Kanal

Saat Warga Gelar Sembahyang Rebut, Arwah Bergentayangan Pulang ke Akhirat, Patung Dewa Dibakar

Ritual Sembahyang Rebut -

"Ini merupakan aset wisata dimana kita sedang gencar-gencarnya memancing wisatawan datang ke Bangka ini. Ini merupakan wisata religius," ungkap Agung keoada bangkapos.com, Senin (20/8/2018) di Desa Rebo.

Menurutnya Tradisi Sembahyang Rebut ini sudah berjalan sejak dulu yang turun tenurun.

Dengan adanya Sembahyang Rebut ini diharapkan membawa multi player effect untuk daerah dimana para wisatawan yang ingin melihat dan mengetahui Tradisi Sembahyang Rebut ini dilaksanakan.

"Tradisi ini harus dipelihara karena bisa menjadi aset Kabupaten Bangka, menjadi aset Bangka Belitung. Ini dilaksanakan oleh seluruh keturunan masyarakat Tionghoa di Kabupaten Bangka maupun di Bangka Belitung," kata Agung.

Ritual Sembahyang Rebut ini juga biasanya pihak Kelenteng membagikan sumbangan untuk orang-orang yang tidak mampu.

Agung menilai Tradisi Sembahyang Rebut ini cukup kental di masyarakat Bangka baik yang ada di Kabupaten Bangka maupun di luar untuk melihat bagaimana Tradisi Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat Pan.

Pada jam 24.00 WIB saat puncak Sembahyang Rebut masyarakat berebut berbagai persembahan.

Hal inilah menurutnya disebut Sembahyang Rebut. Setelah itu dilakukan pembakaran patung Thai Se Ja.

Patung Thai Se Ja  (bangkapos.com/Deddy Marjaya)

"Mereka sembahyang kemudian pada jam 24.00 WIB siap untuk merebut dimana masyarakat ikut berebut. Menurut kisah orang-orang dulu bahwa adanya rebutan seperti ini arwah-arwah yang bergentayangan yang ikut melihat kok manusia berebut.

Makna yang dimiring seperti ini kadang-kadang makna yang diplesetkan dimasyarakat tetapi pada intinya kebersamaan yang dibuat ini adalah untuk menghormati arwah leluhur mereka khususnya di masyarakat keturunan Tionghoa," jelas Agung.

Halaman
1234
Editor: teddymalaka
Sumber: bangkapos.com

Warga Gerebek Guru Honorer Asal Madura yang Cabuli Siswi SMP di Dalam Mobil, Awal Kenalan di Medsos

Berita Populer