Kanal

Bupati Bangka Minta Masyarakat Tak Bingung Soal Vaksin MR

Dinas Ke­sehatan Kabupaten Bangka bersama Dinas Kesehatan Babel menggelar sosia­lisasi Vaksin Measles Rubela (MR) secara terpadu guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta menyukseskan imunisasi mencegah campak dan rubella di Gedung Sepintu Sedulang Sungailiat, Senin (10/9). - Bangka Pos/Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Pemerintah Kabupaten Bangka melalui Dinas Ke­sehatan Kabupaten Bangka bersama Dinas Kesehatan Babel menggelar sosia­lisasi Vaksin Measles Rubela (MR) secara terpadu guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat serta menyukseskan imunisasi mencegah campak dan rubella, Senin (10/9) di Gedung Sepintu Sedulang Sungailiat yang dihadiri 400 lebih peserta sosialisasi yang berasal dari Lintas sektoral, sekolah, perwakilan masyarakat dll di Kab Bangka.

Untuk itu Dinkes Kabupaten Bangka mengundang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan MUI Kabupaten Bangka memberikan sosialisasi terkait Vaksin MR.

Pada kesempatan ini Bupati Bangka H Tarmizi Saat meminta masyarakat tidak bingung soal pemberian Vaksin MR yang sekarang gencar dilakukan pemerintah.

Dia menegaskan, sesuai tugas pokok pembangunan dan pemerintahan mewajibkan agar masyarakat mengikuti pemberian Vaksin MR untuk anak usia 9 bulan hingga 15 tahun di sekolah-sekolah, puskesmas maupun posyandu.

“Kita mewajibkan bukan mengimbau karena hasil arahan MUI, para ahli agama dan ahli kesehatan bahwa mudharatnya lebih sedikit daripada manfaatnya, sangat bermanfaat untuk masa depan anak, itu yang pertama. Kedua karena memang belum ditemukan vaksin yang halal dan gelatin itu bukan divaksinnya tetapi katalisatornya tempat menumbuhkan itu. Jadi belum ada ditemukan yang halal. Tentu karena ini darurat bisa. Ketiga karena ini menyangkut urusan umat sangat banyak, kebutuhan negara ke depan, kebutuhan generasi ke depan, maka sebagai bupati mewajibkan semua untuk anak 9 bulan hingga 15 tahun mengikuti imunisasi supaya kekebalan tercipta,” jelas Tarmizi.

Menurutnya di negara-negara muslim seperti Arab Saudi sudah melaksanakan Vaksin MR dimana sudah ada 114 negara yang menggunakan Vaksin MR dari India.

Disinggung keberhasilan Vaksin MR di Kabupaten Bangka masih rendah, Tarmizi berharap kepada masyarakat agar semua anak bisa tervaksin karena hingga akhir September 2018 harus memenuhi target kekebalan massal.

“Sebagai pribadi memang saya ada kekhawatiran pertama apakah ini bukan proyek internasional dalam rangka ada faktor-faktor bisnis. Kedua apakah tidak berakibat kepada perilaku anak kita karena vaksin yang tentu asalnya tidak halal tetapi karena ulama telah memutuskan, kemudian telah melakukan kajian dari para ahli tentu kita yakin bahwa ini perlu dilaksanakan,” ungkap Tarmizi.

Untuk itu ia minta agar dinas kesehatan, puskesmas maupun posyandu proaktif dimana harus memenuhi target yang sudah ditetapkan oleh pemerintah untuk pelaksanaan Vaksin MR ini.

“Dijelaskan agar masyarakat tidak bingung lagi. Ini menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap majelis ulama. Kalau ada majelis ulama yang disuruh pemerintah untuk menghalalkan ini, tidak ada. Kami tidak berharap majelis ulama bisa disetir pemerintah, tetap kritis terhadap pemerintah kalau memang ada yang menyimpang,” tegas Tarmizi.

Ketua Komisi Hukum dan Perundang-Undangan MUI Babel Abdul Ghofar mengajak masyarakat tidak perlu khawatir dan tidak perlu ragu, karena MUI telah mengeluarkan fatwa bahwa vaksin ini hukumnya mubah.

Hal ini sudah melalui kajian keagamaan serta kesehatan de­ngan melibatkan ahli kesehatan terkait dampak yang ditimbulkannya jika seseorang terkena virus atau bakteri campak dan rubela.

Fatwa MUI Nomor 33 Tahun 2018 tentang Penggunaan Vaksin MR (Measles Rubela) Produksi dari SII (Serum Intitute of India) untuk Imunisasi menyebut bahwa penggunaan Vaksin MR produk SII hukumnya haram. Namun begitu, penggunaan Vaksin MR produk dari SII pada saat ini, dibolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (darurat syar’iyyah).

Selain itu belum ditemukan Vaksin MR yang halal dan suci dan ketiga ada keterangan dari ahli yang kompeten dan dipercaya tentang bahaya yang ditimbulkan akibat tidak diimunisasi dan belum adanya vaksin yang halal.

“Sampai saat ini belum ada Vaksin MR yang halal. Untuk saat ini hanya Vaksin MR yang ada dan belum ada vaksin lain yang bisa digunakan karena hanya ada satu-satunya maka penggunaan vaksin ini dimubahkan,” jelas Ghofar.

Menurutnya sebelum tanggal 20 Agustus MUI pusat belum mengeluarkan fatwanya karena masih mengkaji dan meneliti Vaksin MR. Setelah tanggal 20 Agustus MUI sudah mengeluarkan fatwanya yakni mubah karena kondisi keterpaksaan yang menjadi hal utama.

Ghofar mengatakan Vaksin MR dari India ini sudah direkomendasi oleh World Health Organization (WHO). Sedangkan yang dikeluarkan oleh Jepang dan China belum mendapat rekomendasi WHO yang hanya digunakan untuk negara mereka sendiri.

“Sekarang ini tidak ada lagi keraguan-raguan. Ayo kepala sekolah, kepala desa sampaikan dengan murid-murid dan masyarakat kita bahwa imunisasi ini sudah saatnya dilaksanakan dan dasarnya dari pemerintah dan MUI. Kami dari MUI provinsi menyampaikan dari MUI pusat begitu juga dari MUI kabupa­ten/kota menyampaikan fatwa MUI pusat,” imbau Ghofar. (Advertorial/chy/may)

Baru 25,22 Persen

KEPALA Dinas Kesehatan Bangka Belitung drg Mulyono menjelaskan program imunisasi Vaksin MR sudah dilakukan di Jawa dan Bali sebanyak 35 juta anak dari usia 9 bulan hingga 15 tahun yang telah mencapai target pemerintah sebesar 100 persen lebih pada tahun 2017 lalu. Untuk tahun 2018 dilakukan di seluruh provinsi di luar Jawa dan Bali.

“Kegiatan imunisasi massal sebagai upaya untuk memutuskan agar bisa eliminasi campak harus memutuskan transmisi penularan campak dan rubela pada anak usia 9 bulan sampai 15 tahun. Meskipun kita sudah melakukan imunisasi campak pada anak usia 9 bulan tetapi akan diulang lagi,” jelas Mulyono.

“Kalau tidak memanfaatkan ini maka tahun berikutnya tidak ada lagi program ini. Anak-anak kita usia 9 bulan, 18 bulan dan kelas 1 SD tidak akan mendapatkan program imunisasi MR. Ini hanya dilakukan bulan Agustus dan September 2018,” kata Mulyono.

Menurutnya yang ditakutkan dari penyakit campak adalah komplikasinya dimana penyakit yang disebabkan oleh virus tidak bisa disembuhkan kecuali ada kekebalan tubuh. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadi komplikasi radang paru, radang otak, radang telinga hingga kematian.

Biasanya campak banyak menyerang anak usia 9 bulan hingga 15 tahun, karena itu pencegahannya hanya bisa dilakukan dengan imunisasi. Oleh karena itu menurut Mulyono jika sudah imunisasi MR sekali bisa aman.

Ia menyebutkan, sebelum ditemukan imunisasi campak tahun 1980 ada sekitar 2,6 juta kematian di dunia akibat campak. Imunisasi campak di Indonesia baru dilakukan tahun 1982. Sedangkan pada tahun 2016 angka kematian akibat campak di Indonesia sebesar 6.890 orang. Untuk itu diharapkan tahun 2020 Indonesia eliminasi campak dengan menekan angka kematian sebesar 95 persen.

Menurut Mulyono, Indonesia dalam imunisasi campak dan rubela tertinggal dari Singapura, Kamboja, Thailand dan Malaysia yang sudah melakukan imunisasi sejak tahun 2013 dan 2015. Sedangkan Indonesia baru tahun 2017 lalu.

Mulyono memaparkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan Babel untuk pencapaian vaksin MR hingga 23 Agustus 2018 di Bangka Belitung baru mencapai 13,56 persen saat awal MUI menerbitkan fatwa. Sedangkan cakupan Vaksin MR hingga tanggal 8 September, Babel berada diposisi nomor lima dari belakang dibandingkan provinsi lainnya yakni sebesar 25,22 persen.

Sementara untuk Kabupaten Bangka hingga 8 September 23,59 persen berarti tinggal 13 hari kerja lagi untuk mencapai 95 persen. Sedangkan per puskesmas yang tertinggi di Kenanga mencapai 40 persen dan paling rendah di Gunung Muda sebesar 6,9 persen. (Advertorial/chy)

Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos

Terekam Kamera Sosok Pria yang Diduga Selingkuhan Angel Lelga, Digerebek Vicky Berduaan di Kamar

Berita Populer