Kisah Anak Kota Putus Sekolah, Jaga Adik hingga Berjibaku di Tambang Timah, Ini Kata Pak RT

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Baju Nando dan Erwin basah. Tampak celana yang dikenakan dua bocah itu kotor terkena lumpur.

Saat disapa, dua anak usia sekolah dasar (SD) itu mengaku terburu-buru. Sambil memacu sepeda motor butut jenis bebek, Erwin menjawab mau ke lokasi tambang timah.

"Pergi dulu bang," ucap Erwin warga Kelurahan Air Mawar RT 01 RW 01 Kecamatan Bukit Intan, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, pekan lalu.

Robain, orangtua Erwin menyebutkan begitulah kebiasaan sehari-hari anaknya.

Anaknya biasa berada di tambang timah konvensional yang berlokasi tak jauh dari mereka tinggal.

Meski dipaksa bahkan dengan sedikit keras, menurut Robain anaknya tetap tak mau sekolah.

Selain Erwin, satu anaknya yang lain, Via (7) belum pernah mengenyam bangku sekolah.

"Tidak ada akte," jawab Robain.

Sementara semangat menyala masih tampak dari wajah Revina (13). Warga di kelurahan yang sama dengan Erwin itu sangat berharap bisa sekolah lagi.

"Mau sekolah," ujar Revina singkat saat berbincang-bincang dengan Bangka Pos pada pekan lalu.

Setelah ucapan itu, Tatapan matanya tiba-tiba sayu.

Dua kantung matanya semakin menebal, seakan tak sanggup menampung bulir bening di dalamnya.

Revina merupakan satu dari 20 anak putus sekolah di RT 01 RW 01 Kelurahan Air Mawar, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. 

Dia sempat mengenyam pendidikan kelas 5 Sekolah Dasar. Karena tuntutan hidup, seragam sekolah pun ditanggalkan.

"Saya punya adik, dari kecil saya yang rawat. Ibu bekerja di pabrik belacan (terasi). Bapak kerja di kampung. Di rumah saya mengasuh adik," ujarnya.

Gadis berambut agak keriting dengan kulit hitam manis ini mengaku sudah lancar membaca dan menulis.

Dia pun sering mengulang-ulang pelajaran dari buku-buku lama di rumahnya. Saat ditanya cita-citanya, seketika Revina bersemangat.

"Mau jadi guru," jawabnya dengan senyum menghiasi bibirnya.

Di kawasan pemukiman sangat sederhana itu, Revina hidup bersama orangtua, sepupu, paman dan bibinya.

Tampak dia sesekali menggendong Elsa, adiknya yang berusia 3 tahun. Revina juga dengan sabar menjaga Elsa yang berjalan kesana kemari.

Selain Revina, ada juga Oktaviani. Pada usianya 7 tahun, Via nama panggilan bocah lucu berambut panjang itu belum bersekolah. Apa daya, orangtuanya tak juga mengurus pendaftaran saat tahun ajaran baru tiba. Saat anak-anak seusianya bergembira di kelas, Via hanya di rumah saja.

"Mau," katanya saat ditanya keinginan bersekolah.

Robain ayah Via mengaku ada 4 anaknya yang belum memiliki akte kelahiran, termasuk Via.

Buruh harian dengan 9 orang anak ini menyebutkan sudah mendaftar Via ke sekolah tetapi terbentur persyaratan akte kelahiran.

Di rumah sangat sederhana itu, Robain hidup bersama istri dan delapan anaknya. Satu anaknya sudah berkeluarga dan kini sudah memiliki bayi yang juga dititipkan di rumah tersebut.

Bisa dibayangkan, di rumah dengan ukuran 3x6 meter itu berkumpul sedikitnya 10 orang dan tidur dalam satu atap.

"Anak saya ada yang belum sama sekali sekolah, ada yang lain sampai SD, ada juga SMK tidak lulus. Sudah dipaksa sekolah tapi mereka tetap tidak mau," ujar Robain.

Fokus cari nafkah

Ema (kanan) saat menjenguk tetangganya, Aminah (Bangka Pos/Alza Munzi)

Ema warga Air Mawar mengatakan, orangtua kadang hanya fokus mencari nafkah untuk makan hari itu.

Kesempatan untuk memikirkan kebutuhan hidup yang lain terabaikan.

"Kami ini dulu kebanyakan buruh pabrik bata. Tujuannya untuk bantu suami. Sekarang tidak kerja lagi karena faktor usia dan kesehatan. Itulah yang kami harapkan ada pemberdayaan perempuan. Sekarang ada yang terpaksa kerja melimbang timah," ujarnya.

Jumat (22/12/2017) sore, Ema membawakan kue pukis untuk tetangganya, Aminah. Pelan-pelan, Aminah mengunyah kue tersebut. Perempuan 82 tahun itu sejak hampir satu tahun ini cuma terbaring di atas kasur seadanya.

Bukan kain yang menyelimuti tubuh nenek renta ini. Tapi karpet plastik yang biasa dipakai untuk alas duduk.

Aminah tinggal seorang diri di sebuah bangunan berdinding batako tanpa plester. Ukurannya sekitar 2,5x3 meter.

Urusan makan dan sebagainya ada anak-anak dan cucu yang membantunya. Kebetulan rumah anak-anaknya bersebelahan dari perempuan itu tinggal.

Aminah tak berdaya. Penyakit stroke menyerang tubuhnya. Sekarang tidak ada sentuhan perawatan medis.

"Pampers seminggu butuh 2 pak, satu pak harganya Rp 50 ribu. Kalau musim hujan seperti ini banyak dipakai," ujar seorang menantunya.

Ema, tetangga Aminah prihatin melihat kondisi perempuan itu. Dia berharap pada usia senjanya, sang nenek mendapat perawatan yang memadai.

"Tapi kondisi yang membuat jadi seperti ini. Untuk sekadar makan saja susah. Sekitar 5 tahun lalu, nenek Aminah ini masih kerja cetak bata sama dengan saya," kata Ema.

Sebanyak20 anak 

Ketua RT 01 RW 01 kelurahan Air Mawar kecamatan Bukit Intan, Mulyono mengatakan ada sekitar 20 anak putus sekolah di RT yang dipimpinnya.

Angka putus sekolah ini umumnya didominasi oleh faktor ekonomi keluarga.

Selain itu faktor pergaulan, dan juga adanya pembiaran dari orangtua yang tidak memaksa anak untuk sekolah.

"Kalau RT 01 adal sekitar 20 anak yang putus sekolah. Ini ya karena dari kehidupan ekonomi orangtuanya dan mampu, kalau yang di BBIL perkampungan pemuda air mawar ada sekitar 54 KK yang paling banyak putus sekolah memang di situ, dan hampir semuanya penerima raskin," kata Mulyono belum lama ini.

Mulyono menambahkan selain faktor ekonomi, pergaulan terutama narkoba juga menjadi ancaman anak-anak usia sekolah ini.

"Faktor pergaulan kenakalan remaja cukup tinggi karena ikut-ikutan, narkoba ini yang kita ngeri entah itu pendatang atau penduduk asli, ini juga menjadi kekhawatiran kami, waktu masih jadi ketua karang Taruna soal narkoba ini lah berapa kali kami sampaikan ke dewan dapil Bukit Intan, ke Polres dan Polsek," katanya.

Anak-anak putus sekolah di RT 01 RW 01 kelurahan Air Mawar kecamatan Bukit Intan, Pangkalpinang, umumnya bekerja sebagai buruh di pabrik bata dan bekerja di tambang inkonvensional (TI) baik sebagai pelimbang maupun menjadi buruh TI.

Ada beberapa yang juga ikut menjadi buruh bangunan.

"Ada juga yang melimbang lah tahu kek duit, ini yang bagi kita miris arahan orangtuanya masih kurang, mereka banyak salah kaprah kalau anak-anak lah pacak cari uang sendiri dak usah sekolah," kata Mulyono.

Mulyono menyebutkan hal ini merupakan persoalan yang dilematis, di sisi lain orangtua tak bisa mengorbankan kebutuhan pendidikan anak untuk bekal masa depan.

Namun, disisi lainnya, ada kebutuhan yang harus dipenuhi seperti makan dan kebutuhan primer lainnya.

"Banyak yang kebentur biaya misalnya dari SD mau ke SMP ini kan biaya cukup besar ini yang paling banyak enggak melanjutkan, tapi ada juga yang memang SD nya enggak lulus, sama juga dengan dari SMP ke SMA, warga kami banyak yang enggak mampu jadi yang dipikirkan masih bisa makan enggak dari hari ke hari," bebernya. (o2/day)