Pesawat Sukhoi Jatuh
Ayah Ada Dalam Peti Ini Ya?
Pemandangan haru dan sedih menyelimuti Bandara Halim Perdanakusuma sejak pagi hingga sore, Rabu (23/5/2012).
Di antara raut kesedihan keluarga korban kecelakaan pesawat Sukhoi, ada dua orang anak yang tampaknya sedikit kebingungan.
Anak itu adalah Rizky (5), putera dari Stephen Kamagi. Rizky beberapa kali mengetuk peti jenazah ayahnya dan memanggil-manggilnya. Ia tak menangis saat itu.
"Ayah ada dalam peti ini ya? Ayah, ayah. Ayah di peti ini?" tanya Rizky pada kakak dan ibunya, Ani Kamagi.
Ia berusaha memperoleh jawaban. Namun, tak ada satu pun yang menjawabnya.
Semua keluarga Stephen hanya terpaku melihat bingkai foto Stephen yang tengah berpose di depan pesawat Sukhoi. Rizky kembali mengulangi pertanyaannya.
Kali ini ia lakukan sambil mengetuk sekeliling jenazah ayahnya. Lagi-lagi tak ada jawaban yang ia peroleh.
Ibunya, Ani Kamagi, lalu menggenggam erat tangan anaknya dan mengajaknya mendekat tanpa sepatah katapun.
Hal yang sama juga terjadi pada putera dari Insan Kamil, Dimas (8). Ia beberapa kali mengelilingi peti jenazah berukuran 2,10 meter x 70 sentimeter tersebut dengan wajah tanda tanya.
Ketika ibunya terisak menatap foto Insan, Dimas hanya menatapnya.
"Ini (peti) kapan mau dibawa," tanya Dimas.
Pertanyaan Dimas tak dijawab. Hanya air mata dan pelukan yang ia dapat dari sang bunda.
Dimas awalnya sudah tahu bahwa ayahnya termasuk dalam penumpang Sukhoi Superjet 100 yang mengalami kecelakaan.
Namun, menurut kakeknya Mardianto yang pernah diwawancarai Kompas.com, Dimas belum tahu bahwa ayahnya telah tiada.
Sebelum penyerahan jenazah pada keluarga, Dimas sering bertanya keberadaan ayahnya. Bahkan pertanyaan itu ia tulis di status BlackBerry Messenger miliknya, "Ayah di mana?"
Keluarga mengaku sempat bingung memberitahukan pada Dimas mengenai nasib ayahnya. Bahkan Mardianto, kakeknya berkonsultasi dengan psikolog yang disiapkan di RS Polri agar bisa menyampaikan berita duka itu pada Dimas.
"Sekarang dia sudah yatim, kita perlu menjaga perasaannya dalam situasi terpuruk ini," kata Mardianto pekan lalu.
Ayah Dimas, Insan Kamil adalah salah satu korban Sukhoi yang bekerja di Indo Asia.
Di awal pesawat Sukhoi hilang kontak dengan Bandara Halim, keluarga berusaha mencari tahu keberadaan Insan. Namanya baru diketahui ada dalam pesawat naas itu setelah keluarga melihat daftar penumpang yang diperoleh dari PT Trimarga Rekatama, agen Sukhoi.