Minggu, 14 Juni 2026

Dulu Tarom Itu Perkampungan Kecil

Sekiranya wilayah areal perkebunan yang bernama Tarom Desa Kace Kecamatan Mendobarat tetap dipertahankan dengan rindangnya

Tayang:
Editor: suhendri
Laporan Wartawan Bangka Pos, Ichsan Mokoginta Dasin

BANGKAPOS.COM , BANGKA --  Jika wilayah areal perkebunan yang bernama Tarom Desa Kace Kecamatan Mendobarat tetap dipertahankan dengan rindangnya kebun karet dan lada, maka takkan pernah mengundang langkah almarhum Supriyono, Jujuk dan anak semata wayang mereka  datang dan bermukim di kawasan itu.

Namun setelah satu per satu lahan itu dijual oleh pemiliknya dan berubah menjadi hamparan perkebunan kelapa sawit dan sebagian menjadi lokasi penambangan timah, telah mengundang para pendatang untuk mengadu nasib di wilayah perbatasan Desa Kace dan Air Buluh Kecamatan Mendobarat.

Pun setelah wilayah itu 'padat' pendatang, kondisi kesederhanaan berubah drastis. Tak ada lagi budaya 'nampel' ke rumah-rumah sebagaimana dilakukan para petani yang bermukim kala itu.

"Semua tinggal kenangan, bahkan berubah tragis. Tarom berdarah," ungkap Kepala Desa Kace, Sarbani, mengenang tragedi pembantaian korban Supriyono pada  April 2012 silam.

Sarbani yang ditemui bangkapos.com, Selasa (24/7/2012) mengungkapkan, era tahuan 60-an wilayah Tarom seperti perkampungan kecil.

"Paling tidak ada belasan KK yang berdomisili di situ, salah satunya orangtua saya. Mereka hanya pulang ke kampung (Kace dan Air Buluh) bila ada hajatan besar seperti lebaran saja," kenang Sarbani.

Namun pasca anjloknya harga lada, dan berubahnya pola kehidupan, menyebabkan para petani 'melego' lahan-lahan mereka kepada investor, baik perkebunan sawit maupun penambangan timah.

"Boleh dibilang hanya lahan orangtua saya yang sampai saat ini tetap utuh. Sebagian besar lahan milik petani lainnya sudah dijual ke pihak investor," ujar Sarbani.

Berawal dari pelepasan lahan dan dibangunnya jalan permanen menggunakan dana stimulus pada tahun 2009, telah menyulap wilayah Tarom semakin riuh.

Satu per satu investor membuka usaha perkebunan dan penambangan. Wilayah Tarom pun lantas menjadi lahan 'basah' bagi pendatang baru yang ingin mengadu nasib.

"Suasana kesederhanaan pun akhirnya berubah drastis, bahkan hingga terjadi pembunuhan sadis. Sekira dulu lahan-lahan milik petani ini tetap dipertahankan, tentu Tarom tak 'menggenang' darah korban pembunuhan sadis itu," papar Sarbani yang mengaku lahir di areal perkebunan yang bernama Tarom ini.

Nasi sudah menjadi bubur, darah sudah terlanjur tertumpah. Selaku Kades, kini Sarbani dan perangkatnya mulai merintis tugas baru, mengawasi dan mendata para pendatang di bekas perkampungan kecil itu.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
Live
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
VS
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved