Hikok Helawang, Tradisi yang Sarat Makna
Tradisi tahunan Hikok Helawang yang digelar masyarakat Desa Bedengung juga sarat dengan makna.
Penulis: Iwan Satriawan | Editor: fitriadi
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Tradisi tahunan Hikok Helawang yang digelar masyarakat Desa Bedengung Kecamatan Payung, Bangka Selatan, selain sebagai wujud syukur warga atas keberhasilan panen padi, juga sarat dengan makna.
Dalam tradisi ini setiap rumah seolah diwajibkan menyedekahkan minimal satu ekor ayam dan menyajikan ketan atau dalam bahasa setempat disebut pulut.
Jika di wilayah kabupaten lain di Babel, hantaran disajikan dalam dulang berisi ketupat beserta lauk pauk, dalam tradisi Hikok Helawang hantaran diletakkan dalam wadah rantang.
Isi hantaran itu berisi ayam panggang dan pulut beserta kue-kue dan buah-buahan.
Bupati Bangka Selatan H Jamro dalam sambutannya menjelaskan, ayam yang dipanggang dan pulut memiliki makna kegigihan, disiplin dan kebersamaan serta kesabaran warga.
"Filosofi menyajikan ayam menunjukkan kegigihan dan disiplin karena ayam merupakan ayam yang rajin dan sudah mencari makan sejak subuh.
Begitu juga disajikan ketan karena ketan sifatnya lengket dan melambangkan kebersamaan. Ayam juga mengapa di panggang bukan di gulai. Ini menunjukkan kesabaran agar ayamnya masak luar dalam," jelas Jamro.
Jamro meminta tradisi Hikok Helawang sebagai acara tahunan masyarakat Bedengung Kecamatan Payung dipertahankan dan ditingkatkan dimasa-masa mendatang.
"Pemkab Basel sendiri sangat mendukung dan peduli dengan kegiatan seperti ini," kata Jamro.