Kanal

Jangan Cari Tarsius Lewat Pukul 9 Malam, Ini Alasannya

Arsel Community pengelola Bukit Peramun saat memotret tarsius yang ditemukan pada Selasa (21/8/2018) malam - Bangka Pos / Adelina Nurmalitasari

Laporan Wartawan Pos Belitung, Adelina Nurmalitasari

BANGKAPOS.COM, BELITUNG - Mencari tarsius dikatakan Adong, Ketua Arsel Community pengelola Bukit Peramun memang untung-untungan.

Kadang primata terkecil di Indonesia ini mudah ditemukan, kadang pula membutuhkan waktu yang cukup lama.

Menurutnya pencari tarsius paling baik mulai dilakukan sekitar pukul 18.30-19.00. Karena biasanya hewan tersebut akan mencari makanan sehingga hanya berjarak 1-2 meter dari permukaan tanah.

Berdasarkan pengalamannya, sekitar pukul 21.00 malam, tarsius akan mulai naik lebih tinggi ke dahan pohon sehingga lebih sulit ditemukan.

Sesekali wisatawan yang datang memang tak dapat melihat primata ini. Namun menurutnya dari sekitar 20 kali pencarian paling hanya sekali tak ditemukan.

"Jadi bisa dibilang jarang tidak ketemu," katanya pada Selasa (21/8/2018) malam.

Selain itu, tarsius juga akan sulit ditemukan jika cuaca hujan pada siang harinya. Karena serangga seperti jangkrik yang menjadi makanannya juga tidak ada.

Saat paling baik buat menemukan primata bergigi tajam ini pada September-Oktober, saat musim kawinnya. Sehingga tak jarang ketika ditemukan tarsius sedang berpasangan.

Buat berwisata malam mencari tarsius di Bukit Peramun tak bisa dilakukan setiap malam. Pengelola membatasi wisata ini tiga kali dalam seminggu. Adong mengatakan ini dilakukan juga agar tarsius tetap terjaga dan tidak pindah ke tempat lain.(*)

Penulis: Adelina Nurmalitasari
Editor: zulkodri
Sumber: bangkapos.com

Pimpin Selawatan di Panggung, Wanita Ini Mendadak Pingsan lalu Meninggal Dunia

Berita Populer