Lebih Seram dari Toraja, di Daerah Ini, Banyak Warga Tewas Usai Menari-nari dengan Mayat

BANGKAPOS.COM- Warga Malagasi, Madagaskar, telah menebar kematian dalam hidup mereka.

Famadihana adalah ritual menari bersama mayat sebagai bentuk reuni keluarga.

Mereka percaya bahwa roh nenek moyang akan tetap tinggal disekitar selama mayat belum hilang karena pembusukan sepenuhnya.

Hal ini menjadi masalah ketika ritual suci itu justru menyebarkan wabah epidemi pes yang disebarkan oleh bakteri dalam 'mayat yang menari' itu.

Dilansir pada Ancient Origins, Willy Randriamarotia, kepala staf di kementerian kesehatan Madagaskar mengatakan bahwa wabah ditularkan oleh bakteri Yersinia Pestis dalam mayat.

Famadihana sendiri dilakukan setiap 7 tahun sekali, kerabat yang masih hidup akan menggali kuburan, mengambil tulang belulangnya dan membungkusnya dalam kain terikat.

Baca: Kisah Jendral Nazi yang Membunuh 1.200 Warga Sipil dan Membakar 1000 rumah

Dalam ritual itu sorak sorai teriakan menggema ke udara, seluruh kerabat keluarga juga diwajibkan hadir.

Biasanya anggota keluarga yang datang akan membawa serta abanyak makanan berupa permen, daging, sup dll.

Mereka meyakini bahwa nenek moyang, seperti semua orang, menyukai pesta meriah, terutama yang diadakan untuk menghormatinya.

Baca: Setelah Tiga Tahun, di 2018 Ini, Asteroid Tengkorak Kembali Lintasi Bumi

Pesta itu diiringi dengan musik dan tari-tarian, acara akan berakhir sairing matahari tenggelam.

Itu menandakan bahwa mayat arus dikuburkan kembali.

Sementara tradisi ini mengancam kesehatan warga, pelarangan telah diterapkan untuk tidak menggali mayat terkait ritual ini.

Baca: Layak Ditunggu Akan ada 7 Kejadian Luar Biasa dan Menakjubkan yang Terjadi Pada 2018

Sejak Agustus 2017 setidaknya 1.200 warga terkena Pes dan 100 diantaranya meninggal dunia setelah perayaan famadihana.

Bagi banyak warga Madagaskar, kematian bukanlah hal menyedihkan dan akan ada waktu untuk merayakannya.

(*)