Kanal

Puskesmas di Pangkalpinang Sepi, Rumah Sakit Membludak

Satu orang warga sedang menunggu di selasar Puskesmas UPT Taman Sari, Jumat (6/4/2018) pagi. - Bangka Pos / Dedy Qurniawan

Laporan Wartawan Bangka Pos, Dedy Qurniawan

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pelayananan di sejumlah Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang ada di Pangkalpinang tampak jauh lebih sepi jika dibandingkan dengan pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ini terlihat dari pantauan Bangka Pos di sejumlah puskesmas dan satu rumah sakit yang ada di Pangkalpinang, yakni Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Hamzah, Jumat (6/4/2018).

Di UPT Puskesmas Taman Sari misalnya, berdasarkan pengamatan Bangka Pos mulai pukul 8.40 WIB hingga pukul 9.30 WIB Jumat (6/4), hanya sekitar 15 warga yang datang. Mereka adalah pasien luka ringan,kontrol kandungan, kontrol jantung, pasien sakit gigi, dan hanya cek tekanan darah.

Pukul 9.25 WIB, petugas di meja cek tekanan darah yang ada di selasar bangunan puskesmas tampak sudah santai mengobrol karena tak ada lagi pasien yang perlu diperiksa.‎

Pemandangan serupa juga terlihat di Puskesmas Melintang.

Pantauan Bangka Pos pukul 10.00 WIB, hanya tampak sekitar lima warga ‎yang datang dan tampak duduk menunggu dilayani. Puskesmas ini bahkan sudah tutup pukul 11.00 WIB pada hari Jumat.‎

‎Adapun pantauan Bangka Pos di RSUD Depati Hamzah sekitar pukul 10.30 hingga pukul 11.00 WIB, ‎diperkirakan seratusan motor parkir di dalam kawasan rumah sakit daerah ini.

Bangku-bangku di selasar sejumlah poli, seperti poli orthopedi, klinik penyakit mata, klinik umum tampak dipenuhi warga.

Pun demikian di laboratorium cek darah, tampak belasan orang duduk menunggu di selasar ruangan. Adapun di dekat apotek, tampak sekitar 30 orang mengantre.

"Dalam sehari, rata-rata 200 pasien yang datang (di luar pasien rawat inap)," kata Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Depati Hamzah dr Thamrin kepada Bangka Pos melalui pesan singkat, Jumat (6/4). Berjanji dapat bertemu Sabtu (7/4), dr Thamrin belum menjawab saat ditanyakan pandangan rumah sakit ihwal jomplangnya antara jumlah pasien di puskesmas dan RSUD apakah disebabkan minimnya fasilitas di puskesmas sebagai FKTP.

Harian Kompas edisi Kamis (5/4) memberitakan temuan tidak maksimalnya penyerapan dana kapitasi di puskesmas. Berdasarkan penelusuran kompas dan audit BPK atas laporan keuangan pemerintah daerah di seluruh Indonesia tahun 2016, ditemukan sisa dana kapitasi mengendap di puskesmas mencapai Rp 3,02 triliun.

Untuk diketahui dana kapitasi digelontorkan langsung ke puskesmas guna meningkatkan mutu pelayanan fasilitas kesehatan. Kompas misalnya menyebut bahwa dana kapitasi tak terserap maksimal dan berimbas pada tak maksimalnya pelayanan puskesmas di Kabupaten Kerawang, Jawa Barat.

Diberitakan Kompas pula, audit BPK menemukan sisa anggaran dana kapitasi menumpuk dalam jumlah besar di tiap puskesmas. Ada begitu banyak dana yang tak termanfaatkan di setiap puskesmas.

"Kalau ada sisa, berarti tak dimanfaatkan. Ada belanja puskesmas yang tak maksimal atau puskesmasnya yang memang tak melayani pasien," kata Anggota IV BPK bagian Kesehatan Pendidikan dan Kebudayaan Harry Azhar Aziz seperti dikutip Kompas edisi ‎Kamis (5/4) lalu.‎ (*)

Penulis: Dedi Qurniawan
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com

Gadis di Sumbar Diperkosa Teman Pacar saat Kelelahan Mendaki Gunung hingga Akhirnya Tewas

Berita Populer