Breaking News:

Gaya Hidup Borjuis Pejabat Babel

Dua tahun terakhir ini para pejabat di Bangka Belitung mengganti mobil dinas mereka.

DUA tahun terakhir ini para pejabat di Bangka Belitung mengganti mobil dinas mereka. Mobil lama tampaknya sudah tidak nyaman menghantar mereka bertugas. Makanya harus diganti dengan mobil yang lebih baru dan keluaran baru. Soal dana tidak jadi masalah, ratusan miliar tersedia di kas daerah.

Tinggal ambil saja. Apalagi para anggota dewan kita juga tidak pernah menghalangi para pejabat ini mengganti mobil dinas mereka. Same yo lah.
Pejabat dan anggota dewan kita memang jarang bergaul dengan masyarakat, sehingga mereka tidak tahu nasib masyarakat yang hidupnya morat-marit. Pangan yang alakadar dan sandang seadanya membalut hari-hari sebagian besar masyarakat di Bangka Belitung. Apalagi jika berbicara masalah kesehatan, masih banyak masyarakat yang tidak mampu mengobati penyakit yang mereka derita, karena duit yang dipunya tidaklah seberapa.

Sementara, duit rakyat yang diamanahkan kepada pemimpin (baca: pejabat) yang seharusnya dikelolah untuk kesejahteraan mereka, ternyata dipakai untuk membeli kendaraan mewah dan pembangunan yang jauh dari kebutuhan mereka. Ironi memang, pejabat yang duduk manis dalam mobil mewah harus melewati pondok sederhana masyarakat yang pernah dirayu untuk mencoblos gambar mereka.

Kabar yang terbaru dari Bupati dan Wakil Bupati Belitung. Tahun anggaran 2012 ini, Terrano yang selama ini menemani kedua kepala daerah tersebut diganti dengan Toyota Altis.

Sebelumnya Bupati Belitung Timur, Basuri Tjahaya Purnama juga sudah meminta agar Terrano sebagai mobil dinas wakilnya agar diganti. Sedangkan Bupati Bangka dan Wakil Bupati Bangka sudah beberapa tahun lalu meninggalkan Terrano dengan mobil dinas yang baru.

Sementara Walikota Pangkalpinang tahun 2011 lalu sudah menggantikan Toyota Fortuner dengan Altis. Tahun sebelumnya Gubernur Babel Eko Maulana Ali memilih Altis sebagai tunggangannya. Sementara Wakil Gubernur Babel Syamsuddin Basari menggunakan Mitshubishi Pajero.

Tidak ada para pejabat di Negeri Serumpun Sebalai ini yang mau hidup sederha seperti Walikota Solo, Ir Joko Widodo yang lebih akrab disapa Pak Jokowi. Empati Pak Jokowi terhadap rakyatnya bolehlah menjadi contoh pejabat di Babel ini. Meski memiliki kesempatan untuk menghabiskan duit rakyat untuk membeli mobil mewah, namun Pak Jokowi lebih memilih kendaraan yang lebih sederhana, bahkan buatan masyarakatnya sendiri.
Mengapa sedikit sekali di negeri ini pejabat yang mau berempati dengan masyarakatnya, yang salah satunya hidup dengan tidak bermewah-mewahan. Padahal jelas jika pejabat atau pemimpin mau hidup sederhana akan lebih jernih memandang dan membaca dunia sekitar karena melihatnya dengan hati yang lebih bening, tidak terhalang aksesori untuk memancing pujian orang.

Kita jadi prihatin dan merenung, mengapa politisi dan para pejabat kita terjebak ke dalam alam pikir dan gaya hidup yang dangkal, yang menempatkan gaya hidup konsumtif dan kekayaan materi sedemikian tingginya. Sudah bukan rahasi lagi, para pecinta gaya hidup mewah biasanya tidak segan-segan melakukan korupsi yang berakibat pada kehancuran martabat negara, bangsa, rakyat, dan dirinya sendiri.

Sikap sederhana muncul jika seseorang lebih menghargai kualitas hidup yang lebih dalam, bukannya pada kemasan atau gaya hidup yang lebih menampakkan kulit luar saja.

Orang yang sangat mementingkan kemasan luar bisa jadi tengah mengalami krisis kepercayaan diri. Atau memang sudah dari dulu terbiasa hidup serba mewah dan glamor. Bagi seorang pemimpin sangat penting membiasakan hidup sederhana agar tidak tercipta jarak yang menganga dengan rakyat.

Padahal, sebuah bangsa akan bangkit dan maju kalau pemerintah dan masyarakatnya kompak berani hidup sederhana, lalu diikat oleh semangat dan cita-cita untuk membangun kebanggaan sebagai sebuah bangsa dan negara yang bermartabat. (*)

Editor: Dedy Purwadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved