Dulu Tarom Itu Perkampungan Kecil
Sekiranya wilayah areal perkebunan yang bernama Tarom Desa Kace Kecamatan Mendobarat tetap dipertahankan dengan rindangnya
BANGKAPOS.COM
,
BANGKA -- Jika wilayah areal perkebunan yang bernama Tarom Desa Kace
Kecamatan Mendobarat tetap dipertahankan dengan rindangnya kebun karet
dan lada, maka takkan pernah mengundang langkah almarhum Supriyono,
Jujuk dan anak semata wayang mereka datang dan bermukim di kawasan itu.
Namun setelah satu per satu lahan itu dijual oleh pemiliknya dan berubah
menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit dan sebagian menjadi lokasi
penambangan timah, telah mengundang para pendatang untuk mengadu nasib
di wilayah perbatasan Desa Kace dan Air Buluh Kecamatan Mendobarat.
Pun setelah wilayah itu 'padat' pendatang, kondisi kesederhanaan berubah
drastis. Tak ada lagi budaya 'nampel' ke rumah-rumah sebagaimana
dilakukan para petani yang bermukim kala itu.
"Semua tinggal kenangan, bahkan berubah tragis. Tarom berdarah," ungkap
Kepala Desa Kace, Sarbani, mengenang tragedi pembantaian korban
Supriyono pada April 2012 silam.
Sarbani yang ditemui bangkapos.com, Selasa (24/7/2012) mengungkapkan, era tahuan 60-an wilayah Tarom seperti perkampungan kecil.
"Paling tidak ada belasan KK yang berdomisili di situ, salah satunya
orangtua saya. Mereka hanya pulang ke kampung (Kace dan Air Buluh) bila
ada hajatan besar seperti lebaran saja," kenang Sarbani.
Namun pasca anjloknya harga lada, dan berubahnya pola kehidupan,
menyebabkan para petani 'melego' lahan-lahan mereka kepada investor,
baik perkebunan sawit maupun penambangan timah.
"Boleh dibilang hanya lahan orangtua saya yang sampai saat ini tetap
utuh. Sebagian besar lahan milik petani lainnya sudah dijual ke pihak
investor," ujar Sarbani.
Berawal dari pelepasan lahan dan dibangunnya jalan permanen menggunakan
dana stimulus pada tahun 2009, telah menyulap wilayah Tarom semakin
riuh.
Satu per satu investor membuka usaha perkebunan dan penambangan. Wilayah
Tarom pun lantas menjadi lahan 'basah' bagi pendatang baru yang ingin
mengadu nasib.
"Suasana kesederhanaan pun akhirnya berubah drastis, bahkan hingga
terjadi pembunuhan sadis. Sekira dulu lahan-lahan milik petani ini tetap
dipertahankan, tentu Tarom tak 'menggenang' darah korban pembunuhan
sadis itu," papar Sarbani yang mengaku lahir di areal perkebunan yang
bernama Tarom ini.
Nasi sudah menjadi bubur, darah sudah terlanjur tertumpah. Selaku Kades,
kini Sarbani dan perangkatnya mulai merintis tugas baru, mengawasi dan
mendata para pendatang di bekas perkampungan kecil itu.