Kisah Kejamnya Westerling dan Serdadu Belanda, 40.000 Jiwa Tewas Dibantai

BANGKAPOS.COM, MAJENE - Kisah pembantaian 40.000 jiwa yang dilakukan pasukan Belanda di bawah komando Westerling di Galung Lombok, Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada 1947 lalu menyisakan luka traumatik bagi keluarga korban.

Adam (80 tahun), salah satu saksi korban pembantaian masih merekam detail peristiwa sadis itu.

Ditemui di rumahnya di Kampung Segeri, Kelurahan Baruga Dua, Kecamatan Banggae Timur, ia menceritakan pembantaian yang dilakukan di depan matanya tersebut.

Adam mengisahkan, mulanya tentara Belanda mengumpulkan seluruh warga dari berbagai daerah di Kampung Segeri, Kelurahan Baruga Dua, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene. Salah satunya adalah ayah Adam. 

Target utama pembunuhan mereka adalah warga sipil yang dicurigai masuk tentara Indonesia.

Belanda memeroleh informasi tersebut dari mata-mata Belanda yang sebagian orang Indonesia sendiri.

Semua warga yang berada di sepanjang rute jalan dari Kampung Segeri hingga Tinambung yang dicurigai lalu diseret serdadu Belanda ke Galung Lombok.

Di tempat ini, mereka dihabisi satu persatu, di antaranya kepala lingkungan, imam kampung, ulama, dan tukang jahit.

“Semua yang ditunjuk mata-mata langsung dihabisi,” kenang Adam, saksi mata pembantaian pasukan Westerling di Desa Galung Lombok Tinambung.

Daftar nama korban pembantaian Westerling pada monumen korban 40.000 jiwa di Galung lombok Tinambung Polewali Mandar, Sulawesi Barat. (KOMPAS.com/Junaedi)

Sebelum pembantaian massal dilakukan, serdadu Belanda memisahkan antara wanita dan anak-anak.

Mereka kemudian mempertontonkan aksi pembunuhan keji terhadap warga yang tidak berdosa tersebut.

Saat pembunuhan massal selesai, tentara Belanda mendapat informasi jika tiga tentara mereka yang sedang menjalankan operasi di Kampung Tidolo tewas dibunuh pejuang setempat.

Tentara belanda kian berang. Semula, mereka hanya menyasar warga yang dicurigai pro tentara dan Merah Putih. Namun mereka pun memburu warga sipil dan kaum perempuan.

Saat itu, seluruh warga Segeri tewas ditembak secara membabi buta. Kecuali mereka yang berhasil lolos masuk ke hutan.

Adam bersama sejumlah keluarga perempuan dan ibunya berhasil melarikan diri ke hutan.

Adam tak henti-hentinya menangis ketika ingat sang ayah yang tewas dibantai serdadu Belanda.

Tak berapa lama, Belanda kembali mendatangi dan menyisir warga Kampung Segeri.

Tidak hanya membunuh penduduknya tapi juga membumi hanguskan kampung tersebut.

Seluruh bangunan rumah dan kandang ternak milik warga dibakar habis.

Untuk mengabadikan peritiwa kelam tersebut, pemerintah hingga kini mengenang ribuan nama yang dikuburkan secara massal di lokasi pembantaian tersebut dalam bentuk monumen.

Menurut Adam, ia sering didatangi Yayasan Komite Utang Kehormatan Belanda untuk mengurus berkas. Yaitu untuk minta maaf dan memberikan ganti rugi atas kejahatan perang dan kemanusiaan yang dilakukan pasca kemerdekaan Indonesia, tepatnya 1 Februari 1947.

(Kompas.com/Kontributor Polewali, Junaedi)

Berita ini sebelumnya diterbitkan Kompas.com dengan judul Kesaksian Korban Pembantaian Westerling yang Tewaskan 40.000 Jiwa