Selasa, 9 Juni 2026

PLTN Bukan Untuk Coba-coba

Pro-kontra selalu mengemuka manakala suatu negara hendak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Tayang:
Penulis: vovo | Editor: Dedy Purwadi
PRO-kontra selalu mengemuka manakala suatu negara hendak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Disatu sisi pemerintah tengah menggebu-gebu merencanakan serta menyosialisasikan megaproyek kelistrikan ini, sisi lain muncul reaksi protes dari sejumlah kalangan.

Opini publik yang berkembang yakni, alasan perlunya dibangun PLTN salah satunya adalah karena sumber daya mineral untuk bahan bakar pembangkit listrik dikatakan semakin menipis. Sementara kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap energi listrik kedepan kian meningkat. Perbandingan yang tak seimbang inilah yang mendorong pemerintah perlu menyediakan sumber energi listrik alternatif.

Opsi yang kini terus menggelinding menjadi rencana matang itu yakni membangun PLTN. Dan dari hasil survei, Bangka Belitung (Muntok Bangka Barat, dinilai sebagai daerah yang paling tepat untuk lokasi pembangunan pembangkit ini karena secara geografis daerah ini berada pada posisi yang aman dari bencana alam baik gempa bumi maupun ancaman tsunami.

Mengingat pembangkit listrik menggunakan tenaga nuklir mempunyai sejarah buruk dimasa lalu, diantaranya kecelakaan yang terakhir dan terbesar terjadi 25-26 April 1986 di Chernobyl, Ukraina, 24 tahun silam, rencana pendirian PLTN di Bangka Belitung tentu menjadi pertanyaan banyak pihak.

Reaksi negatif ini datang dari kelompok masyarakat yang masih menyangsikan dengan keamanan PLTN bagi masyarakat terutama daerah yang bakal dijadikan tempat berdirinya pembangkit ini yakni Bangka Belitung. Sikap kontra terhadap perlunya Indonesia memiliki PLTN sebagai solusi mengatasi kebutuhan energi listrik tak hanya datang dari masyarakat Bangka Belitung, tetapi juga dari lembaga swadaya masyarakat nasional maupun dunia yang selama ini bergerak dibidang lingkungan hidup dan kemanusiaan.

Bagaimanapun alasan pemerintah dalam hal ini pihak Batan dan badan energi nuklir internasional yang menyatakan tak ada yang perlu dikhawatirkan dari proyek PLTN di Babel, tetapi kegelisahan masyarakat patut dimaklumi.
Pendirian PLTN seyogianya tidak memperhatikan dampak positifnya saja untuk menopang produksi listrik nasional, tetapi juga memperhatikan dampak negatif yang bakal ditimbulkannya.

PLTN bukan untuk coba-coba, yang justru menjadikan masyarakat Babel sebagai kelinci percobaan. Sebab jika gagal, pengalaman buruk PLTN di salah satu negara dulu bakal terulang. Apalah artinya Bangka Belitung terang benderang dan perekonomiannya meningkat tajam sebagai efek domino dari hadirnya PLTN di daerah ini, jika tak ada jaminan keamanan bagi kemaslahatan hidup masyarakatnya.

Untuk itu pemerintah harus menjamin faktor risiko PLTN sangat kecil sehingga tak ada lagi kekhawatiran jika pembangkit ini dibangun di Bangka Barat dan Bangka Selatan nanti. Upaya itu antara lain dengan mengolah limbah atom secara benar dan mengelola pembangkit listrik dengan nuklir secara tepat dan menggunakan teknologi yang sangat maju seperti dilakukan di sejumlah negara.

Pemerintah jangan menutup-nutupi, apalagi membohongi masyarakat akan dampak dari bahaya PLTN. Masyarakat luas akan melihat kerja pemerintah dalam merealisasikan megaproyek PLTN. Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak pembangunan PLTN jika pemerintah betul-betul akan melaksanakan program pembangunan itu untuk kepentingan dan kemaslahatan kita.

Tapi sikap ini bukan berarti kita latah mendukung proyek pemerintah tanpa ada upaya mengawasi dan mengkritisi. Itu keliru. Awas dan kritis itulah pertanda masyarakat semakin melek mata terhadap apa saja kebijakan pemerintah agar kita tak menjadi korban dari kebohongan.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved