Rabu, 20 Mei 2026

Untung Bisnis Ulat Hongkong Menggiurkan

Desa Oro-oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu menjadi salah satu pusat budidaya ulat Hongkong atau

Tayang:
Editor: edwardi
BANGKAPOS.COM, BATU --  Desa Oro-oro Ombo Kecamatan Batu Kota Batu menjadi salah satu pusat budidaya ulat Hongkong atau mealworm. Di desa ini setidaknya sudah ada 20 pembudidaya. Setiap pekan, mereka bisa menghasilkan 2-3 ton.

Setiap pembudidaya mempunyai pengepul sendiri-sendiri yang diambil setiap pekan. Oleh pengepul, ulat itu dipasarkan di Solo, Surabaya, Malang, Blitar, dan Tulungagung. Keuntungan dari bisnis ini pun cukup menggiurkan, apalagi jika harga per kg ulat sudah di atas Rp 20.000.

Salah satu pembudidaya itu adalah Suparman (47), warga Jl TVRI III Desa Oro-oro Ombo. Suparman adalah perintis budidaya ulat hongkong di Desa Oro-oro Ombo. Ia sudah menggeluti budidaya ini sejak  tahun 1997.

“Waktu pertama kali budidaya, saya dengan Pak Hariono. Modal saya Cuma beli ulat 5 kg. Sekarang sudah punya kurang lebih 1.000 kotak tempat budidaya ulat,” ungkap Suparman saat ditemui di rumahnya, Kamis (9/5/2013).

Suparman pernah mengenyam tingginya harga ulat Hongkong hingga mencapai Rp 34.000/kg. Sementara, pengeluaran untuk budidaya ini cukup murah. Ia mencontohkan, dalam sepekan, untuk menghidupi ulat di 1.000 kotak ukuran masing-masing 60 cm x 120 cm butuh 30-40 sak polar per pekan. Satu sak polar berisi 50 kg.  Tiap sak harganya sekitar Rp 150.000.

Untuk budidaya ini, ia dibantu empat tenaga kerja, dua perempuan dan dua laki-laki. Untuk upah empat pegawainya itu, per pekan Suparman mengluarkan uang kurang lebih Rp 600.000/pekan. Sedangkan panen membutuhkan waktu sepekan. Sekali panen bisa 3-4 kuintal.

“Harga jual memang tidak pasti. Kalau harga di atas Rp 20.000/kg, ya lumayan. Tapi kalau harga di bawah Rp 15.000 cukup untuk operasional,” ujar Suparman.

Budidaya ulat ini tidak terlalu sulit. Tapi butuh ketelatenan. Seperti yang dilakukan suparman saat merintis dulu. Ia beli 5 kg ulat lalu dibesarkan kurang lebih sampai empat bulan, baru panen dengan ukuran 3 cm.

Setiap tujuh hari sekali ulat ini bertelur. Lalu diganti polar lagi. Makanan ulat berupa polar dan sayur. Sayur itu berfungsi untuk minum, seperti kubis, sawi yang dihaluskan lalu dicampur polar. Tunggu tujuh hari sudah bisa panen.

Kesulitan budidaya ini, katanya, kalau polar telat bisa gagal panen atau panen bisa mundur. Sedangkan keuntungannya, bisa digarap di rumah. Tidak kepanasan dan tidak kemana-mana. “Bisa ibadah rutin. Dari budidaya ini, Alhamdulillah saya bisa beli rumah dan pekarangan seluas 300-an meter per segi,” pungkasnya

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved