Minggu, 17 Mei 2026

Eko Ketakutan Usai Berhubungan Intim

Rekonstruksi kasus pembunuhan sadis terhadap Supriyono sekeluarga batal digelar Kamis (12/7/2012) kemarin. Pasalnya

Tayang:
Editor: suhendri
zoom-inlihat foto Eko Ketakutan Usai Berhubungan Intim
net
ilustrasi pembunuhan
Laporan Wartawan Bangka Pos, Fery Laskari

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Rekonstruksi kasus pembunuhan sadis terhadap Supriyono sekeluarga batal digelar Kamis (12/7/2012) kemarin. Pasalnya, jaksa masih mengikuti proses persidangan suatu perkara di Pengadilan Negeri Sungailiat. Rekonstruksi kasus dengan tersangka Eko Suryono (29), pekerja tambang inkonvensional (TI),  rencananya dilangsungkan hari ini, Jumat (13/7/2012).

Namun, Eko Suryono sempat diwawancarai bangkapos.com seizin Kapolres Bangka AKBP Pipit Rismanto di ruang penyidik Satreskrim Polres Bangka, Kamis (12/7/2012) petang.

Kepada bangkapos.com, Eko mengungkapkan, kejadian bermula saat dirinya kenal dengan pasangan suami istri Supriyono dan Jujuk di Dusun Tarom Desa Kace Kecamatan Mendobarat beberapa bulan silam. Perkenalan itu berlanjut dengan seringnya Eko bertandang ke rumah keluarga korban, yang berstatus pekerja pada perkebunan kelapa sawit di desa setempat.

Hingga suatu ketika, cikal bakal bencana mulai menimpa. "Suatu hari, kalau tidak salah waktu itu hari Minggu. Saya mengendong Pipit (4), anak Yuk Jujuk. Saya gendong, dan saya cium-cium pipi Dek Pipit (Puspita)," kata Eko.

Rupanya, istri Supriyono, Jujuk mengetahui apa yang dilakukan oleh Eko. "Lalu Yuk Jujuk bilang ke saya, kok saya cuma berani cium anak kecil. Coba kalau berani cium orang dewasa," kata Eko mengenang ucapan Jujuk, Minggu tanggal 8 April 2012 silam di Dusun Tarom.

Mendengar ucapan itu, darah Eko mengalir deras. Apalagi diam-diam, ia memang menaruh hati pada Jujuk, yang menurutnya berwajah mirip penyanyi terkenal era 90-an, Nike Ardila. "Lalu Yuk Jujuk mengambil anaknya dari gendongan saya, dan menidurkannya," kata Eko.

Saat Pipit sudah tidur, Jujuk menurut Eko kembali memanasi-manasinya dengan ucapan serupa. Eko pun memberanikan diri mendekati Jujuk seraya memegang tangan ibu muda itu.

"Waktu saya pegang tangannya, Yuk Jujuk diam saja, bahkan saya cium bibirnya. Dan kami pun melakukan hubungan intim sebanyak dua kali hari itu. Sumpah pak, baru sama Yuk Jujuk saya melakukan hubungan seks seperti itu," kata Eko seraya mengatakan saat itu, suami Jujuk, Supriyono alias Supri sedang tak ada di rumah.

Beberapa saat setelah kejadian, Eko pulang ke camp TI yang berjarak hanya beberapa kilometer dari kediaman korban. Di camp TI, ia tak bisa tidur, mengenang kejadian yang baru dialami. Sejak itu, niatnya untuk memiliki Jujuk semakin menjadi-jadi. "Saya terus teringat wajah Yuk Jujuk sejak kejadian itu," kata Eko.

Empat hari kemudian, Kamis (12/4/2012), rasa penasaran semakin menghantui Eko. Kamis malam hasrat kembali memuncak. Ia pun datang lagi ke rumah pasangan Supri-Jujuk, selepas maghrib.

"Tapi saat saya tiba di rumah Mas Supri-Yuk Jujuk, keadaan rumah sepi. Saya SMS ke Mas Supri, tanya mereka di mana. Dan dijawab melalui SMS, bahwa Mas Supri bersama istri dan anaknya sedang ada di PT ( kantor kebun sawit). Saya diminta menunggu karena kata Mas Supri, mereka akan segera pulang," kata Eko seraya mengaku ia dan korban sama-sama orang Jawa Lampung yang merantau ke Pulang Bangka untuk mengadu nasib.

Tak berapa lama Supri, Jujuk dan Puspita tiba di rumah mengendari sepeda motor merek Jialing. "Saya kemudian disuruh masuk ke dalam rumah oleh Mas Supri. Namun tak berapa lama, Mas Supri kembali lagi ke PT karena kue bolu dan kopi tertinggal di PT.  Saya pun menungu di dalam rumah bersama istri Mas Supri, yaitu Jujuk dan anaknya, Pipit," kenang Eko mengaku datang ke rumah Supri berjalan kaki dengan menenteng sebilah parang pendek dari camp TI.

Baru beberapa saat setelah kepergian Supri, Eko pun beraksi. Ia mulai merayu Jujuk untuk mengulangi perbuatan terlarang yang pernah mereka lakukan empat hari silam. "Namun Yuk Jujuk menolak karena takut ketahuan Mas Supri, yang sebentar lagi akan pulang ke rumah. Dan ternyata memang tak berapa lama, Mas Supri datang lagi," kata Eko mengaku kesal karena tak berhasil menyalurkan hasratnya terhadap Jujuk ketika itu.

Sejak itu rayuan setan semakin menari-nari di benak Eko. Keinginan Eko untuk memiliki Jujuk seutuhnya semakin bulat. Ia pun  pamit kepada Supri dan Jujuk dengan alasan khawatir peralatan TI milik milik majikannya hilang.

"Saya minta diantarkan oleh Mas Supri dengan sepeda motornya. Mas Supri sempat mengambil parang panjang untuk jaga diri di perjalanan saat mengantar saya. Mas Supri suruh saya pegang parangnya, karena posisi saya duduk di boncengan," kata Eko seraya mengatakan saat itu suasana malam agak gelap, ia menenteng sebilah parang pendek miliknya dan sebilah parang panjang milik Supri  duduk di motor yang dikemudikan korban.

Di perjalanan Eko tak banyak bicara. Yang ada di otaknya, hanya satu segera menghabisi Supri agar bisa memiliki istrinya, Jujuk seutuhnya. "Tak berapa lama saya dan Mas Supri tiba di kamp TI saya. Saya langsung turun dari boncengan dan langsung menebas leher bagian belakang Mas Supri dengan parangnya sendiri (parang korban), yang saya pegang sejak di perjalanan. Mas Supri terkapar tak bergerak dalam keadaan leher bersimbah darah, dan saya jongkok membalikkan tubuh sambil menyalakan rokok. Tapi tiba-tiba Mas Supri bangkit dan memukul kepala saya," kata Eko.

Mengetahui Supri masih hidup, Eko menyerang Supri membabi buta. Ia bertubi-tubi menyerang ke arah Supri hingga menyebabkan jaringan tangan Supri putus akibat terkena sabetan parang. Supri pun  kembali terjungkal bersimbah darah. "Lalu saya menuju sumur bekas galian PC membersihkan tubuh saya dari noda darah. Saya ganti pakaian, bermaksud kembali menemui Jujuk," kata Eko.

Namun apa yang terjadi ketika dandanan Eko telah rapi dan siap menemui pujaan hati? Ia melihat tubuh Supri yang tadinya dalam kondisi telentang menghadap langit, justru berubah posisi menjadi tengkurap mencium tanah. Eko pun kembali melukai beberapa bagian tubuh korban. Bahkan dia mengaku sempat meminum darah Supri. Ia terobsesi minum darah tersebut karena pernah melihat adegan serupa di  film layar tancap dengan sugesti untuk menghilangkan rasa takut.

Tidak berapa lama setelah itu, Eko sampai di rumah korban. "Saya berbohong kepada Jujuk dengan cara mengatakan kalau suaminya (Supri) langsung buru-buru pergi ke Tempilang. Saya juga bilang ke Jujuk, bahwa Mas Supri berpesan agar saya menjaga Jujuk dan anaknya di rumah. Jujuk pun percaya. Saya baring-baring di ruang TV, dengan posisi kepala di paha Yuk Jujuk. Saya rayu Yuk Jujuk untuk berhubungan intim lagi dengan bahasa isyarat 'Yuk bisa ndak kasihku semangat kerja lagi karena panas dan hujan lebat'. Dan malam Jumat itu (Kamis malam) untuk yang ketiga kalinya saya dan Jujuk melakukan hubungan intim di rumahnya," kata Eko.

Puas melepas nafsu, Eko dan Jujuk mengenakan pakaian masing-masing. "Tapi rupanya, Jujuk salah ambil celana. Ia ambil celana saya, dan saat itulah dia melihat ada bercak darah di celana saya. Dia tanya darah siapa? Lalu saya jawab sejujurnya, bahwa saya telah membunuh suaminya, Mas Supri.  Yuk Jujuk marah kepada saya dan mengancam lapor polisi," kata Eko.

Eko merasa ketakutan dengan ancaman itu. Ia pun mengambil lampu minyak dan memukulnya ke kepala Jujuk hingga perempuan itu pingsan. Eko semakin kalap, lalu mengambil minyak dari mesin robin di rumah itu dan menyiramkan ke lantai rumah serta seisi ruangan, setelah mengikat tubuh Jujuk dan anaknya (Pipit sedang tertidur) dengan tali.

"Lalu saya lemparkan puntung api roko sehingga rumah terbakar dan api mebakar Jujuk dan juga anaknya. Dari kejauhan saya masih sempat mendengar Jujuk dan anaknya, Pipit memanggil-manggil nama saya," kenang Eko mengaku terus berlalu meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP) untuk pulang lagi ke kamp TI-nya.

Namun setibanya di kamp TI, Eko melihat tubuh Supri masih saja bergerak-gerak. Ia pun kalap, dan untuk ketiga kalinya melukai tubuh Supri dengan parang. "Suasana malam itu gelap, lalu untuk penerangan saya bakar motor Mas Supri (korban) agar ada cahaya. Lalu saya gali lubang sedalam satu meter, dan saya gelindingkan tubuh Mas Supri masuk ke dalam lubang itu, dan saya kuburkan. Keesokan harinya, saya ditangkap polisi," kenang Supri seraya menyebutkan, malam itu ia sendirian di kamp TI tak bisa tidur hingga pagi.

Saat ditangkap polisi, Eko mengaku tak bisa melarikan diri. "Saat polisi datang, saya melihat di sekitar kamp TI seperti banyak orang-orang berpakaian serbah putih seperti kyai. Langkah saya seperti tertahan, saya tak bisa bergerak ke mana-mana. Sejak itu saya dikurung di sel Polres Bangka," katanya.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved