Menyibak Fenomena LGBT di Pangkalpinang, Mereka Ada Tetapi Masih Tersamar

Laporan Wartawan Bangka Pos, Idandi Meika Jovanka

BANGKAPOS.COM, BANGKA – Keberadaan kaum LGBT meski masih tersamar sudah ada di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Meski demikian komunitas khusus kaum nabi Luth tersebut belum muncul secara nyata.

Salah satu pengidap perilaku seks sejenis  atau LGBT kepada bangkapos.com mengungkapkan keberadaan kaum minoritas tersebut masih belum tampak di masyarakat.

Wanita penyuka sesama wanita ini menyebutkan terdapat dua jenis Lesbian yakni Bucci bertindak seperti laki-laki dan Fame sebagai perempuan.

Ia mengungkapkan sejak kecil kerap berpenampilan Tomboy dan lebih gemar bergaul dengan laki-laki.

Beranjak dewasa, ia mulai menyadari tidak mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis dan cendrung menyukai perempuan.

Saat di perguruan tinggi, ia mulai berani merubah penampilan secara drastis, baik cara berpakaian, gaya rambut, dan melakukan sejumlah olahraga layaknya laki-laki.

Adanya perubahan itu tentu memantik pandangan miring dari lingkungan sekitar tetapi tidak sedikit teman perempuannya melontarkan pujian.

Seiring berjalannya waktu, ia berani menjalin hubungan asmara dengan seorang perempuan.

“Saya mulai berani mendekati perempuan saat masih kuliah dan pertama kali pacaran tetapi masih sembunyi-sembunyi terutama dari keluarga,” ungkap wanita yang minta indentitasnya tidak diungkapkan ini.

Tidak hanya penampilan, narasumber ini juga semakin kukuh merubah dirinya menjadi seorang laki-laki dengan melakukan terapi hormon sejak September 2015.

Secara fisik perubahan terjadi, seperti perubahan suara lebih berat, dada mengecil, tumbuh sejumlah rambut di area tertentu, dan lain sebagainya. Selain itu, penyuntikan tersebut juga membuat dirinya lebih tempramental.

“Terapi hormon belum ada di Bangka Belitung, saya mendapatkannya melalui pemesan dari luar daerah,” katanya.

“Ada masa dimana saya semakin bertekad merubah diri menjadi laki-laki dan memutuskan buat mengungkapkan kepada keluarga. Bagi orang tua, saya merupakan anak penurut dan selalu membanggakan mereka. Hanya saja, keputusan merubah kodrat tentu membuat mereka terluka sehingga saya memilih pergi dengan meninggalkan surat karena prilaku ini tentu membuat malu mereka,” jelasnya.

Menurut pernyataannya, setelah kedua orang tua membaca surat tersebut dan mengetahui seluruh perasaannya, ia telah berada diluar kota.

Ia juga telah merencanakan sebuah kehidupan baru, seperti mencari pekerjaan, tempat tinggal, bahkan melanjutkan pendidikan.

Kenyataan berkata lain, rupanya kasih sayang kedua orang tua lebih besar dibandingkan rasa malu.

“Tentu orang tua kaget bahkan Ibu menangis histeris saat menelpon karena selama ini mereka menilai saya adalah anak yang baik dan penurut. Mendengar tangisan Ibu, akhirnya saya memberanikan diri menemui mereka. Mereka tidak membenarkan perbuatan saya dan berupaya keras menyembuhkan dengan mengajak ke psikiater dan lain sebagainya,” katanya.

Perihal komunitas LGBT di Bangka Belitung, menurutnya sepertinya belum ada sebab ia mengaku tidak bergelut dilingkungan tersebut.

Hubungan sesama jenis yang dilakukan hanya sebatas jalinan asmara secara pribadi tetapi biasanya mereka saling mengetahui satu dengan lainnya.

Khusus di Pangkalpinang sendiri, ia kerap menemukan pasangan sesama jenis saat weekend di Pantai Pasir Padi dan sejumlah Kafe yang menjadi tempat tongkrongan setiap malam kamis dan minggu.

 “Saya punya lima teman yang punya orientasi seksual yang sama. Setahu saya, kami belum mendengar tentang adanya komunitas LGBT di Bangka. Lalu, kebanyakan orang-orang ini berasal dari daerah terpencil,” ungkapnya.

Pakar kriminologi, Muvita justru mengungkapkan bahwa ada komunitas LGBT di Bangka Belitung yang menjalin kemitraan dengan organisasi yang digelutinya terkait pencegahan HIV dan Aids. 

Baginya, keberadaan komunitas tersebut sebagai bentuk keberagaman seksual yang selama ini hanya ada laki-laki menyukai perempuan dan sebaliknya.

Menurutnya, tidak ada faktor spesifik memantik seseorang memutuskan melakukan orientasi yang berbeda.

Berbicara mengenai hak asasi manusia, setiap warga negara berhak dipenuhi haknya dan negara harus mengayomi seluruh rakyatnya tanpa terkecuali.

Termasuk LGBT maupun penderita disabilitas atau siapapun itu. (*)