. (o2)