Eko Ketakutan Usai Berhubungan Intim
Rekonstruksi kasus pembunuhan sadis terhadap Supriyono sekeluarga batal digelar Kamis (12/7/2012) kemarin. Pasalnya
BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Rekonstruksi kasus pembunuhan sadis terhadap Supriyono sekeluarga batal digelar Kamis (12/7/2012) kemarin. Pasalnya, jaksa masih mengikuti proses persidangan suatu perkara di Pengadilan Negeri Sungailiat. Rekonstruksi kasus dengan tersangka Eko Suryono (29), pekerja tambang inkonvensional (TI), rencananya dilangsungkan hari ini, Jumat (13/7/2012).
Namun, Eko Suryono sempat diwawancarai bangkapos.com seizin Kapolres Bangka AKBP Pipit Rismanto di ruang penyidik Satreskrim Polres Bangka, Kamis (12/7/2012) petang.
Kepada bangkapos.com, Eko mengungkapkan, kejadian bermula saat dirinya kenal dengan pasangan suami istri Supriyono dan Jujuk di Dusun Tarom Desa Kace Kecamatan Mendobarat beberapa
bulan silam. Perkenalan itu berlanjut dengan seringnya Eko bertandang ke
rumah keluarga korban, yang berstatus pekerja pada perkebunan kelapa
sawit di desa setempat.
Hingga suatu ketika, cikal bakal bencana mulai menimpa. "Suatu hari,
kalau tidak salah waktu itu hari Minggu. Saya mengendong Pipit (4), anak
Yuk Jujuk. Saya gendong, dan saya cium-cium pipi Dek Pipit (Puspita),"
kata Eko.
Rupanya, istri Supriyono, Jujuk mengetahui apa yang dilakukan oleh Eko. "Lalu Yuk Jujuk
bilang ke saya, kok saya cuma berani cium anak kecil. Coba kalau berani
cium orang dewasa," kata Eko mengenang ucapan Jujuk, Minggu tanggal 8
April 2012 silam di Dusun Tarom.
Mendengar ucapan itu, darah Eko mengalir deras. Apalagi diam-diam, ia
memang menaruh hati pada Jujuk, yang menurutnya berwajah mirip penyanyi
terkenal era 90-an, Nike Ardila. "Lalu Yuk Jujuk mengambil anaknya dari
gendongan saya, dan menidurkannya," kata Eko.
Saat Pipit sudah tidur, Jujuk menurut Eko kembali memanasi-manasinya
dengan ucapan serupa. Eko pun memberanikan
diri mendekati Jujuk seraya memegang tangan ibu muda itu.
"Waktu saya
pegang tangannya, Yuk Jujuk diam saja, bahkan saya cium bibirnya. Dan
kami pun melakukan hubungan intim sebanyak dua kali hari itu. Sumpah
pak, baru sama Yuk Jujuk saya melakukan hubungan seks seperti itu," kata
Eko seraya mengatakan saat itu, suami Jujuk, Supriyono alias Supri
sedang tak ada di rumah.
Beberapa saat setelah kejadian, Eko pulang ke camp TI yang berjarak
hanya beberapa kilometer dari kediaman korban. Di camp TI, ia tak bisa
tidur, mengenang kejadian yang baru dialami. Sejak itu, niatnya untuk
memiliki Jujuk semakin menjadi-jadi. "Saya terus teringat wajah Yuk
Jujuk sejak kejadian itu," kata Eko.
Empat hari kemudian, Kamis (12/4/2012), rasa penasaran semakin
menghantui Eko. Kamis malam hasrat kembali memuncak. Ia pun
datang lagi ke rumah pasangan Supri-Jujuk, selepas maghrib.
"Tapi saat
saya tiba di rumah Mas Supri-Yuk Jujuk, keadaan rumah sepi. Saya SMS ke
Mas Supri, tanya mereka di mana. Dan dijawab melalui SMS, bahwa Mas Supri
bersama istri dan anaknya sedang ada di PT ( kantor kebun sawit). Saya
diminta menunggu karena kata Mas Supri, mereka akan segera pulang," kata
Eko seraya mengaku ia dan korban sama-sama orang Jawa Lampung yang merantau ke
Pulang Bangka untuk mengadu nasib.
Tak berapa lama Supri, Jujuk dan Puspita tiba di rumah mengendari sepeda
motor merek Jialing. "Saya kemudian disuruh masuk ke dalam rumah oleh
Mas Supri. Namun tak berapa lama, Mas Supri kembali lagi ke PT karena
kue bolu dan kopi tertinggal di PT. Saya pun menungu di dalam rumah
bersama istri Mas Supri, yaitu Jujuk dan anaknya, Pipit," kenang Eko
mengaku datang ke rumah Supri berjalan kaki dengan menenteng sebilah
parang pendek dari camp TI.
Baru beberapa saat setelah kepergian Supri, Eko pun beraksi. Ia mulai
merayu Jujuk untuk mengulangi perbuatan terlarang yang pernah mereka lakukan
empat hari silam. "Namun Yuk Jujuk menolak karena takut ketahuan Mas
Supri, yang sebentar lagi akan pulang ke rumah. Dan ternyata memang tak
berapa lama, Mas Supri datang lagi," kata Eko mengaku kesal karena tak
berhasil menyalurkan hasratnya terhadap Jujuk ketika itu.
Sejak itu rayuan setan semakin menari-nari di benak Eko. Keinginan Eko untuk
memiliki Jujuk seutuhnya semakin bulat. Ia pun pamit kepada Supri dan
Jujuk dengan alasan khawatir peralatan TI milik milik majikannya hilang.
"Saya minta diantarkan oleh Mas Supri dengan sepeda motornya. Mas Supri
sempat mengambil parang panjang untuk jaga diri di perjalanan saat
mengantar saya. Mas Supri suruh saya pegang parangnya, karena posisi
saya duduk di boncengan," kata Eko seraya mengatakan saat itu suasana
malam agak gelap, ia menenteng sebilah parang pendek miliknya dan
sebilah parang panjang milik Supri duduk di motor yang dikemudikan
korban.
Di perjalanan Eko tak banyak bicara. Yang ada di otaknya, hanya satu
segera menghabisi Supri agar bisa memiliki istrinya, Jujuk seutuhnya.
"Tak berapa lama saya dan Mas Supri tiba di kamp TI saya. Saya langsung
turun dari boncengan dan langsung menebas leher bagian belakang Mas
Supri dengan parangnya sendiri (parang korban), yang saya pegang sejak
di perjalanan. Mas Supri terkapar tak bergerak dalam keadaan leher
bersimbah darah, dan saya jongkok membalikkan tubuh sambil menyalakan
rokok. Tapi tiba-tiba Mas Supri bangkit dan memukul kepala saya," kata
Eko.
Mengetahui Supri masih hidup, Eko menyerang Supri membabi buta. Ia
bertubi-tubi menyerang ke arah Supri hingga menyebabkan jaringan tangan Supri putus akibat terkena sabetan parang. Supri pun kembali terjungkal bersimbah darah. "Lalu saya menuju sumur bekas
galian PC membersihkan tubuh saya dari noda darah. Saya ganti pakaian,
bermaksud kembali menemui Jujuk," kata Eko.
Namun apa yang terjadi ketika dandanan Eko telah rapi dan siap menemui
pujaan hati? Ia melihat tubuh Supri yang tadinya dalam kondisi telentang
menghadap langit, justru berubah posisi menjadi tengkurap mencium
tanah. Eko pun kembali melukai beberapa bagian tubuh korban. Bahkan dia mengaku sempat meminum darah Supri. Ia terobsesi minum darah
tersebut karena pernah melihat adegan serupa di film layar tancap
dengan sugesti untuk menghilangkan rasa takut.
Tidak berapa lama setelah itu, Eko sampai di rumah korban. "Saya
berbohong kepada Jujuk dengan cara mengatakan kalau suaminya (Supri)
langsung buru-buru pergi ke Tempilang. Saya juga bilang ke Jujuk, bahwa
Mas Supri berpesan agar saya menjaga Jujuk dan anaknya di rumah. Jujuk
pun percaya. Saya baring-baring di ruang TV, dengan posisi kepala di
paha Yuk Jujuk. Saya rayu Yuk Jujuk untuk berhubungan intim lagi dengan
bahasa isyarat 'Yuk bisa ndak kasihku semangat kerja lagi karena panas
dan hujan lebat'. Dan malam Jumat itu (Kamis malam) untuk yang ketiga
kalinya saya dan Jujuk melakukan hubungan intim di rumahnya," kata Eko.
Puas melepas nafsu, Eko dan Jujuk mengenakan pakaian masing-masing.
"Tapi rupanya, Jujuk salah ambil celana. Ia ambil celana saya, dan saat
itulah dia melihat ada bercak darah di celana saya. Dia tanya darah
siapa? Lalu saya jawab sejujurnya, bahwa saya telah membunuh suaminya,
Mas Supri. Yuk Jujuk marah kepada saya dan mengancam lapor polisi,"
kata Eko.
Eko merasa ketakutan dengan ancaman itu. Ia pun mengambil lampu minyak
dan memukulnya ke kepala Jujuk hingga perempuan itu pingsan. Eko semakin
kalap, lalu mengambil minyak dari mesin robin di rumah itu dan
menyiramkan ke lantai rumah serta seisi ruangan, setelah mengikat tubuh
Jujuk dan anaknya (Pipit sedang tertidur) dengan tali.
"Lalu saya lemparkan puntung api roko sehingga rumah terbakar dan api
mebakar Jujuk dan juga anaknya. Dari kejauhan saya masih sempat
mendengar Jujuk dan anaknya, Pipit memanggil-manggil nama saya," kenang
Eko mengaku terus berlalu meninggalkan tempat kejadian perkara (TKP)
untuk pulang lagi ke kamp TI-nya.
Namun setibanya di kamp TI, Eko melihat tubuh Supri masih saja bergerak-gerak. Ia pun kalap, dan untuk
ketiga kalinya melukai tubuh Supri dengan parang. "Suasana malam
itu gelap, lalu untuk penerangan saya bakar motor Mas Supri (korban)
agar ada cahaya. Lalu saya gali lubang sedalam satu meter, dan saya
gelindingkan tubuh Mas Supri masuk ke dalam lubang itu, dan saya
kuburkan. Keesokan harinya, saya ditangkap polisi," kenang Supri seraya
menyebutkan, malam itu ia sendirian di kamp TI tak bisa tidur hingga
pagi.
Saat ditangkap polisi, Eko mengaku tak bisa melarikan diri. "Saat polisi
datang, saya melihat di sekitar kamp TI seperti banyak orang-orang
berpakaian serbah putih seperti kyai. Langkah saya seperti tertahan,
saya tak bisa bergerak ke mana-mana. Sejak itu saya dikurung di sel
Polres Bangka," katanya.