Naluri Agama
AGAMA diturunkan Allah kepada manusia tentu saja untuk kebajikan yang luas dan menyejukkan.
Agar nurani agama mampu mendamaikan umat manusia, ia tidak harus ditampilkan sebagai perangkat doktrinatif-normatif dari Tuhan semata. Lebih dari itu, ia mesti dicitrakan sebagai tatanan religiusitas yang puitik. Sebab dengan kontruksi religiusitas yang puitik, agama akan sangat artikulatif.
Dengan konstruksi religiusitas yang puitik, agama tidak semata-mata akan mengurai Tuhan yang Agung dan Perkasa yang dikuatkan melalui norma-norma formalistik. Lebih maju dari itu, masih kata Moh. Iqbal, agama akan mencitrakan Tuhan sebagai Keindahan Abadi. Yakni, sumber, essensi, dan potret ideal dari segala sesuatu yang mendamaikan dan menggetarkan. (*)