Jumat, 24 April 2026

Ini Bukti Fashion Indonesia Siap Mendunia Saingi Prancis

Usai sudah perhelatan Jakarta Fashion Week 2013. Lebih dari 170 desainer, baik lokal maupun internasional, memamerkan karya-karya mereka

zoom-inlihat foto Ini Bukti Fashion Indonesia Siap Mendunia Saingi Prancis
Dokumentasi Panitia Jakarta Fashion Week 2013
Lebih dari 170 desainer, baik lokal maupun internasional, memamerkan karya-karya mereka di salah satu perhelatan terpenting dalam kalender mode Indonesia itu. diantaranya Busana Digital Printed karya (Ki-ka): Billy Tjong - Yosafat - Ari Seputra - Ghea Panggabean.

Laporan Wartawan Tribunnews, Daniel Ngantung

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Usai sudah perhelatan Jakarta Fashion Week 2013. Lebih dari 170 desainer, baik lokal maupun internasional, memamerkan karya-karya mereka di salah satu perhelatan terpenting dalam kalender mode Indonesia itu.

Tekstil tradisional dieksplorasi oleh para desainer Tanah Air, baik yang kelas junior maupun senior, menjadi busana-busana bercita rasa global. Ini memang sejalan dengan tema yang diusung JFW untuk tahun kelimanya ini yaitu "Indonesia Today, The World Tomorrow",

Ya, JFW kali ini ingin mewujudkan cita-cita lamanya untuk mengorbitkan talenta lokal ke pasar global. Hal tersebut direalisasikan dengan mengundang buyer internasional dari beberapa department store tersohor dunia, dan menyelenggarakan program Fashion Forward dimana desainer muda terpilih dipersiapkan oleh para pakar mode Internasional untuk go international.

Meski cuaca buruk sempat mengusik perhelatan bergengsi ini yang memaksa panitia untuk memindahkan lokasi (Acara di fashion tent, yang terletak di pelataran Plaza Senayan, dipindah ke dalam area mal) dan perpanjangan durasi (yang semula hanya sampai 9 November, menjadi 12 November), JFW tetap berlangsung dengan meriah.

Badai bukanlah lawan yang sepadan untuk menyurutkan semangat insan mode untuk memajukan industri mode Indonesia.

Kini saatnya melihat kembali kreasi-kreasi para desainer. Tren apa saja yang bakal mewarnai ranah mode Indonesia tahun depan, khususnya untuk koleksi Spring-Summer 2013.

Dekorasi Peplum

Menurut kamus mode Indonesia, peplum adalah  tambahan mirip rok pada pakaian wanita di pinggang, yang memberi kesan memperpanjang tubuh atas dan menciptakan bentuk agak mengembang seputar daerah pinggul.

Hampir seluruh desainer di JFW 2013 menampilkan busana berpeplum. Bentuk peplum yang dihadirkan para desainer cukup bervariasi.

Musa Widyatmodjo misalnya. Desainer senior ini menghadirkan sebuah terusan berhiaskan peplum yang bagian depannya tak menyambung satu sama lain.

Sementara itu, desainer muda Albert Yanuar, salah satu peserta Fashion Forward, menghadirkan peplum dengan teknik lipit asimetris pada beberapa busana dalam koleksinya yang terinspirasi oleh wayang.  

Peplum unik lainnya dihadirkan Didiet Maulana untuk koleksi terbaru lininya, IKAT. Didiet, yang kali ini bereksplorasi dengan kain tenun sengkang Makassar, menggunakan bahan sheer (bahan yang menerawang) sebagai peplum untuk menghiasi beberapa dress.

"Peplum menambah bentuk pada pinggang dan memberikan lekukan tubuh seperti jam pasir, bentuk tubuh yang sering didambakan banyak wanita. Jadi, dengan peplum sebetulnya dapat 'merayakan' bentuk tubuh wanita yang sebenarnya," ujar Ardistia Diwasri, salah satu desainer yang menampilkan koleksinya di JFW.

Ardistia, yang memulai bisnis fashion-nya di New York dengan mendirikan lini Ardistia New York, juga menambahkan busana berpeplum cocok digunakan oleh wanita berukuran tubuh apapun.

"Selama itu dipakai dengan sesuai. Misal, memadukannya dengan celana panjang skinny yang gelap dan sepatu bertumit super tinggi. Ini supaya peplum piece-nya membuat penampilan wanita itu terlihat proposional, bukan menciptakan volume di area pinggang," katanya.

Color Blocking

Busana-busana yang memiliki perpaduan warna-warna yang senada atau kontras juga diprediksikan akan menjadi tren mode tahun depan.  Major Minor,  BinHouse oleh Obin, dan Kromo oleh Auguste Soesastro, Lenny Agustin adalah beberapa lini busana dan desainer yang menampilkan busana dengan permainan warna unik ini.

Obin, desainer dan pemilik BINhouse, membuat blouse tak berlengan yang kedua sisinya memiliki dua warna berbeda dengan potongan asimetris.

Perpaduan tiga warna dihadirkan Auguste dalam dress bersiluet a-line.

Permainan warna yang sama juga dihadirkan Major Minor. Di antara koleksi terbarunya, terlihat sebuah blouse putih dipadukan dengan rok panjang berwarna kuning dan biru.

Tren Warna

Berbicara soal colorblocking tak lepas dari warna itu sendiri. Warna juga punya tren. Menurut Taruna K Kusmayadi, Ketua Asosiasi Perancang & Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), warna-warna seperti turqouise, blue marine, fuschia dan cokelat akan mendominasi ranah mode Indonesia tahun depan. "Tak lupa, mustard dan beige," kata dosen Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini.

Barli Asmara untuk May & June, Oscar Lawalata, Albert Yanuar, dan desainer busana muslim Monika Jupry adalah beberapa desainer yang telah mengeksplor warna-warna tersebut.

Busana Digital Printed

Teknologi memungkinkan para desainer untuk berkreasi melampaui batas. Dengan teknologi digital printing, para desainer dengan bebasnya berkreasi, membuat corak dan motif unik pada busana rancangan mereka. Corak bernuansa Indonesia ditampilkan Yosafat dan Ghea Panggabean. Yosafat, peserta Fashion Forward, menghadirkan busana-busana bersiluet modern dengan motif relief candi-candi. Adapun Ghea mengangkat motif wayang.

Motif bernuansa India diangkat oleh Ari Seputra. Gebrakan diberikan oleh Yosafat yang menghadirkan busana dengan motif hasil pindaian foto-foto yang dipotretnya. Beberapa gambar diambilnya ketika berkunjung ke Ubud, Jembatan Kebun Raya Bogor, dan Klenteng di Jakarta. Semuanya dituangkan dalam busana bersiluet modern dengan aksen volume.

Tak jarang, beberapa desainer juga memanfaatkan teknologi ini untuk mengangkat motif kain tradisional. Harga kainnya pun jadi lebih terjangkau karena dapat diproduksi masal. Timbul wacana kalau teknik tersebut dapat mengancam pendapatan para perajin lokal yang membuat dengan cara konvensional dan keaslian kain itu sendiri. Namun ketua Cita Tenun Indonesia (CTI), Okke Hatta Rajasa menegaskan hal tersebut bukan masalah asalkan para desainer memberi kredit dari mana kain itu berasal. "Wajar saja, kita hidup di zaman teknologi. Toh, ini juga bagian dari pelestarian budaya juga," katanya.

Lintas Budaya

"Tren tahun depan lebih condong kepada busana-busana yang bernuansa Afrika, Asia dan Eropa. Sebetulnya kita sudah melihat tren-tren ini sebelumnya. Tahun depan adalah pengulangan apa yang sudah terjadi," ujar desainer kondang Ghea  Panggabean.

Perpaduan nuansa budaya dari dua negara berbeda bisa terlihat pada koleksi Liliana Lim yang mengangkat tema Korea dengan menghadirkan busana-busana bersiluet Hanbok dalam palet warna emas, Era Sukamto dengan koleksi yang terinspirasi dari  kekuatan Ratu Hatshepsut dari Mesir, Ronald V. Gaghana yang memadukan budaya Maroko dan Cina untuk koleksi busana muslimnya (bisa terlihat pada pilihan warna terang dan corak naga-nagaannya).

Budaya Afrika juga menginspirasi desainer busana muslim yang tengah naik daun, Dian Pelangi. "The Safari Troops", begitu koleksi tersebut dinamai, menampilkan sederetan busana muslim bercorak etnik, dengan permainan detail batu-batu alam.

Jumpsuit

Jumpsuit, celana terusan yang menyatu dengan bagian badan atas, atau biasa disebut celana montir, juga cukup mendominasi beberapa koleksi desainer. Didiet Maulana menghadirkan jumpsuit berbahan tenun sengkang Makassar berbalutkan luaran bersiluet baju bodo, Barli menghadirkan jumpsuit bermotif floral yang feminin, Iwan Amir menampilkan jumpsuit berbahankan batik Belanda.

Cape & Poncho

Di JFW 2013, terlihat banyak desainer yang melengkapi busana-busana dengan luaran semacam cape dan poncho. Menurut Kamus Mode Indonesia, cape adala luaran yang longgar, tanpa lengan yang jatuh dari leher menutupi bahu.

Adapun poncho adalah penutup tubuh bersiluet bundar atau persegi panjang. Semuanya hadir dalam rupa yang unik. Ada yang bermotif, ada pula yang terbuat dari bahan sheer atau menerawang yang memberi sentuhan modern dan elegan.

Motif Garis & Floral

Motif garis dan floral sepertinya tidak akan lekang dimakan waktu meski motif ini sudah menjadi tren pada tahun-tahun sebelumnya. Melihat koleksi-koleksi yang ditampilkan beberapa desainer di JFW tahun ini, tampaknya motif garis dan floral tetap akan menjadi tren tahun depan.

Auguste Soesastro, Chossy Latu, Barli Asmara dan Itang Yunasz, Popo Rickxy adalah beberapa desainer yang mengangkat motif ini.

Motif yang sama juga terlihat pada beberapa koleksi desainer dunia untuk spring-summer 2013 yang ditampilkan di oekan mode di New York, Paris, Milan, dan London beberapa waktu lalu.

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved