Laut Pering Merupakan Ladang Penghidupan Para Nelayan

Laporan Wartawan Pos Belitung, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Junaidi (54), perwakilan nelayan Kecamatan Kelapa Kampit mengatakan, laut Pering dan sekitarnya merupakan ladang penghidupan para nelayan.

Menurutnya, hasil tangkapan nelayan di laut Pering dan sekitarnya jauh berkurang sejak adanya kapal isap.

Junaidi mengaku geram dan kesal dengan kondisi ini. Keberadaan kapal isap di perairan laut Pering dinilai berdampak pada ribuan nelayan di pesisir kecamatan Kelapa Kampit.

Efek merusak kapal isap juga dinilai berdampak pada perairan Damar bahkan hingga ke perairan Kabupaten Belitung. Pihaknya menenggat sudah ada tindakan dari pemerintah selama jangka waktu tiga hari ke depan.

"Kami kan tidak pernah menyusahkan dengan minta bantuan (program) pemerintah, tapi kenapa sepertinya tidak pernah peduli dengan kami. Ini yang kami kesalkan. Kami dapat ikan jauh, lumpur," ujarnya usai RDP bersama Pemkab dan DPRD Beltim, Selasa (3/10/2017) sore.
"Padahal saat ini kami harusnya sedang musim panen cumi bulan-bulan ini. Sudah dua tiga bulan ini kami tidak dapat hasil," beber rekan Junaidi lainnya.

Catatan Pos Belitung, polemik keberadaan kapal isap di laut Pering terus berkepanjangan. Keberadaan kapal ini di laut Pering bahkan telah membuat polemik sejak satu tahun belakangan.

Sempat ada aksi ribuan warga sampai Bupati Belitung Sahani Saleh (Sanem)dan Bupati Belitung Timur Yuslih Ihza ikut turun bersama warga mendatangi kapal isap tersebut.

Yuslih Ihza juga pernah membuat surat yang meminta agar kapal 'lari' dari laut Pering. Kapal memang hengkang dari laut Pering, tapi hanya berpindah ke perairan Manggar sementara dengan alasan berteduh.

Belakangan, kapal dikabarkan kembali lagi ke laut Pering dan kembali diributkan oleh nelayan. (*)