Siswi yang Melahirkan di Toilet Sekolah Akui Pria Ini Ayah Bayinya, Begini Cara Mereka Intim

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pelaku yang membuat siswi di sebuah SMK di Belinyu hamil akhirnya terungkap.

Pemuda 25 tahun itu mengaku dia yang menghamili siswi tersebut.

Sampai akhirnya, sang siswi terpaksa harus melahirkan di toilet sekolah.

Perbuatan tersebut dilakukan pelaku dan korban pada Februari 2017 lalu.

Akibatnya, korban mengandung selama 7 bulan lebih dan sampai melahirkan tanpa pertolongan siapapun. 

Pelaku kini ditahan polisi karena tuduhan persetubuhan anak di bawah umur.

Pelaku berinisial ES alias DM (25) adalah warga Batutunu Kutopanji Belinyu Bangka.

Kasus itu terungkap setelah korban buka mulut.

Dia mengaku kepada orangtuanya bahwa ES yang menyetubuhinya.

Hubungan badan itu pertama kali dilakukan di bawah pohon kawasan Batutunu Belinyu.

Baik korban maupun pelaku tidak menyadari akibat perbuatan itu membuat siswi SMK tersebut hamil.

Tidak disebutkan, apakah pelaku kembali mengulangi perbuatannya setelah kejadian di bawah pohon tersebut.

Pihak kepolisian yang menerima laporan orangtua korban bergerak cepat.

Pelaku ditangkap tanpa perlawanan di rumah temannya.

Kapolres Bangka AKBP Johannes Bangun diwakili Kabag Ops Kompol S Sophian dikonfirmasi, Senin (2/10/2017) pukul 23.00 WIB mengakuinya.

"Terkait Laporan Polisi  persetubuhan anak di bawah umur, sudah terungkap," kata Sophian.

Berdasarkan Laporan Polisi Nomor: LP/B-446/X/2017/Babel/Res. Bangka/Sek Belinyu, Minggu tanggal 1 Oktober 2017 pukul 15.00 WIB telah dilaporkan tindak pidana yang dimaksud oleh orangtua korban.

"Yaitu melakukan persetubuhan terhadap anak bawah umur, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81 Ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 2 tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2012 tentang perlindungan anak," katanya.

Pelapor, RM alias BJ (33), adalah ayah korban, berstatus buruh harian, warga Dusun Cangkum Desa Ridingpanjang Kecanatan Belinyu Bangka.

"Sedangkan tersangka ES alias DM (25 ), buruh harian, warga Kampung Batutunu Kuto Panji Belinyu," katanya.

Kronologis kejadian menurut Sophian bermula pada Kamis tanggal 28 September 2017 sekitar Pukul 09.00 WIB.

"Saat itu pelapor (ayah korban) mendapat kabar dari salah seorang guru SMK (swasta) Belinyu yang datang ke rumahnya dan menyampaikan bahwa putrinya (korban) telah melahirkan seorang bayi perempuan di toilet atau WC sekolah," katanya.

Usai melahirkan di WC sekolah, korban atau anak pelapor menjalani perwatan di klinik bidan di Jl Baru Depan Pekuburan Katolik Kutopanji Belinyu.

"Mendapat laporan tersebut pelapor atau ayah korban bersama dengan guru tersebut langsung mendatangi klinik bidan dan selanjutnya menanyakan kepada korban siapa yang telah menghamilinya," kata Sophian, mengutip kronologis kejadian.

Dari keterangan korban kepada ayahnya, diketahui orang yang telah menghamilinya adalah ES alias DM, warga Batutunu Belinyu.

Pengakuan korban,  hubungan intim pertamakali terjadi sekitar Febuari 2017 di bawah pohon kawasan eks tambang timah Batutunu Belinyu.

"Mendapat laporan tersebut selanjutnya sekira pukul 16.00 WIB, anggota Polsek Belinyu berhasil mengamnkan pelaku di rumah temannya di Kampung Batutunu Kelurahan Kutopanji  Belinyu," tegas Sophian.

Dia memastikan, hingga Senin (2/10/2017) malam, tersangka pelaku masih diamankan di ruang tahanan Polsek Belinyu.

Pemeriksaan kehamilan

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Soleh menyayangkan adanya pemeriksaan kehamilan di salah satu sekolah di Bangka Barat.

Menurutnya, pemeriksaan kehamilan sangat tidak elok dilakukan di lembaga pendidikan.

Terkecuali hal ini sudah mendesak dan ada ditemukan indikasi kehamilan.

Dijelaskan Soleh, sekolah tidak boleh menyamaratakan seluruh siswa hanya lantaran ada satu siswa yang terindikasi hamil.

"Lembaga sekolah ini mendidik anak-anak yang berpendidikan, berkarakter, kalau pemeriksaan kehamilan di sekolah ini kurang tepat, kecuali sangat mendesak dan itupun bukan berarti diratakan seluruh anak diperiksa, hanya anak-anak yang terindikasi dan memang sangat-sangat dibutuhkan," kata Soleh, Senin (2/10/2017).

Dirinya tak menampik, paska kejadian siswa yang melahirkan di toilet sekolah benar-benar mencoreng dunia pendidikan.

"Sangat malu kita, tidak hanya mencoreng pendidikan di Babel, tapi juga secara nasional, jangan sampai ini terulang lagi," tegasnya.

Selain itu, pemberian sanksi bagi yang dilakukan sekolah bagi siswa yang melanggar aturan seperti hamil merupakan hal yang lumrah.

Menurutnya sanksi berupa dikeluarkan dari sekolah sudah menjadi aturan yang disepakati sekolah, siswa dan orangtua yang tertuang dalam tata tertib sekolah.

Lanjutnya, siswi yang hamil memang tidak dapat melanjutkan pendidikannya di sekolah formal lantaran bertentangan dengan aturan.

"Sekolah memberikan sanksi itu wajar, karena kan sekolah punya tata tertib yang telah disetujui sekolah, siswa, dan orangtua. Panggil orangtuanya, pendidikannya jangan putus tapi dialihkan ke paket kesetaraan, karena memang yang berkeluarga tidak boleh di sekolah formal, makanya disiapkan tempat untuk pendidikan kesetaraan," kata Soleh. (ferry laskari/kris)