Kanal

Kisah Mengharukan Dibalik Gulung Tikar Toko-toko Ritel

Sebuah toserba Sears di Paramus, Amerika Serikat, yang segera tutup. - (Andrew Seng untuk The New York Times )

Hari Jumat lalu merupakan momen Black Friday untuk tahun ini. Sebagai hari belanja kelas wahid di Amerika Serikat, pesona Black Friday tak pernah pudar hingga beberapa tahun lalu.

Tempat parkir selalu dipenuhi kendaraan para pengunjung yang bersiap memburu barang-barang dengan harga menggiurkan. Antrean pengunjung telah mengular jauh sebelum toko mulai buka.

Baca: Wajah Lucu Jan Ethes Saat Temani Kakeknya Makan Durian

Akan tetapi, semua pemandangan itu sirna. Angela kini berdiri di lorong redup Phillipsburg Mall. Di sebelah toko Sears, tampak pula sejumlah peritel lainnya yang juga tertatih. Deretan etalase kosong terlihat pada toko-toko di sana.

Turbulensi

Adegan kelam itu merupakan simbol kecil dari sulitnya tantangan yang dihadapi toko ritel konvesional negeri adidaya saat ini.

Sejumlah analis memprediksi, peritel konvensional bakal menutup toko lebih banyak tahun ini. Tekanan belanja daring, ditambah sengkarut utang yang dialami peritel, telah menyebabkan gugurnya toko ritel.

Pada kuartal ketiga ini, setidaknya 6.752 gerai direncakan akan gulung tikar. Itu pun belum termasuk jumlah toko kelontong maupun restoran yang mungkin juga tutup, mengacu data International Council of Shopping Centres.

Ivanko_Brnjakovic Ilustrasi ritel

Ribuan pekerja ritel juga telah kehilangan pekerjaan mereka. Ringkasnya, bisnis ritel tengah mengalami kegamangan. “Quo vadis” bahasa kerennya.

Kondisi masyarakat Amerika Serikat saat ini sesungguhnya baik, dalam artian tingkat pengangguran berada di level rendah, pasar saham melonjak, dan kepercayaan konsumen tinggi.

Halaman
1234
Editor: khamelia
Sumber: Kompas.com

Berita Populer