Perempuan Terberat di Dunia Ini Meninggal Setelah Sukses Menurunkan Bobot 100 Kilogram

BANGKAPOS.COM- Warga Mesir bernama Eman Ahmed Abd El Aty yang diyakini sebagai wanita terberat di dunia meninggal Senin pagi (02/10) karena gagal jantung dan ginjal di sebuah rumah sakit Abu Dhabi meski sebuah tim yang terdiri lebih dari 20 dokter telah berjuang merawat Eman  sejak tiba di Rumah Sakit Burjeel pada bulan Mei 2017.

Eman, yang berusia pertengahan 30an, pertama mencari perawatan di India, melakukan perjalanan dari kota pelabuhan Alexandria ke Mumbai dengan pesawat Airbus yang dimodifikasi secara khusus pada awal Februari.

Selama ini, Eman tidak pernah meninggalkan rumahnya lebih dari dua dekade karena beratnya mencapai  sekitar 500 kilogram (1.100 pon).

Permintaannya untuk visa India pada awalnya ditolak, namun dia diberi izin setelah men-tweet permohonan bantuan langsung ke menteri luar negeri India, yang melakukan intervensi.

Sebetulnya Eman sudah menjalani operasi bariatrik - prosedur bypass pada lambung untuk mengecilkan perut pada bulan Juni 2017. Operasi ini berhasil menurunkan berat badannya sebanyak 100 kilogram di Rumah Sakit Saifee.

Keluarganya mengatakan kepada dokter bahwa sewaktu kecil ia didiagnosis menderita penyakit kaki gajah, suatu kondisi yang menyebabkan anggota badan dan bagian tubuh lainnya membesar, membuatnya hampir tidak bergerak. Tapi kenyataannya, tubuh Eman terus membesar hingga akhirnya mencapai 500 kg di usia dewasa. 

Sayangnya, sebelum mencapai target berat badan yang ditetapkan oleh tim dokter Rumah Sakit Burjeel Abu Dhabi beserta latihan olahraga, Eman keburu meninggal. Diduga karena obesitas yang dideritanya telah menjalar menjadi komplikasi penyakit yang lain.

Angka kejadian obesitas terus meningkat dari tahun ke tahun. Laporan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2003 menyebutkan bahwa lebih dari 300 juta orang dewasa di dunia menderita obesitas. Bahkan, sebanyak 280.000 orang di Amerika meninggal dunia akibat obesitas setiap tahunnya.

Menurut survei yang dilakukan Riskesda, diperkirakan 10 dari 100 penduduk di Jakarta (10%) menderita obesitas. Parahnya lagi, obesitas biasanya dapat memicu terjadinya penyakit lain seperti: penyakit jantung, arthritis, diabetes melitus tipe 2, hingga hipertensi.

Kelebihan bobot badan dapat sangat mengganggu penampilan bagi sebagian orang. Meskipun demikian, sebagian orang yang lain tetap berpedoman pada slogan “big is beautiful” atau “gemuk itu indah”.

Sekarang ini, banyak ditawarkan berbagai teknik pelangsingan tubuh, mulai dari jamu gendongan, terapi pelangsingan tubuh hingga operasi sedot lemak. Tetapi demikian, banyak juga yang tidak berhasil. Hal ini dikarenakan kegemukan merupakan masalah yang rumit.

Fenomena ini menunjukkan besarnya masalah kegemukan di masyarakat. Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengurangi kelebihan bobot badan, diantaranya pemanfaatan bahan kimia sintetik untuk meningkatkan kemampuan aktivitas tubuh, olahraga secara teratur, pengaturan makanan, dan pemanfaatan bahan alam dari tumbuh-tumbuhan. Pengaturan pola makan dapat menyingkirkan lemak sepanjang kita terus berusaha mempertahankannya.

Di samping mengatur pola makan, untuk menghilangkan kegemukan perlu ada aktivitas fisik yang memadai. Menurut penelitian terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), aktivitas fisik yang tidak memadai menyebabkan kematian 3,2 juta orang per tahun dan orang yang tidak aktif memiliki risiko kematian 20% sampai 30% lebih besar daripada orang yang aktif secara fisik.

Sema Attila, yang memiliki gelar Ph.D. dalam bidang Kedokteran dari Universitas Hacettepe, di Turki, mengatakan aktivitas fisik yang tidak memadai merupakan salah satu faktor risiko utama di antara penyebab kematian di dunia.

"Diperkirakan bahwa 21%  sampai 25%  kanker payudara dan usus besar, 27% diabetes dan 30% penyakit jantung iskemik disebabkan terutama karena tidak aktivitas fisik," katanya.

Seperti yang ditunjukkan oleh data WHO baru-baru ini, 23 % orang dewasa yang berusia di atas 18 tahun tidak cukup berolahraga. Padahal gaya hidup yang tidak aktif adalah masalah penting tidak hanya untuk kelompok usia dewasa tetapi juga untuk anak-anak dan remaja karena 81%  remaja berusia antara 11 dan 17 di dunia tidak cukup berolahraga. 

Namun, banyak hal bisa berubah dengan sedikit penyesuaian gaya hidup kita. (*)